Suara hentakan kaki yang teratur terdengar bersamaan. Temponya sedang, tak cepat, tak lambat. Barisan itu memiliki enam shaf, dan tiga baris ke belakang. Sementara mata memandangi lapangan, melihat anak-anak paskibra itu latihan, kaki ini terus melangkah. Sebuah kesalahan karena gue tak fokus pada jalan, menyebabkan seseorang yang sedang berdiri dalam diam di tengah koridor jadi tertabrak. "Astagfirullah!" Reflek kaki ini melangkah mundur setelah merasakan dentuman keras pada tubuh bagian samping seseorang. Sambil mengeratkan pelukan pada paper bag berisi buku, gue memegangi jidat yang terbentur sisi dagunya. "Sorry," kata gue. Lalu merutuki lelaki itu dalam hati. Kenapa juga berdiri di tengah jalan! Dia yang terkejut berhasil menahan tubuhnya tetap kokoh sehingga tak terdorong jauh

