Ep. 07 : Ditinggal Sendirian

1050 Kata
Mata yang terpejam itu mengerjap, tangannya mengucek pelan mata. Sedikit-demi sedikit, mata itu terbuka, berusaha menyesuaikan indra penglihatannya dengan cahaya yang ada. Tangannya kini meraba-raba kasur di sampingnya. Kosong, dan dingin. Jiwanya yang masih berada di alam bawah sadar, langsung terkumpul. Matanya melotot sambil menatap kasur di sebelahnya. Kosong! Miguel mengubah posisinya menjadi duduk, dia masih t*******g, hanya terbungkus selimut. "s**l!" umpatnya, matanya menelisik ke sekitar ruangan hotel. Sepi dan senyap. Carel tak ada! Kamar mandi pun tidak terdengar suara gemerisik air, berarti Carelnya tidak ada di sana. Carel ini... benar-benar! Mata Miguel kini beralih pada pakaian yang berceceran. Dress Carel yang robek masih ada, tentu saja itu tidak akan dipakai! Lalu matanya mencari kaos miliknya. "s**l!" lagi-lagi Miguel mengumpat. Carel pergi mengenakan kaos miliknya di baluti lagi oleh coat milik gadis itu sendiri. Gadis? Ah, sepertinya Miguel tidak boleh memanggil itu lagi. Carel sudah tidak perawan sejak 7 jam yang lalu. Dan dia yang mengambil keperawanannya. Ekspresi Miguel yang tadinya kesal sekarang malah menyeringai. Senang karena dia yang mengambil keperawanan Carel, gadis yang membuatnya tertarik. "Dia... benar-benar unik!" Miguel mendesis, mengingat Carel yang berani mempermainkannya. Selama ini, tidak ada perempuan yang pernah mendominasi permainan selain dirinya. Miguel akan marah atau menghentikan permainan ketika perempuan lebih unggul dirinya. Tapi Carel...? Dia mendominasi. Bahkan, Miguel yang tak pernah mendesah saat b******a, justru bisa dan justru sering mendesah saat bersama Carel. "Argh!" Miguel memukul spray ranjang. Lelaki itu meraih ponsel di nakas, menelpon asistem kurang ajarnya. Melvin. Tak menunggu lama panggilan langsung diangkat pada dering pertama. "Hallo?" Suara serak di sebrang sana terdengar. "Orang gila mana yang menelepon di pagi buta seperti ini!" Suara Melvin kembali terdengar di saat Miguel akan berbicara. Melvin sepertinya masih tidur. Si kurang ajar ini... benar-benar minta dihajar! Bos nya menelepon malah di hina. Duh! "Heh!" Miguel berteriak keras, menyentak teleponnya. "Orang gila mana yang berteriak di pagi buta seperti ini," suara Melvin kembali menyahut. "Melvin!" Miguel menggeram. "Antarkan satu setel pakaian untukku ke Hotel xxx, lantai dasar nomer 203. Sekarang!" Setelah mengatakan itu, Miguel langsung menutup sambungan telepon secara sepihak. "Carel... aku akan mendapatkanmu, dan kau hanya akan menjadi milikku!" ••• Ceklek. Pintu terbuka sedikit, memunculkan kepala Segi. Segi mengintip kamar Carel, matanya menelisik orang yang sekarang terbungkus selimut. "Carel? Kau sudah bangun?" Tanyanya. Carel baru pulang satu jam yang lalu, dia cukup mengkhawatirkan Carel sebenarnya. Apalagi ketika pulang, Carel datang dengan wajah pucat. Baju bukan miliknya, dan berantakan. Tak ada jawaban. "Hmm, sepertinya masih tidur." Gumamnya pelan. "Baiklah. Sarapanmu ada di meja makan, sudah aku siapkan. Aku akan lari pagi, jaga dirimu baik-baik." Pesannya, semoga Carel mendengar. Segi langsung menutup pintu, dan keluar apartnya. Lari pagi, mencari udara segar. Setelaj memastikan tak ada suara Segi atau suara lainnya, mata Carel yang terpejam itu terbuka, menampilkan mata coklatnya yang memerah. Khas orang menangis. Air matanya menetes. "Lelaki b******k itu...," geramnya tertahan. Senakal-nakalnya Carel, dia harus menjaga keperawanannya. Carel bukan wanita suci, hanya saja, dia ingin keperawananya hanya untuk suaminya seorang. Tapi ini, gara-gara lelaki b******k tadi malam, dia dengan mudahnya mengambil keperawanan miliknya yang di idam-idamkan ribuan pria. Nakal, boleh. Bodoh, jangan. Oke, Carel nakal karena sering memainkan pria. b******u, berciuman dan hal-hal sensitif lainnya. Tapi dia tidak pernah sebodoh ini sebelumnya. Setan yang datang darimana tiba-tiba merasukinya? Carel menghela nafas, percuma. Menyesal tak ada gunanya. Lagipula, kenapa dia harus menyesal? Carel juga menikmati permainan pria itu. Sangat menyenangkan! Carel mengubah posisinya menjadi duduk, dia menggeliat, meregangkan ototnya. "Badanku sakit semua." Katanya sambil sedikit meringis. Apalagi di inti kewanitaannya, itu benar-benar perih. Tentu saja! Dia bermain lama dengan pria yang namanya saja Carel lupa, sedangkan si pria? Pria itu bahkan tahu namanya! "Kepalaku pusing." Carel berkata pelan, ia memijat pelan pelipisnya, berusaha meredakan pusingnya. Badannya juga, terasa sedikit hangat. Nafas yang keluar dari hidungnya, terasa sedikit panas. "Hanya karena s*x, aku sakit?" Carel berkata dengan nada tak percaya. Ini benar-benar lucu. "Hufft." Ia menghembuskan nafas pelan. Sekarang bukan waktunya untuk memikirkan hal konyol. Sekarang waktunya adalah tidur, tenang dan diam. Kembali, Carel merebahkan dirinya. Matanya menatap langit-langit kamar. Tiba-tiba dia teringat dengan tujuan utama dirinya kemari. Tapi bukannya bertemu dengan Clavetta, Carel malah kehilangan keperawanannya! Sudahlah, lebih baik dirinya tidur. Tubuhnya benar-benar minya istirahat. Lelah akibat aktivitas tadi malam yang terlalu lama, terlalu b*******h, terlalu banyak memakai energi dan tenaga. Bibirnya pun terasa kebas, mati rasa. ••• "Bos, besok peresmian cabang perusahaan. Pukul delapan pagi, acara sudah di mulai." Melvin melapor, Miguel mengangguk saja tanpa memandangnya. Matanya terlalu fokus pada iPad di tangannya. Layar iPad itu menampilkan tentang Carel. Buku-buku baik fiksi ataupun nonfiksi dengan Carel sebagai penulisnya. "Lalu, rupanya ada beberapa orang yang mengetahui kedatangan kita ke German. Sehari setelah kita di sini, ada 8 orang konsumen yang ingin melakukan transaksi." Mendengar itu, Miguel mendongkakan kepalanya menatap Melvin. Alisnya bertaut, "Kenapa banyak sekali?" Tanyanya heran. 8 orang yang ingin melakukan transaksi, bisa disebut banyak. Apalagi ini memintanya secara bersamaan. "Karena memang ada delapan orang." Melvin menjawab dengan santai. "Tidak boleh salah langkah. Cari tahu dulu identitas pembeli, tujuannya melakukan transaksi, dan hubungan di antara ke-delapan orang itu. Kita tidak boleh sampai kebobolan seperti kemarin lagi." Melvin mengangguk, mengiyakan perkataan Miguel. "Ya, Bos." "Oh, ya, kau punya kandidat orang untuk menggantikan posisimu tidak?" Tanya Miguel. Alis Melvin bertaut, apa katanya? Menggantikan posisimu? Jadi akan ada orang yang menjadi asisten baru Miguel? Mengerti dengan perkataan Miguel, Melvin menyeringai kecil. "Tidak ada. Kalaupun ada, aku akan lebih dulu membunuh mereka." Katanya santai. Miguel terkekeh kecil. Lihat, sekarang siapa yang tidak mau keluar? Si asisten kurang ajar, atau Bos tidak tahu diri? "Melvin, aku curiga kau menyukaiku." Ujar Miguel dengan percaya dirinya. Mata Melvin melotot tak percaya. "Apa-apaan! Pria jelek sepertimu untuk apa di sukai. Menatap wajahmu saja membuatku ingin membunuhmu!" Seru Melvin keras. Miguel terkekeh, kepalanya mengangguk-ngangguk. "Ya, ya, ya. Terserah apa katamu." Carel, Miguel teringat Carel. "Cari tahu alamat Carel tinggal di sini, siang atau sore nanti, kau harus sudah menyerahkannya kepadaku." Titah Miguel. Melvin memutar bola matanya. "Si adik lagi." Katanya sinis. Miguel menatap Melvin heran. "Hei, kau tak boleh seperti itu. Dia itu calon istriku, otomatis dia akan menjadi calon majikanmu." Kata Miguel, jeda sejenak. "Lagipula, kenapa kau sinis seperti itu? Kau cemburu, eh?" "MANA ADA!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN