1. Primadona Sekolah

1947 Kata
"Huekk!!" Ugh. Padahal dari rumah ke sekolah cuma memakan waktu sepuluh menit, tapi tetap saja buat gue memuntahkan sesuatu yang tadi pagi masuk ke lambung. Untungnya cuma ada gue di toilet ini, kalau saja ada orang lain, pasti malu banget. "s****n, nih, si Glen. Buat bedak gue luntur aja!" Dari toilet itu terdengar suara bel masuk berbunyi. Habis ngelap wajah yang penuh dengan air, gue langsung lari ke kelas sebelum Bu Ceri masuk. Bersyukur gue sampe kelas duluan, kalau saja Bu Ceri duluan yang masuk, bisa-bisa disuruh nyanyi di depan kelas. "Lo bersihin gak, tuh, bekasnya?" Glen cekikikan sambil berbisik di telinga kanan gue. Memang dasar kunyuk satu ini. Gak akan gue pulang bareng dia hari ini. Mending naik ojek, kalau perlu jalan kaki sekalian. Karena geram, gue cubit pinggulnya itu dengan cubitan kecil. Membuat dia teriak di saat kelas sedang hening-heningnya. Sontak seluruh mata tertuju ke arahnya. Bagaimana tidak, saat itu ketua kelas sedang menyiapkan untuk berdoa, terus tiba-tiba suara teriakan Glen merusak semuanya. Glen menutup mulutnya, sedangkan gue pura-pura nulis sambil menahan mulut yang bisa saja tertawa lepas sampai terbahak-bahak. Bu Ceri yang terkedjot mendengar suara teriakan Glen pun menatapnya penuh tawa, begitupun anak-anak yang lain. "Ada-ada aja," kata Bu Ceri. Ketua kelas kembali memimpin doa yang dilanjutkan memberi salam. Selama itu pula gue gak bisa nahan tawa. Gue ketawa sepuas-puasnya meskipun dengan suara tertahan. Glen hanya diam menahan malu dengan rasa jengkel. Waktu istirahat itu, gue bisa tertawa lepas sepuas-puasnya mengingat suara teriakan Glen, yang terdengar seperti tikus kejepit. Makanan di sini pun rasa nikmatnya kalah dengan nikmat tertawa. Sumpah, gue puas banget ngetawain dia. Anggap saja itu balas dendam karena dia bawa mobil hari ini. "Udah, sih, Nan. Busyet, dah, dari tadi gak puas-puas ngejeknya," kata Glen. Gue sudah berusaha buat menghentikan nikmat tertawa ini, tapi bayangan tentang kejadian itu masih terekam jelas dalam benak gue. "Semua siap, berdoa ... Aaakkh!!!" Gue tertawa tambah terbahak-bahak sambil meniru suara ketua kelas yang tadi sedang memimpin doa dan suara Glen yang teriak memotong ucapannya. "Sumpah, itu gokil banget! Hahahaha-- uhuk, uhuk! Uhuk!" "Nah, kan, kan, makanya! Minum, minum." Langsung saja gue teguk minum yang dikasih Glen. Tenggorokan gue sedikit lega dibuatnya. Sudah, cukup ketawanya. Takutnya mual muntah gue masih bersarang dan keluar tiba-tiba. Gue diam sejenak dan mengatur napas untuk menetralkan tubuh yang dari tadi tertawa. Tiba-tiba saja Glen nyuapin satu sendok nasi uduk ke mulut gue. "Dah, makan, ketawa mulu," katanya ketika gue mengunyah nasi uduk itu. Gue jadi inget kejadian kemarin, tentang pelukan hangatnya, dan rasa khawatirnya. Lebam di wajahnya itu sungguh mengingatkan sesuatu yang terjadi kemarin sore. Tunggu dulu, apa-apaan ini, buru-buru gue menggelengkan kepala dan menyadarkan diri dari lamunan gak masuk akal yang dipikirin otak beku ini. Masa iya gue jatuh cinta sama Glen. "Nih, aak, lagi." Sekali lagi, Glen nyuruh gue mangap dan menyuapkan satu sendok nasi uduk ke mulut. Anehnya lagi, kenapa gue mau. Sebelum gue tenggelam dalam kebucinan yang haqiqi. Gue pun menarik nasi uduk itu dan makan sendiri. "Sini, gue bisa makan sendiri." Glen terlihat kecewa, tapi raut kecewanya itu gak seperti yang gue pikirkan. Dia kecewa karena gak bisa lagi makan nasi uduk punya gue. Ternyata dari tadi nasi uduknya sudah habis, cuy. Jadi dia makan punya gue. "Yaah, gak bisa makan lagi," keluhnya. Gue baru sadar kalau piring Glen sudah kosong dan piring gue nasinya berkurang. "s**t! Jadi dari tadi lo makan punya gue!" "Hehehehe ...." "Arrhh!" Memang dasar mencari jitakan anak musang satu ini. Lima menit sebelum waktu istirahat selesai, gue sama Glen sudah selesai makan dan lagi jalan menuju kelas. Sepanjang koridor itu, kuping gue menangkap obrolan anak laki-laki yang lagi pada ngomongin cewek cantik. Gue rasa kebanyakan cowok di bumi ini menjadikan cewek cantik sebagai candu. Padahal semua cewek bisa jadi cantik dengan modal make up. "Cantik banget, gila! Lo aja belom liat." "Mantep, bro, body-nya. Hahaha." "Spik dulu aja kali, ya." Mendengar ucapan anak-anak itu, Glen lantas berbisik di telinga gue, "Percaya sama gue. Anak-anak itu pasti...," Glen menggantung ucapannya, "lagi gak ngomongin lo. Hahaha." Sumpah, gak lucu banget. Gue tatap mukanya dengan sinis dan tajam dari samping, tidak membalas ucapannya. Lalu seorang cewek cantik dengan body very very goals berjalan dengan anggunnya di koridor. Membuat setiap mata terfokus pada sosoknya, termasuk gue. Sumpah, gue akui dia memang cantik gile. "Masya Allah," kata Glen kagum. "Nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan," sambungnya. Gue lihat wajahnya itu dengan mimik yang mengatakan bahwa dia LEBAY. "Dasar laki-laki." Langsung saja gue tinggalin anak itu. "Eh, eh, Nan!" Glen menyejajarkan langkahnya. "Beneran cantik gile, cuy. Anak-anak itu gak boong." "Iya Glen, iya, gue doain supaya lo jadi pacarnya. Biar gak ngerusuhin gue mulu!" "Yaelah Nan, gitu amat. Walaupun gue jadi pacarnya juga, tetep aja lo yang gue rusuhin," katanya. "Gue kasih permen karet rambut lo, biar kusut," sambungnya dengan tawa cekikikan. Dasar permen karet. Buat gue jadi inget masa kecil yang memalukan. *** "Kinan!" Glen manggil gue, dan tentu saja dia ngajak untuk pulang bareng. Sementara gue gak mau pulang naik mobil Glen, mau dia sujud-sujud sekalipun gak akan gue naik lagi. Gue lari sekencang-kencangnya saat menyadari Glen satu langkah di belakang. Gak tahu lagi siapa saja yang gue tabrak-tabrakin sepanjang koridor, yang penting gak naik mobil. "Kinan! Kinan!! Kinan!!!" Gak nyangka ternyata Glen punya kekuatan super yang buat dia bisa ngalahin larian gue. Dia narik tas unyu-unyu yang gue pakai, membuat tubuh gue hampir terjungkal. Untung saja tas gue gak rusak dibuatnya. Langsung gue lepas tas dari punggung dan menggendongnya di depan perut. "Kinan stop!" Glen merentangkan tangannya buat ngejegat di tengah lapangan futsal. "Gue gak mau bareng lo. Gue mau naik ojek!" "No, no, no, no. Lo gak boleh naik ojek!" "Suka-suka gue, lah! Gue yang naik, bukan lo." "Udah, ayok pulang. Udah mau ujan." Tanpa ba-bi-bu-be-bo lagi, Glen merangkul leher gue dan menyeretnya ke tempat di mana mobilnya terparkir. Demi kerang ajaib! Gue diculik. Gue sudah teriak-teriak minta tolong sama teman sekelas yang lalu lalang, tapi gak ada yang peduli. Dikira mereka gue becanda kali, ya. Gue serius! Sepanjang perjalanan itu gue cuma bisa tutup mulut dan hidung sambil memejamkan mata. Berharap bisa cepat sampai rumah, atau berharap ada alat teleportasi yang bisa bawa gue langsung mendarat di kasur tercinta. Glen malah mengejek dengan kata-kata katrok-nya. Sumpah, ingin sekali rasanya gue tendang anak ini sampai tembus langit ketujuh. Dia ngajak gue bareng naik mobil cuma mau menghina diri yang katrok ini. Sesampainya di depan rumah, gue langsung turun dan berlari ke kamar mandi. Tak peduli lagi pada Glen, terserah dia mau ngatain apa. Yang penting gue bisa buang semua rasa mual yang mengganjal dalam perut. "Huekk!" Aduh, bisa-bisa mati gue kalau kayak begini terus. "Kamu abis naek mobil?" Suara emak di depan pintu toilet itu membuat gue mengangguk. Emak gue geleng-geleng. "Nandira-Nandira..., mau sampe kapan begitu terus? Minggu besok kita mau jalan-jalan, loh, ke Dufan." Gue cuma diem. Gue juga gak tahu mau sampai kapan kayak begini terus. Gue, tuh, juga gak mau jadi kayak gini, tapi memang begini adanya mau diapain lagi. Malam itu, gue coba cari artikel tentang kondisi yang memalukan ini. Yang gue pahami dari artikel-artikel itu selalu sama, yaitu minum obat. Minum obat memang sedikit membuat frekuensi mual berkurang, tapi tidak menutup kemungkinan kalau gue bakal muntah, entah sekali, dua kali, tiga kali, bahkan delapan kali jika perjalanannya jauh. Saat gue sedang fokus-fokusnya membaca artikel yang menyatakan kalau kondisi ini adalah sebuah penyakit, panggilan masuk dari Glen membuat layar HP gue penuh dengan wajah tengilnya. Berniat ingin protes, langsung gue jawab telepon itu dan siap untuk mengamuk. Namun, suara bahagia dan semangatnya itu membuat niat gue sirna. "Kinan!! Tau gak gue barusan VC-an sama siapaa!!?" "Sama Bu Ceri," gue jawab asal. Glen tertawa dari sebrang sana. "Bukan, gila aja. Gue barusan VC-an sama cewek cantik tadi. Ternyata dia anak pindahan dari Jakarta, namanya Gladis." "Terus?" "Yaelah, semangatin gue ngapa. Gue lagi seneng banget, nih." "Semangat Glen, semangat! Semoga cepet jadian biar gak jomblo lagi," kata gue dengan nada mengejek. "Gitu maksud lo? Apa perlu gue make baju anak cheers dan bawa rumbai-rumbai sambil joget-joget nyemangatin lo," kesal gue. Bukan karena cemburu, beneran bukan, tapi karena panggilan masuknya itu mengganggu fokus gue buat baca artikel. Dia tertawa lagi. "Yaudah pokoknya besok lo harus pake kayak gitu." "Ogah banget! Dah, lah, gue lagi baca sesuatu yang penting." "Baca apa? Tumben lo belajar." "Mana ada belajar. Dah, gue matiin. Bye." Tut. "Ganggu aja." Setelah baca artikel