Flower-3

1430 Kata
Perempuan yang membeli barang daganganku kemarin datang lagi. Dia datang sambil mengenakan dress selutut motif floral yang dibelinya kemarin. Ternyata sangat pas di tubuhnya. Dia tampak cantik mengenakan dress tersebut. Kedatangannya kali ini bukan berniat untuk membeli baju seperti kemarin. Dia datang hendak menyerahkan tanah yang dijanjikannya kemarin. Tanah dari tujuh kuburan yang ada di tujuh penjuru mata angin untuk bunga-bunga dan tanamanku. Aku yang pada dasarnya mudah penasaran pada sesuatu hal dan percaya pada hal mistis, mau-mau saja mengikuti saran dari wanita asing tersebut. “Kita belum sempat berkenalan, ya, Mbak Monica?” ucapnya setelah duduk di kursi teras. “Oh, iya. Belum ya. Aku Monica. Mbak namanya siapa?” “Aku Nisrina. Aku boleh panggil Moni aja, nggak? Biar lebih akrab.” “Panggil Monica aja.” “Oh, oke. Kalau gitu panggil aku Rina.” Aku mengangguk setuju. Rina mulai membantuku untuk menaburkan tanah yang dibawanya ke atas permukaan tanah semua pot yang ada di tamanku. Dia memang tidak membawa banyak. Karena mendapatkannya pun susah. Jadi sekantong kresek ukuran medium aku rasa sudah cukup banyak kalau hanya untuk ditabur di atas permukaan saja. Terakhir Rina memintaku menanam sisa tanah dari tujuh kuburan tadi tepat di depan pintu masuk rumahku. Setelah selesai dengan aktivitas di taman aku mengajak Rina masuk rumah untuk menikmati teh dan camilan yang telah aku siapkan untuk kami berdua. Kami berdua langsung cocok padahal baru dua kali pertemuan. Bukan aku yang biasanya, sulit beradaptasi dengan orang baru. Rina orang yang ramah, enak diajak ngobrol dan juga dia merupakan pendengar yang baik. Dia tidak suka mendominasi obrolan. Tapi meskipun dia saja yang mengobrol dan bercerita tentang dirinya, tidak menjadi masalah besar buatku. Malah justru meringankan tugasku yang selalu kebingungan dalam mencari topik pembahasan bila sedang mengobrol dengan orang baru. Sayangnya Rina tidak bisa berlama-lama di rumahku. Sekitar pukul empat sore dia pamit pulang. Katanya masih ada kepentingan di tempat lain yang tidak bisa dia sampaikan padaku. Aku tidak mungkin menahannya lebih lama lagi di sini. Setelah menandaskan teh di cangkirnya Rina bangkit dari kursi teras. Aku mengantarnya sampai ke pintu pagar rumah. “Kalau ada waktu main-main ke sini, Rina,” ucapku sebelum mobil online yang dipesan Rina tancap gas. “Iya, nanti kalau ada waktu aku pasti mengunjungimu.” Aku melambaikan tangan hingga mobil online yang membawa Rina menghilangkan dari pandanganku di belokan menuju jalan raya. Saat aku kembali ke rumah tidak merasakan hal yang aneh terjadi di tamanku. Satu hal yang masih aku herankan hingga saat ini adalah pohon melati yang tumbuh dengan sangat subur. Seingatku pucuk bunganya tidak sebanyak sekarang ini. Namun sekarang pohonnya sudah dipenuhi oleh bunga melati yang mulai bermekaran. Aroma bunga melati yang menyengat mengganggu rongga penciumanku. Kepalaku bisa-bisa pusing hebat kalau masih bertahan di teras. Aku lalu bergegas masuk dan bersiap menyambut kedatangan Akhza dari kantor. Ketika sedang menonton acara berita petang di salah satu chanel televisi acara berita, terdengar deru suara mobil Akhza memasuki rumah. Aku melihat ke arah jam dinding. Sudah pukul enam. Dia pulang terlambat hari ini. Aku bergegas keluar untuk menyambut kedatangan suamiku itu. Ketika dia kembali dari menutup pagar rumah, dia mempercepat langkah sambil tersenyum ke arahku. Setelah berada di depanku Akhza memeluk pinggang serta mengecup bibirku. “Aku pulang,” katanya sambil mengangkat tubuhku lalu memutarnya sekali. “Astaga…Za. Aku kaget!” seruku ketika tubuhku terasa ringan saat terangkat ke udara. “Ternyata kamu lebih ringan dari perkiraanku,” ujar Akhza sambil menurunkan aku perlahan. “Bisa aja kamu ngeledeknya. Bilang aja kalau aku terlalu kurus,” omelku sambil pasang wajah cemberut. “Kalau aku terlalu berat kasihan kamunya pas aku lagi pengen woman on top.” Akhza tertawa lalu merangkul leherku sekaligus mengajakku masuk rumah. “Eh, udah lama juga kamu nggak woman on top, Yank,” balasnya sambil menunjukkan seringai nakalnya. “Malam ini, ya,” sambungnya. “Paling bisa nyambung-nyambungin omongan.” “Keahlianku yang lain itu, selain nyenengin kamu di ranjang.” “Ngomong gitu kayak aku nggak bisa nyenengin kamu juga di ranjang.” “Ya, nggak gitu, Sayang. Kamu ahlinya, kok,” rayunya sembari mengecup pipiku. “Kayak agak malem pulangnya?” tanyaku setelah kami berada di kamar. "Masih bantuin marketing closing-an sama calon nasabah," jawab Akhza. "Oh," responku santai. Aku duduk di ujung ranjang sambil menyaksikan aktivitas Akhza sedang melepas satu persatu pakaian kerjanya. Bukan, kami bukan hendak melakukan hal yang kami obrolkan saat masuk rumah tadi. Aku sedang menunggu pakaian kotor milik Akhza untuk kubawa ke belakang disatukan dengan kain kotor lainnya untuk dicuci besok subuh. Setelah Akhza tidak menyisakan satu helai pun di tubuhnya aku menyerahkan handuk untuk menutupi tubuhnya dan dia berjalan santai masuk kamar mandi setelah melingkarkan handuk tadi di pinggangnya. Aku memerhatikan tubuh Akhza yang kini sudah menghilang di balik pintu kamar mandi. Aku iri melihat tubuh suamiku yang tidak punya hubungan baik dengan lemak membandel di perut dan pinggang. “Mau langsung makan atau masih nanti?” tawarku sebelum meninggalkan kamar. “Boleh, deh, langsung makan. Lumayan lapar aku. Tadi nggak sempet makan siang gara-gara meeting dadakan,” omelnya dari dalam kamar mandi. “Oke, aku siapkan sekarang.” “Makasih, Yank,” ujar Akhza. Kemudian suaranya teredam oleh suara kucuran shower. Aku hanya menjawab, “iya.” Sebelum kemudian meninggalkan kamar pribadi kami. Di dapur aku mulai menyiapkan makan malam untuk Akhza. Hanya masakan sederhana ala rumahan saja. Aku tidak terlalu berbakat memasak. Kalau hanya sekadar masakan dengan bumbu masakan sederhana dan mudah didapatkan di pasar tradisional terdekat, aku bisa. Kalau masakan rumit ala-ala restoran mewah aku belum bisa. Apalagi yang harus menggunakan bumbu rumit dan lengkap. Angkat tangan aku. Ketika sedang menggoreng tempe tiba-tiba terdengar seperti sebuah benda berat jatuh di depan rumah. Aku sampai terkejut gara-gara suara itu. Rumahku ini tidak terlalu luas. Ukuran tanahnya tidak sampai 100 meter persegi. sementara yang digunakan untuk bangunan hanya sekitar tiga perempatnya saja. Jarak antara dapur dengan teras depan hanya sekitar 12 meter. Jadi bunyi sekeras barusan tentu saja bisa aku dengar. Apalagi ini terdengar begitu jelas. Aku bergegas mematikan kompor dan berlari menuju teras depan untuk mencari tahu apa yang terjadi di teras depan rumahku. Sepertinya Akhza masih ada di dalam kamar mandi dan tidak mendengar suara dentuman sesaat yang lalu. Makanya dia tidak keluar kamar. Kalau ikut mendengar dia pasti yang lebih dulu ke teras karena jarak antara kamar kami lebih dekat ke teras ketimbang jarak dapur dengan teras depan. Sesampainya di ruang tamu aku tidak langsung membuka pintunya. Aku menempelkan telinga di daun pintu untuk mencuri dengar apa yang terjadi di depan rumahku saat ini. Dari pendengaranku tidak terdengar suara apa pun saat ini. Hanya sesekali terdengar suara kendaraan bermotor yang melintas di jalan raya depan pagar rumah. Karena penasaran aku memutuskan membuka pintu secara hati-hati. Tiba-tiba ada yang menyentuh bahuku dari belakang saat pintu sudah terbuka selebar badanku. Aku memberanikan diri melihat ke arah bahu sebelah kananku yang sedang disentuh. Dari ekor mata aku bisa melihat ujung jemari yang tampak berwarna keabuan tanpa dilengkapi kuku pada jari-jarinya. Aku juga mencium bau tidak sedap di ujung hidungku. Dengan gigi gemeretak aku memberanikan diri semakin memutar leherku untuk memastikan siapa yang sedang menyentuh bahuku yang kini terasa seperti sedang ditekan. Aku menggigit bibir bawah untuk menahan diri agar tidak teriak ketakutan bila nanti mendapati hal aneh di pandanganku ketika menoleh. Dengan segenap keberanian dan membulatkan tekad aku terus memutar kepalaku. Tangan yang sedang berada di atas pundakku itu semakin terlihat jelas. Kulitnya tidak seperti kulit manusia pada umumnya. Tangannya berwarna biru keabuan dengan urat yang tampak jelas menjalar di atas punggung tangannya. Ya Tuhan makhluk apakah yang sedang berada di belakangku saat ini? Kakiku mulai gemetar ketakutan. Namun aku harus menoleh untuk memastikan makhluk apa yang sedang berada di belakangku. Semoga saja aku tidak kehilangan suara bila nanti makhluk yang aku lihat benar seperti yang ada di pikiranku saat ini. Aku menghitung dalam hati sambil memejamkan mata, “Satu, dua, tiga…” Tepat ketika hitungan ketiga aku berbalik badan sekaligus memberanikan diri membuka mata. Detik berikutnya aku berteriak histeris dan tidak berhenti setelah membuka kedua mata. Aku melihatnya. Jenis makhluk kasat mata yang sudah lama tidak muncul di depan mataku. “Moni! Moni!” Suara itu terus menggema di runguku. Tubuhku terasa diguncang hebat ketika aku berteriak histeris. “Monica sadar!” Suara itu lagi. “Ini aku Akhza, suami kamu.” Ya Tuhan, syukurlah Akhza datang untuk menyelamatkanku dari makhluk mengerikan itu. Sebelum pandanganku kabur bayangan terakhir yang hadir adalah bayangan wajah panik Akhza sedang menepuk kedua pipiku secara bergantian. Selanjutnya aku tidak tahu apa yang terjadi, karena detik itu juga aku kehilangan kesadaran. ~~~ ^vee^
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN