Berdamai

1185 Kata

Aku menatap suamiku seraya berkata, “Menurut Mas Haikal sendiri, bagaimana enaknya?” Suamiku tertawa geli sambil mencolek pipiku yang kini lebih berisi, efek dari kehamilan sebelumnya. “Memangnya makanan, enak. Aku tanya kamu karena kamu yang mengalaminya, Sayang. Kalau kamu tanya aku, pasti jawabannya aku mau Ridwan dihukum karena perbuatannya itu membuat kamu kesakitan. Hana sekarang belum bisa kamu gendong karena masih berada di inkubator.” “Tapi, dia nggak sengaja lho, Mas. Beda seperti Melvin dulu yang memang ingin menghabisi kamu,” sahutku yang tiba-tiba merasa iba juga pada Ridwan, karena aku tahu pasti kalau aku terjatuh bukan Ridwan sengaja mendorongku. “Terus mau kamu bagaimana? Memaafkan dia?” tanya suamiku memastikan. Aku mengangguk lemah. “Sepertinya begitu, Mas. Nggak ba

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN