Bab 4 Adam POV part 2

1104 Kata
Ku atur kata-kata terbaik untuk menyangkal bukti yang ada, sayangnya aku lupa jika istriku adalah wanita yang cerdas. Dengan tenangnya Ataya berkata tanpa memperlihatkan amarah sama sekali. Membuat nyaliku seperti di tantang semakin jauh tanpa persiapan apa pun. "Kenapa? Apa hadiahku kurang berkesan, Adam?" Tanya Ataya dengan dengan nada setenang air mengalir tanpa riak, apa lagi gelombang kuat. Aku semakin panik, apa lagi ibuku sama sekali tak memberikan pembelaan apa pun padaku. Padahal dia sudah tau perihal hubunganku dengan Dona selama kami kembali bersama. "Hadiah? Foto-foto tak bermakna ini maksudmu? Sepertinya kamu terlalu banyak menonton sinetron belakangan ini, Ataya. Kamu adalah wanita cerdas, apa kamu tak bisa berpikir lebih logis dan bijaksana? Bisa jadi ada seseorang yang sengaja mengeditnya, lalu membuatnya seolah-olah ini adalah aku. Lalu dengan mudahnya kamu menyimpulkan hal receh seperti ini untuk memojokkanku? Sungguh tak dapat aku percaya..." Sayang sekali , aku justru menampik tuduhan istriku dengan kalimat bernada tinggi. Pikiranku kalut, tubuhku lelah karena baru saja menghabiskan liburan melelahkan bersama Dona juga putraku selama beberapa hari. Dan kini aku harus menghadapi kenyataan pelik yang tak bisa aku hindari. Ataya yang aku kenal adalah wanita yang mudah memaafkan, hatinya selembut kapas. Jadi aku pikir, kali ini aku bisa memanfaatkan kelembutan istriku lagi dan lagi. Ternyata aku salah, Ataya menuntut penjelasan lebih tentang bukti yang ada di hadapan kami saat itu. Aku kelabakan. Bagaimana cara membuktikan jika itu bukan diriku. Jelas tato itu hanya aku yang memilikinya. Dan tentu saja istriku tau betul, karena dialah yang menemaniku ketika membuatnya di studio tato. "Satu minggu dan tidak ada negosiasi! Keputusanku harga mati, aku benci pengkhianat. Terlebih jika keduanya adalah orang yang sangat aku kenali." Kalimat Ataya layaknya bom waktu yang sengaja di stel untuk menindas mentalku. Wanita itu pergi begitu saja setelah melempar bom tersebut tepat ke dalam genggaman tanganku. Semudah itu, tanpa memberikan aku kesempatan untuk melakukan pembelaan diri. "Apa kamu sudah gila, hah! Bisa-bisanya kamu berselingkuh dengan Dona yang tidak ada apa-apa nya dengan istrimu. Apa otakmu sudah rusak!" Ocehan ibuku menambah pening di kepalaku. Aku melirik sekilas dengan tatapan kesal pada wanita yang sudah melahirkanku itu. "Berhenti memojokanku ma, mama hanya bisa menekanku agar pernikahan ini berjalan sesuai keinginan mama. Apa mama pernah memikirkan perasaanku selama ini? Aku menikahi Ataya atas desakan mama dan kondisi kesehatan papa. Mama begitu menginginkan menantu yang mampu menyenangkan hati dan ambisi mama. Lalu bagaimana dengan kebahagiaanku, ma? Pikirkanlah sedikit saja hati ku." Tanpa sadar aku meninggikan suaraku pada ibuku. Hal yang tak pernah aku lakukan selama hidupku. Aku sangat menghormati kedua orang tuaku dengan segala rasa hormat tak terbatas. Namun tekanan yang aku alami membuat aku lepas kontrol. Aku lelah terus mengatur kebohongan setiap waktu. Aku hanya ingin di dengar, bukan malah di pojokan semakin dalam. Dalam keputusasaanku, ibuku malah menambah beban pikiranku saja. Aku benar-benar frustasi dengan keadaanku saat ini. Aku belum siap kehilangan Ataya sekarang, apa lagi Dona tengah mengandung anak kedua kami. Aku ingin mengeruk lebih dalam kekayaan istriku itu. Aku tak ingin Dona dan anak-anak kami hidup pas-pasan. Dona sudah menegaskan jika dia tak ingin anak kami hidup seperti dirinya. Berada dalam kekurangan ekonomi, atau Dona akan mengugurkan anak kami. Aku tidak rela. Bagaimanapun yang di kandungnya adalah anakku. Mana mungkin aku tega melenyapkan darah dagingku sendiri hanya karena masalah ekonomi. Aku masih punya hati nurani, terlebih aku sangat mencintai Dona. Dan seminggu setelah kejadian itu, kini aku malah di hadapkan dengan pemandangan tak biasa. Untuk apa Ataya bertemu dengan Dona. Atau Dona kah yang meminta bertemu dengan Ataya? Mengingat jika Dona adalah wanita yang nekad dan penuh ambisi. Di lihat dari masamnya wajah Dona, aku yakin dia sekarang sedang terjebak oleh situasi yang ia ciptakan sendiri. Ataya yang cerdas tentu lebih mampu mengelola emosinya dengan baik. Ataya wanita terpelajar, wanita itu tau kapan harus bertindak atau cukup duduk diam menanti saat yang tepat. Aku duduk dengan gelisah, sesekali melirik ke arah meja keduanya, hingga akhirnya Dona pergi tergesa-tergesa membawa kemarahan yang tertahan. Aku sangat mengenali ekspresi wajah Dona saat apa yang dia inginkan tidak dia dapatkan. Begitu juga ketika dirinya kalah dalam sebuah adu argumen. Emosinya bisa meluap-luap tanpa terkendali. Aku sedikit berputar, dan menunduk. Kuangkat satu map lebih tinggi untuk menjadi tamengku. Tak mungkin aku membiar kan Dona melihatku di sini. Wanita itu pasti tak akan bisa menahan diri untuk tak mengadu padaku. Bisa kacau kerja sama yang baru aku mulai saat ini. Aku butuh tuan Dirga sebagai investor di perusahaan yang aku bangun. Dengan begitu, aku bisa melepaskan Ataya dengan mudah. Sudah seminggu melewati tenggang waktu yang di berikan oleh Ataya kepadaku, namun wanita itu belum meminta penjelasan soal foto-foto liburanku bersama Dona. Entah apakah wanita itu sudah menyerah atau tengah mengatur strategi lain untuk menjatuhkanku. Namun satu hal yang membuatku lega, selain mendapatkan tangkapan besar untuk menutrisi perusahaanku. Orang-orang yang terlibat dalam penggelapan dana perusahaan sudah aku pindahkan semua ke perusahaan baru. Jadi Ataya tidak akan mengetahui banyak tentang kondisi keuangan perusahaan, saat nanti dirinya aku ceraikan. Adam POV end POV author "Tuan Adam, apa anda baik-baik saja?" Adam tersentak kaget dan merasa tak enak hati telah membuat kliennya merasa terabaikan. Padahal mereka sudah selesai menyantap makan siang yang menjadi alibinya. "Ah, maafkan aku tuan Dirga. Aku terlalu banyak menimbang soal kerja sama kita. Aku begitu terkejut, saat asisten anda tiba-tiba menghubungi sekretarisku menyampaikan soal kerja sama ini. Aku sangat senang, terimakasih banyak sudah mau menjadi bagian dari perusahaan kecilku." Ucap Adam merendah. Dia ingin terlihat seperti seorang pengusaha yang rendah hati dan bijaksana. Tentu saja untuk mengambil hati pria di hadapannya itu. "Anda bisa saja tuan Adam. Saya tertarik dengan prospek perusahaan anda. Visi dan misi perusahaan kita pun tak jauh berbeda. Terutama founders agreement dan shareholders agreement, yang bisa di jadikan acuan dalam melakukan partnership dengan dampak resiko yang minimal." Adam semakin kagum dengan kecerdasan dan kesiagaan pria di hadapannya itu. Artinya kerja sama ini tidak boleh sampai cacat, dapat Adam lihat bagaimana kewaspadaan Dirga terhadap segala dampak kerja sama mereka dengan begitu teliti. Ia tak ingin gagal kali ini, terlebih hubungannya dengan Ataya semakin jelas tak akan terselamatkan. Semenjak seminggu ini pula, dia tidak pernah kembali ke rumah mereka. Dia mulai berpikir untuk belajar bersikap masa bodoh kepada istrinya, toh akan lebih mudah bagi Ataya untuk melepaskannya kelak, jika perpisahan itu benar-benar terjadi. Dan ia pun tak perlu terjebak oleh rasa bersalah, bila harus melihat wanita itu meratapi keretakan rumah tangga toxic mereka. Anggap saja dia pria paling jaha nam, namun memaksakan hati juga tidak akan mampu menyelamatkan pernikahan mereka yang sudah retak sejak lama. To be continue Semoga terhibur, tetap sehat dimana pun kalian berada. Penuh cinta untuk pembaca kesayangan akak Rose-Ana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN