Dijodohin

1303 Kata
Mata Sandra langsung membelalak kaget hingga tergagap, "Fff.., fa Farel??" Bu Dira mengangguk dan tiba-tiba perhatiannya teralih ke arah lain, "nah itu dia. Farel kesini bentar!" ia memanggil sang anak yang memang tengah berjalan mendekat. "Kenalin Rel, ini ada Bu Sania dan Pak Indra." Bu Dira langsung mengenalkan orang tua Sandra pada anak laki-lakinya itu. Lelaki bernama Farel itu langsung tersenyum ramah dan bergerak cepat menyalami mereka satu persatu. "Kalau sama Pak Indra aku udah pernah ketemu kok, Ma. Benar kan, Pak?" ujar Farel melihat ke arah papanya Sandra. Papa Sandra mengangguk sambil menepuk pelan lengan Farel, "ya, kita pernah bertemu di suatu pertemuan bisnis. Saya masih ingat sekali ada seorang pebisnis muda dan tampan yang begitu cerdas." Farel terkekeh sambil geleng kepala, "pujian yang sangat berlebihan rasanya, Pak Indra." "Nah Rel, ini anaknya Pak Indra, namanya Sandra." Bu Dira lanjut memperkenalkan Sandra yang sejak tadi hanya diam dan ternyata sudah bergerak mundur bersembunyi dibalik mamanya. "Ouh begitu? Perkenalkan, Farel," Farel dengan cepat bergerak mendekat dan menjulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Sandra sambil dari tadi senyum tak luntur dari wajahnya. Dengan ragu secara mau tak mau Sandra balas menyambut jabat tangan Farel, "Sandra." "Tampaknya sudah lama sekali sampai kalian lupa satu sama lain. Tidak masalah, kalian bisa berkenalan kembali." ujar papa Sandra melihat sang anak dan Farel secara bergantian. "Kamu nggak ingat Rel kalau kamu udah pernah ketemu sama Sandra sebelumnya? Bukankah kalian pernah satu sekolah?" tanya Bu Dira pada putranya itu. Farel mengangkat alisnya, "benarkah? Ah mungkin sudah pernah kenal tapi lupa, tidak apa. Kami akan berteman kembali." lanjut Farel menjawab dengan enteng. *** "Oh iya Sandra, kamu nggak inget sama Farel sama sekali?" tanya Pak Indra pada Sandra saat sedang makan malam bersama. "Farel anak Bu Dira yang ketemu di kondangan tadi?" tanya Sandra melihat ke arah papanya itu. "Iya, kalian angkatan yang sama waktu SMA kan?" Sandra mengangguk kecil, "ingat kok." "Itu dia emang ganteng dari waktu zaman sekolah?" itu adalah pertanyaan sang mama yang penasaran. "Tau deh, lupa." "Tadi bilang inget, sekarang lupa, aneh banget." sela Gilang yang merupakan kakak laki-laki dari Sandra. "Ck, ga inget, intinya emang iya dulu pernah satu sekolah, tapi ga ingat apa-apa lagi," Sandra menjawab ogah-ogahan seolah malah membahas perihal Farel. "Mama nya Farel itu teman deket mama kamu, nah dulu mendiang papanya Farel juga sempat kenal sama papa." papa kembali bicara menjelaskan dengan tenang. "Oh." hanya itu respon dari Sandra yang memang tidak menaruh ketertarikan sama sekali pada pembahasan ini. "Semenjak papanya meninggal Farel yang lanjut jalanin bisnis papanya yang sempat mengalami guncangan kan, Pa?" mama mulai membahas lebih jauh perihal Farel. Papa mengangguk, "bisa dibilang berani anaknya, walau masih muda dia nekat turun langsung karena ga mau apa yang sudah papanya bangun hancur di tangan orang lain. Waktu Pak Bahni meninggal langsung banyak tuh yang berusaha ngambil keuntungan pribadi dari perusahaan itu karena belum ada dari pihak dari Pak Bahni yang bisa urus. Salut banget sama Farel." "Oh, jadi Farel maksud mama dan papa itu anak nya Pak Bahni Kaili?" Gilang yang sejak tadi menyimak mulai paham. "Iya Lang, kan anaknya sepantaran Sandra." Papa membenarkan. "Bagus deh perusahaannya ada yang nyelamatin, sayang banget Pak Bahni udah ngerintisnya susah payah." "Bu Dira juga bilang gitu, dia bersyukur banget dengan adanya Farel, semua bisa membaik lagi. Bener-bener waktu mendadak Pak Bahni meninggal keluarganya jadi langsung luntang-lantung ga tau mau gimana." lanjut mama selaku teman dekat dari mamanya Farel. "Emang Pak Bahni meninggal karena apa sih?" Gilang bertanya sambil juga coba mengingat. "Itu loh kecelakaan. Tapi katanya itu emang sengaja ada yang mau celakain. Tapi ya gitu deh, sampai sekarang belum jelas." papa menjawab dengan wajah miris. "Kasihan banget, tapi syukurnya mereka punya Farel." "Nah kita udah cerita banyak sama Bu Dira, dan kita sepakat buat jodohin Sandra sama Farel." Sandra yang sejak tadi sama sekali tidak tertarik dalam pembahasan Farel langsung tersedak hingga terbatuk-batuk mendengar penuturan terakhir mamanya. "APAA!?" Sandra langsung menunjukkan reaksi tak terima. "Yap, papa sama mama sepakat buat jodohin kamu sama Farel." "Lah!? Apa-apaan sih mendadak pakai acara jodoh-jodohan segala!? Nggak!! Aku nggak mau, apalagi sama Farel!" "Kenapa? Kenapa kamu nggak mau?" "Ya enggak lah, Ma. Mama tahu sendiri kan aku udah punya pacar. Ngapain sih seenaknya malah jodohin aku sama orang kagak jelas begitu!?" "Lebih ga jelas pacar kamu si Dika," timpal Gilang santai. "Eh lo jangan ikut-ikut ya!" "Sandra! Yang sopan ngomong sama mas kamu." mama memperingatkan dengan mata membelalak marah. "Ya aku nggak terima sama keputusan ini. Apaan sih kalian suka banget ngatur-ngatur aku?" Sandra terus menjawab karena memang ia tidak bisa terima saja semua keputusan ini. "Ya karena kamu kalau nggak diatur makin ngawur hidupnya. Pasangan itu hal yang paling krusial apalagi untuk seorang wanita. Kita nggak mau hidup kamu jadi kacau karena milih pasangan secara sembarangan." mama terus menjelaskan atau lebih tepatnya menekankan pada Sandra. "Siapa yang sembarangan? Cuma aku yang tahu mana yang bikin aku nyaman dan bahagia, mana yang enggak. Please jangan sok tahu banget tentang kehidupan aku." "Kalau gitu yaudah hidup saja sendiri." itu adalah jawaban papa yang langsung membuat semua yang berada di meja makan terdiam. Tentu saja yang paling terkejut adalah Sandra yang merupakan subjek tujuan ucapan sang kepala keluarga. "Lah kok papa jadi tega begini sih?" "Kamu bilang tega? Kamu kelihatan paling ga peduli sama hidup kamu Sandra. Kurang peduli apalagi kita sama kamu?" "Tapi pa..." "Kita udah turutin semua kemauan kamu, sekolah dimana aja yang kamu mau kita ikutin. Ga mau join perusahaan yaudah silahkan, mau bikin bisnis ini gagal coba lagi itu gagal, mau coba lagi, dikasih lagi izinnya, modalnya, jalannya segala macam, selalu kita ikutin kemauan kamu walaupun kamu nggak mau denger dan nurutin saran kita. Kita cuma larang kamu perihal Dika, terus kamu udah bilang kita ngatur semuanya? Coba deh kamu pikir, siapa disini yang keterlaluan? Kita yang disini atau diri kamu sendiri?" lanjut papa lagi panjang lebar yang berhasil membuat semua yang disana makin menutup rapat mulutnya karena kalau papa sudah bicara panjang lebar seperti ini artinya dia sudah jenuh. Sandra diam-diam menarik napas dalam, "oke, aku minta maaf tentang semuanya. Kalau masalah perihal kegagalan sebelumnya, aku udah berusaha kok, ya aku hanya sering sial aja. Tapi untuk perihal pasangan, aku bener-bener nggak bisa untuk nggak ngelawan, aku udah nyaman banget sama Dika, bahkan papa tahu kan kalau aku udah lama banget sama Dika yang artinya aku emang cocok sama dia." Sandra terus berusaha memperjuangkan prinsipnya. "Dan apa kamu tahu juga apa penyebab kamu selalu sial dan gagal selama ini? Itu juga karena laki-laki itu. Pasangan adalah salah satu kunci penting dalam berhasil atau enggaknya hidup seseorang. Apa kamu belum cukup dewasa untuk memahami itu?" Sandra mengepalkan tangannya dengan kuat dibawah meja sejak tadi karena masih belum bisa terima, "enggak, aku tetap nggak mau pisah sama Dika, apalagi harus sama Farel. Aku nggak mau!" "Nggak harus sama Farel, tapi kita harap kamu coba aja dulu sama Farel. Kamu harus coba buat buka mata kalau di dunia ini nggak cuma ada Dika," ini adalah ucapan mama yang coba untuk memberikan pemahaman pada putri bungsunya itu. "Dah lah capek, nggak bakalan ada juga yang mau dengerin aku." Sandra memutuskan untuk berdiri dan hendak pergi dari meja makan. "Sandra, nggak sopan pergi gitu aja, kita belum selesai," mama coba menahan. "Terserah kamu, mending kamu pikirin baik-baik. Kali ini papa mau tegas sama kamu, kalau kamu nggak mau coba deket sama Farel dan jauhi Dika, papa bakal tarik semua fasilitas yang selama ini kamu pakai termasuk tentang bantuan papa untuk usaha yang baru kamu bangun sekarang itu." papa akhirnya memberikan kesimpulan akhir yang mengejutkan. "Hah!? Lah kok gitu sih??" Sandra membelalak tak terima. "Buat apa papa selalu nolongin anak yang nggak mau dengerin orang tuanya dan juga ga peduli sama hidupnya sendiri? Dan ingat, ucapan papa ini bukan hanya gertakan semata, papa serius kali ini." "Sumpah papa jahat banget!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN