Serangan Panik

1098 Kata

Aku tersentak ketika Ridwan tiba-tiba saja ada di sampingku. Dia rupanya berdiri dari posisinya duduk di atas karpet. “Ah, aku tersenyum pada sepupuku yang berjalan menuju gerbang bersama suaminya. Apa ada yang salah, Mas Ridwan?” elakku dengan menyunggingkan senyuman padanya. Aku melihat sorot tak percaya di mata Ridwan. Tiba-tiba dia berjalan keluar dengan tatapan ke arah gerbang. Memastikan kebenaran ucapanku. Aku yang melihat Siska masih berjalan ke arah sana, lantas panik. Khawatir kalau Ridwan akan nekat mengejar Siska ke sana. Tanpa pikir panjang, aku mencekal lengan Ridwan. Berusaha menahan pria itu agar tetap di dalam rumah. Setidaknya sampai Siska masuk ke dalam mobil Andi. “Lepaskan tanganku, Amanda! Kamu sengaja mencekal tanganku supaya aku nggak keluar, iya? Ternyata kamu s

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN