Mama tertegun setelah aku selesai bercerita. Tidak ada tanggapan apa pun selain menatapku lurus-lurus tanpa berkedip. Kemudian terdengar wanita itu menarik napas panjang lalu mengembuskannya secara perlahan seolah sedang mengatur napasnya. “Noni belanda bernama Janice itu masih saja mengganggu kamu, Mon,” komentar Mama setelah tercipta jeda beberapa lama. “Mama tahu soal Janice? Dia siapa, Ma? Kenapa Mama bilang masih saja menggangguku?” tanyaku tidak mengerti. “Menurut cerita kamu dulu sosok Janice mulai muncul setelah kamu mengambil bunga kembang kertas di sebuah panti jompo. Sejak itu hal-hal nggak menyenangkan dan mengerikan satu persatu mulai menghantui kehidupan nyaman kamu. Dimulai dari tangan kamu sakit seperti ditarik dan dipelintir sangat keras, diperiksa lewat medis nggak

