"Rachel Anastasya?" kata Satria datar dan membuat Rachel terkejut ketika atasan yang terbilang sangat kejam mengetahui nama lengkapnya.
Lentik indah matanya terbelalak kaget, bibir mungilnya yang merah sedikit bergetar dan menggigitnya dengan pelan.
Ia mencoba menahan kata-kata yang ingin terlontar dari mulutnya saat Satria bersiap mencecarnya.
Benar-benar keterlaluan! Haruskah aku terdiam membisu seperti ini ketika ada orang yang bernada kasar padaku? batin Rachel bertanya seraya mengembangkan senyum manisnya.
"Iya, Pak! Bisa saya bantu?" tanya Rachel.
"Siapa kamu sebenarnya?" tanya Satria duduk di kursi putarnya seraya menatap Rachel dari bawah sampai ke atas.
"Bukankah kamu terlahir dari orang yang berada?" tanya Satria yang membuat Rachel semakin bingung saat Satria mengetahui semua tentang dirinya.
"Kenapa dia tau tentang diriku? Apa dia tau tentang aku yang kabur dari rumah?" tebak Rachel dalam hati.
"Kenapa kamu diam? Apa nada bicara saya kurang jelas?" Pertanyaan Satria yang benar-benar membuat kesabaran Rachel habis.
Rachel menghela nafas panjang dan mencoba untuk selalu tersenyum menghadapi Satria.
"Maaf, Pak. Kalo boleh tau, Bapak tau tentang saya darimana?" tanya Rachel dengan hati-hati.
Senyum itu memudar ketika Satria menatapnya dengan sinis dan terlihat begitu jelas jika ia tak mau di beri pertanyaan.
"Apa saya harus menjawab pertanyaan yang tak penting itu?" tanya balik Satria yang membuat Rachel terdiam dan bingung untuk menjawabnya.
Orang ini! Andai saja dia bukan pemilik perusahaan ini, sudah pasti aku akan ....! Sabar Rachel sabar. Ingat! saat ini situasinya berbeda. Kamu bukan lagi orang yang dengan mudahnya menyuruh orang seperti waktu di rumah. Sekarang, kamu adalah seorang karyawan biasa yang harus tunduk pada atasan! gumam Rachel dalam hati.
Kedua tangan Rachel bergetar, jantungnya berdetak begitu kencang saat langkah kaki Satria mendekat ke arahnya.
"Maafkan saya, Pak! Saya tak bermaksud untuk ...," kata Rachel terpotong ketika Satria mengkodenya untuk diam.
"Kenapa kamu bekerja di perusahaan saya? Apa kamu seorang mata-mata yang ingin menghancurkan perusahaan saya?" cecar Satria mengelilingi tubuh Rachel yang terbilang sangat ideal.
Satria memejamkan mata akan aroma parfum yang melekat di tubuh Rachel.
Begitu memikat, hingga ia tak mau menjauh. Sejenak, Ia mendesah saat sadar akan dirinya yang terpesona dengan aroma Rachel.
"Maaf, Pak. Saya tak bisa memberitahu alasannya kepada Bapak. Tapi yang jelas, alasan saya bekerja di sini semata-mata untuk memenuhi kebutuhan hidup saya, Pak!" kata Rachel menjelaskan.
"Apakah saya harus mempercayai semua kata-kata kamu itu?"
Rachel geram, ingin rasanya ia memukul wajah Satria yang membuatnya kesal.
"Memang itu kenyataannya, Pak. Yang pasti, saya tak seperti dengan apa yang Bapak tuduhkan," bela Rachel dengan wajah yang terlihat begitu pasrah.
"Berikan satu alasan, agar saya percaya jika kamu orang baik-baik," kata Satria seraya menopangkan kedua tangan di d**a.
Entah kenapa, di dalam hati Satria ingin sekali tertawa lepas melihat kelucuan Rachel saat tak mampu menjawab pertanyaan darinya.
"Menggemaskan," gumam batin Satria menahan rasa kagumnya dengan ekspresi wajah cueknya.
"s**l! Alasan apa?" gumam batin Rachel berpikir seraya menatap Satria dengan meringis.
"Ayo!"
Rachel mulai mengatur nafasnya.
"Waktu saya ke kota ini, saya kecopetan, Pak. Dan saya tak mempunyai uang sama sekali untuk membeli makanan. Makanya, saya bekerja di perusahaan Bapak. Bapak ingat 'kan? Waktu di minimarket, saya tak mampu membayar semua belanjaan saya. Itu saya kecopetan, Pak. Jadi, saya mohon! Bapak jangan pecat saya, ya?" pinta Rachel memohon.
"Kecopetan? Ya Tuhan, aku tak bisa bayangkan saat dirinya tak memegang uang di kota yang bukan tempat tinggalnya. Tapi, alasan lain apa yang ia sembunyikan? Apa dia sedang patah hati dan kabur dari rumah? Ah, sudahlah. Ngapain juga, aku ingin tau masalah dia. Nggak penting banget!" kata batin Satria melirik Rachel.
"Pak?" tanya Rachel seraya menggoyangkan tangannya tepat di wajah tampan Satria.
"Apa?" ketus Satria.
"Bapak, tidak memecat saya 'kan?" tanya Rachel berharap.
"Pergilah! Dan, kembalilah bekerja!" seru Satria yang membuat Rachel tersenyum senang.
"Makasih, Pak!" kata Rachel berputar dengan gaya ala koreanya.
Kedua mata satria mengerling dan tak mengerti akan maksud karyawan anehnya itu.
"Ngapain kamu bergaya seperti itu?" tanya Satria mengernyitkan keningnya.
"Karena Bapak masih mengijinkan saya untuk bekerja di sini. Saya hanya bisa mengucapkan 'SARANGHEO', Pak!"kata Rachel menyatukan kedua tangan di atas kepala dengan senyum manisnya.
"Pergilah! Sebelum saya menarik kata-kata itu kembali," kata Satria datar.
"Siap, Pak!" gegas Rachel pergi dengan wajah yang sumringah.
Sejenak, Satria sedikit mengembangkan senyum yang tak pernah tertoreh selama ini.
"Sarangheo? Bisa-bisanya dia mengucapkan kata sensitif itu sebagai ucapan terimakasih. Dasar, cewek aneh!" gumam Satria kembali mengecek beberapa laporan yang menumpuk di meja kerjanya.
Semua staf kantor yang melihat Rachel keluar dari ruang atasannya, dengan cepat meninggalkan pekerjaan mereka dan memilih untuk bergunjing membicarakan Rachel dan Satria.
Hal yang membuat mereka terperangah dan terkejut ketika melihat seorang cleaning servis cantik yang berani masuk ke ruang pemilik perusahaan 'ANGKASA GROUP'.
"Ngapain cewek cleaning servis itu ke ruangannya pak boss? Bukankah, pak boss tak suka ada karyawan masuk ke ruangannya selain mbak Dinda?" gerutu Agnes penasaran.
"Iya, tapi cewek itu bawa nampan. Kemungkinan pak boss memesan sesuatu," sahut Leo.
"Biasanya kalo memesan makanan atau bikin kopi, pak boss nyuruh kita-kita dan mbak Dinda yang mengantarkannya," sela Retno yang tak terima jika Rachel mencoba untuk mendekati atasannya.
"Iya, aku setuju. Apa jangan-jangan, pak boss kena pelet ma tuh cewek?" kata Roy yang terkejut ketika semua temannya menepuk pundaknya secara serempak.
"Kenapa kalian memukulku?" teriak Roy yang melihat semua temannya bekerja kembali.
Semua temannya hanya memilih pergi daripada meladeni perkataan Roy. Jika di tanggapi pembicaraannya pasti menjurus tentang ilmu yang berbau mistis.
****
Dengan penuh semangat, Rachel bekerja dengan giat. Untuk pertama kalinya, ia menghampiri alat pel yang terdiam di pojok.
"Bagaimana caranya?" tanya Rachel berjongkok seraya memegang alat pel tersebut.
Hanum mengalami kontraksi dan di larikan ke rumah sakit. Rachel yang merupakan partner kerjanya, mau tak mau harus menggantikan pekerjaan hanum.
Kedua matanya mengerling, tangan kanannya menggaruk kepala yang tidak gatal seraya berpikir bagaimana cara mengepel lantai yang benar.
"Haruskah aku browsing dulu?" tanyanya berpikir.
"Hah, sangat memalukan! Tapi, tak ada salahnya aku browsing sebentar. Daripada aku melakukannya asal-asalan, nanti malah membahayakan orang lain," kata Rachel melakukan browsing lewat ponselnya.
Intan yang ingin mengajak sahabatnya untuk makan, dengan cepat menghampiri Rachel yang masih sibuk dengan pekerjaannya.
Dengan hati-hati, kedua mata Intan mengerling ketika melihat lantainya sangat basah.
"Chel, kenapa kamu mengepel lantai seperti ini?" tanya Intan berjalan pelan-pelan menghampiri sahabatnya yang tak mendengar apa yang ia bicarakan.
"Ya Tuhan, apa telinganya nggak capek. Jika tiap hari selalu di pasang earphone seperti itu. Jika pak boss tau, dia bekerja memakai earphone bisa di pecat, nih!" gerutu Intan melepas earphone yang menempel di kedua telinga sahabatnya itu.
"Intan, apa yang kamu lakukan!" ketus Rachel.
"Ada pak Satria, singkirkan earphone kamu!" kata Intan yang membuat Rachel dengan cepat menyembunyikan earphonenya.