Aksi pertama yang aku lakukan adalah dengan menyebutkan diri ini sebagai calon istri Mas Ridwan. Tak salah, iya kan? Aku memang calon istri dokter spesialis THT yang sedang terbaring tak berdaya, karena musibah yang menimpanya. Kedua keluarga sudah setuju, dan aku sudah menyerahkan diriku padanya. Apa lagi coba yang kurang untuk mengukuhkan diri ini sebagai calon istrinya? Aku mengulum senyum kala kedua wanita itu terkejut, terutama si wanita yang tak hamil. Benar dugaanku, kalau ada sesuatu di antara dia dan Mas Ridwan. Aku melirik Mas Ridwan, yang berdecak pelan kala aku memperkenalkan diri ini sebagai calon istrinya. Jangan kamu anggap remeh aku ya, Mas. Aku tak mau pengorbananku sia-sia. Aku dan kamu harus menikah! “Kalau begitu, kami tunggu undangannya nanti, ya,” sahut si wanita ha

