Zalgrix menghancurkan kamarnya lagi pagi ini. Di tengah aroma alkohol yang menyengat di kediamannya itu, semua benda termasuk suvenir yang menghiasi kamarnya, tergeletak berantakan di sekelilingnya. Ada juga pecahan kaca tetapi lebih banyak keramik dan cairan yang tumpah di atas karpetnya. Tiga orang pengawal kepercayaannya saling memandang tidak tahu harus berbuat apa. Dalam keadaan seperti ini, bisanya mereka akan menunggu perintah dari Zalgrix. “Golzyver biadab. Kakak yang tidak adil. Dia menurunkan jabatanku dan mengurangi uang jatah bulananku.” Zal sedang berbaring di atas sofa kesayangannya sambil berteriak memaki kakaknya. Dia masih memegang satu botol minuman yang tersisa sedikit saja cairan di dalamnya. “Tuan bisa berbisnis untuk dapatkan lebih banyak uang,” seru salah sat

