Aku tersentak mendengar suara Mira yang cukup lantang. Apalagi dia mulai menangis lagi sambil memukuli bahuku. “Kamu tega sekali sih, Mas. Di depanku ini kamu sanggup mengucapkan nama perempuan itu. Kamu jahat! Kalau kamu sudah memutuskan untuk menikahi aku, lupakan dia dong. Aku nggak mau ada nama perempuan lain di hati kamu. Nggak enak tahu, Mas, kalau hati kamu ini berisi dua orang perempuan. Sesak rasanya. Bayangkan saja kalau ruangan yang harusnya nyaman diisi oleh dua orang, tapi ternyata ada satu orang lagi yang ikut menempati ruangan itu. Sempit kan rasanya ruangan itu kalau diisi oleh tiga orang sekaligus. Begitu juga dengan hati kamu,” ucap Mira yang membuat aku tertegun. Ternyata dia bisa juga memberikan perumpamaan hatiku dengan suatu ruangan. Ajaib memang si Mira ini. “Mir,

