Bab 11: Tamu Tak Diundang

1111 Kata
“Dalam kesendirian, dia datang menemani Mengganggu adalah tujuan utamanya.” *** “Calista, Mama sama Papa pagi ini mau pergi, kamu nggak apa-apa kan kami tinggal?” Tanya Arabella yang duduk di tepi tempat tidur, menatap Calista yang masih di dalam selimut dengan mata terpejam. “Pulang jam berapa?” Calista melontarkan pertanyaan dengan mata yang masih terpejam. Jujur, dia masih sangat mengantuk pagi ini, tetapi Arabella datang mengganggu jadwal tidurnya. Arabella menghela napas. “Mama nggak tahu pulang jam berapa. Jangan khawatir, Mama sudah masak, jadi kamu nggak akan kelaperan,” jawab Arabella. “Atau kamu mau mengundang teman sekolahmu untuk bermain ke rumah juga nggak apa-apa asalkan jangan berbuat macem-macem,” imbuh Arabella yang dimaksud adalah Agam. “Hmmm ….” Hanya gumaman yang Calista pilih sebagai jawaban. “Yaudah, Kami pergi dulu. Hati-hati di rumah, kalau ada apa-apa langusng hubungi Mama. Ngerti kamu?” Arabella melihat Calista mengangguk dengan mata terpejam. Kemudian, ia melangkah pergi meninggakan Calista yang masih setengah sadar. Pintu tertutup kembali, Calista menyibakkan selimut yang menggulung tubuhnya. Ia mengusap mata dengan kepalan tangan, diliriknya jam yang menempel di dinding kamar. Calista menghela napas. “Masih jam setengah delapan ternyata,” ucapnya kemudian bergegas ke kamar mandi untuk gosok gigi dan cuci muka sebelum mengganggu Haris di kamar. *** Tok …  tok …  tok …. Calista mengetuk pintu kamar Haris, ia membuka pintu setelah Haris memperbolehkannya masuk. "Ada apa, Cals?" tanya Haris yang berdiri di depan cermin sambil merapikan rambutnya dengan gel bermerek yang biasa digunakan. "Nggak apa-apa, Kakak mau ke mana?" ia menelengkan kepalanya, menatap Haris dengan heran karena tumben sekali pagi-pagi Haris sudah berpakaian rapi. Haris menjawab keheranan Calista yang melihatnya berbeda dari biasanya, "Kakak hari ini ada jadwal praktik, Cals." Menoleh sejenak ke Calista dan kembali menyentuh rambutnya untuk membuat sebuah jambul. Calista mengangguk paham, ia beranjak duduk di tepi ranjang Haris, menatapnya sambil bersenandung kecil dan mengayun-ngayunkan kakinya like a child. Tiba-tiba Calista merasakan menendang sesuatu di kolong tempat tidur Haris. Calista penasaran ia pun turun dari tempat tidur Haris. "Cals, kenapa?" tanya Haris saat melihat Calista berlutut di sebelah tempat tidurnya. Namun, Calista mengabaikan Haris, ia menundukan kepalanya untuk melihat apa yang baru saja ditendangnya dia mengernyit heran saat benda yang tak asing di penglihatannya ketika melihat bawah tempat tidur Haris. "Kak, kok si Klarybel ada di sini?" tanya Calista kepada Haris sambil menunjukan benda yang baru saja diambilnya dari kolong tempat tidur Haris. "Eh? Itu kamu menemukan di mana? Kaka juga nggak tau, kenapa boneka itu ada di sini," jawab Haris sambil menaikan sebelah alisnya. Dirinya benar-benar heran. "Tadi aku menemukannya di kolong tempat tidur Kak Hars," jawab Calista dengan tidak yakin. Padahal, memang itu kenyataannya. Aneh, bukannya semalam Klarybel aku letakan di lemari? Tapi, kenapa bisa sampai ke sini? Bahkan, Kak Haris nggak tahu,  pikir Calista.  “Kok bisa ada di sini, ya?” Calista menatap Kakaknya meminta jawaban. Haris mengedikkan bahunya acuh tak acuh. “Mungkin ada orang iseng aja kali, Cals. Udahlah jangan dibawa parno gitu,” jawab Haris berusaha berpikir positif.   Calista mengangguk ragu, dipeluknya Klarybel dengan erat. “Kak Hars nanti pulang jam berapa? Mama sama Papa pergi tapi nggak tahu pulang jam berapa, aku sendirian di rumah.” Calista menatap Haris sedih. Derita menjadi anak bungsu. Haris mengelus puncak kepala Calista sembari tersenyum. “Doakan saja supaya praktik Kakak berjalan lancar, selesai praktik Kakak segera pulang,” ucap Haris lembut namun tegas. Calista menganggukan kepalanya tanpa menyahut ucapan Haris. “Yaudah, Kakak pergi dulu. Kalau kamu nanti keluar, jangan lupa tutup pintu kamar Kakak, ya!” titahnya dan berlalu meninggalkan Calista yang setia duduk di tepi tempat tidur. Calista menghela napas, dia merasakan kesepian karena tidak ada yang menemaninya. Ya, walaupun Calista jarang berkumpul dengan keluarganya, tetapi tetap saja dia merasakan seperti ada yang kurang kalau ditinggal pergi. *** Calista duduk di sofa ruang tamu dan menghubungi Agam melalui sebuah aplikasi yang logonya berwarna hijau.   Calista: Agam, gimana keadaan rumah lo? Apa udah membaik? Agam: Udah, Cals berkat bantuan kakak kelas yang pernah gue ceritakan ke lo. Calista: Oh, syukurlah. Sekarang lagi di rumah? Agam: Iya, tapi nanti bokap gue ngajak pergi, sih. Kenapa?   Calista mengembuskan napasnya pasrah, tidak ada harapan untuk Agam menemaninya hari ini. Selama di rumah, akhirnya Calista memilih menghabiskan waktunya untuk menonton film yang berbau horor. Namun, saat Calista sedang asik menonton, ia mendengar suara gaduh yang mengusiknya dan suara tersebut berasal dari lantai dua. "Ck, ada apa lagi, sih!" Calista mendesis sambil beranjak menuju lantai dua. Calista kesal karena selalu saja ada yang menganggu dirinya saat menonton. "Kok sumber suaranya dari kamar aku, ya," gumam Calista bingung. Ia memperlambat langkahnya dengan ragu. Calista melangkah masuk ke dalam kamar, betapa kagetnya dia melihat kamar yang berantakan. Padahal, dirinya tidak pernah membuat kamar berantakan karena dia tidak menyukai kamar yang berantakan. Koleksi boneka yang tadinya berada di dalam lemari, kini berserakan di lantai dengan keadaan yang mencar-mencar, ada yang di bawah tempat tidur, depan kamar mandi, benar-benar menakjubkan. "Astaga! Ini ada apa, sih! Seharian ini aneh banget. Kenapa kamar aku jadi seperti kapal pecah!" jerit tertahan Calista sambil mengusap mukanya gusar. Dirinya benar-benar kesal sekaligus geregetan dengan apa yang terjadi. Calista yang memang sangat kesal, akhirnya memilih untuk meninggalkan kamar begitu saja tanpa menutup pintu kamarnya. Namun sesuatu terjadi saat ia menuruni tangga, tiba-tiba saja pintu kamar tersebut tertutup dengan kencang. Braaaak …. Perempuan itu terlonjak kaget ketika mendengar gebrakan pintu. Calista menghela napasnya dengan kasar, ia menoleh ke belakang, lebih tepatnya pada ujung tangga. Ia memincingkan mata mempertajam penglihatannya. Namun, tidak terdengar suara apa pun lagi. Ia memalingkan wajah dan kembali berjalan menuju ruang tamu. Calista mengempaskan bokongnya di sofa panjang depan televisi. “Ganggu terus, ih! Iya, iya, aku tau kalian merasa terpanggil karena aku menonton kembaran kalian,” gerutu Calista dengan kesal dan asal berucap saja. Ketika Calista ingin merebahkan tubuh di sofa, pergerakannya terhenti saat melihat sosok perempuan dengan aura negatif yang terasa sekali dan wajah tertutupi oleh rambut, sosok itu sedang  duduk di sofa single yang berada sedikit menyerong di kanan. Hihihi …. Suara kuntilanak yang berasal dari televisi menambah meremangnya bulu kuduk Calista, kepalanya berdenyut sakit. Film horror yang ditonton oleh Calista membuat suasana semakin terasa mencekam. Kali ini, dia merasa salah memilih film untuk menemani kesunyiannya. “Si-siapa kamu?” Calista bersuara dengan ketakutan yang kentara jelas. Sosok perempuan itu hanya terdiam. Lalu, sosok tersebut berdiri dan bergerak menuju lantai dua, bagaikan terhipnotis olehnya pandangan Calista terus mengikuti arah sosok tersebut. Hingga menghilang dari pandangannya, Calista menarik napas dalam-dalam mencoba mengaturnya. “Persetan emang si setan!” ucapnya dengan napas yang tersengal-sengal, digantinya channel televisi dengan kesal sekaligus ketakutan.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN