Karan mondar mandir di kamarnya memikirkan apa strateginya untuk berjumpa dengan pengirim surat kaleng. Ia curiga kalau semuanya akan ada hubungan dengan Zalgrix tetapi ia masih belum yakin. “Mungkin aku berpura-pura lupa saja dan tidak harus muncul di sana. Orang tersebut bisa jadi mengirim surat berikutnya. Intinya, aku tidak usah langsung meladeninya. Aku juga bisa acuh saja seolah-olah amplop yang ia kirimkan tidak pernah aku terima dan baca,” lirih Karan pada dirinya sendiri. Keputusan sementaranya itu buat Karan bisa rebahan. Ia memejamkan matanya dan berharap bisa sekaligus terlelap sampai matahari pagi menjemput. Saat itu pukul sembilan malam. Karan benar tertidur dan terjaga beberapa jam kemudian. Ia melihat ke jam dinding, baru menunjukkan pukul setengah dua belas malam.