itu, jantung gue tiba-tiba saja deg-deg-an. Gue takut kalau sakit parah. Apa gue harus ke dokter? Nggak, nggak, ntar disuntik lagi. Gue matiin layar HP yang masih menampilkan artikel itu dan melemparnya ke samping kasur yang gue tidurin. "Pokoknya gue gak mau ke dokter." *** Pagi ini gak ada pesan dari Glen yang ngajak berangkat bareng. Oke, bagus, deh. Jam tujuh tepat gue sampai di sekolah, sudah ada tas Glen di samping bangku, tapi ke mana anaknya. Gue sempat celingak-celinguk nyariin anak itu di kelas. Mungkin dia di kantin. Namun, saat gue nongolin kepala di pintu kantin, suasananya sepi. Wajar, masih pagi. Gue menegakkan tubuh semula dan berjalan masuk kantin. Gue kasih selembar uang dua ribu ke Bang Jey, dan gue dapat es dugan. Gak tau juga kenapa gue nyari penyakit pagi-pagi buta gini. Terus, waktu nyedot es itu, gue ngeliat Glen lagi jalan sama cewek mau ke kantin. Buru-buru gue ngumpet di balik tembok. s****n emang anak itu, baru juga kenalan tadi malam, sudah dekat saja sekarang. Gue cuma jadi mata-mata dari tempat berjongkok. Menurut analisis gue, mereka sedang mengakrabkan diri. Cukup lama gue jongkok di sana, nungguin sampai mereka selesai. Sumpah, s**l banget, dah, gue nyumput di situ. Kalau keluar sebelum mereka pergi, bisa mati kutu. Mana bel masuk sudah bunyi lagi. "Sabar Nandira ... sabar." Gue cuma bisa menenangkan diri sendiri. Sampai akhirnya mereka pergi dari situ setelah lima menit bel berbunyi. Gue nyesel banget ngumpet di situ, sekarang gue kena imbasnya. Pak Guru masuk kelas tepat waktu, membuat Glen yang telat masuk pun dihukum berdiri di depan kelas. Gue yang baru sampai kelas setelah berlari-lari pun harus ikut merasakan hukuman itu. Serius, gue juga ngerasa kalau gue b**o banget. "Mampus ...." Gue bergumam sambil memegang kusen pintu kelas. "Nah, ini, nih, cocok emang. Sebangku tukang telat," kata Pak Guru. Gue cuma bisa meneguk air di mulut sambil memampus-mampuskan diri sendiri. Pak Guru juga nyuruh gue berdiri satu kaki dan menjewer telinga, persis seperti Glen. "Lo abis dari mana memangnya?" bisik Glen. "Sumpah, s**l banget gue pagi ini." Gue gak ngejawab pertanyaan Glen. Bisa mati membisu kalau dia tahu apa yang telah gue lakuin. Mematai-matainya dan ngumpet di balik tembok hingga harus ikut merasakan hukuman. Begonya, begonya, begonya gue ini. Setelah mereka selesai berdoa, Pak Guru masih belum puas nyuruh kami berdiri. "Oh, iya. Anak dua ini diapain enaknya?" "Suruh joget aja, Pak," celetuk salah satu teman. "Wih! Gila aja!" seru Glen, membuat Pak Guru dan anak-anak lainnya tertawa. "Ya udah sana, duduk." "Makasih, Pak." "Besok-besok ulangin lagi, ya." "Nggak, Pak. Saya dah insaf," kata Glen. Sekali lagi membuat mereka tertawa. Bersyukur banget karena masih disuruh duduk sama Pak Guru. Yang gue dengar-dengar dari kakak kelas, Pak Guru itu lumayan killer. Dia gak akan segan-segan nyuruh muridnya lari ngelilingin lapangan atau hormat di bawah tiang bendera. Bahkan nyuruh bersihin WC siswa yang Subhanallah, wanginya! Sampai kucing saja lebih memilih mutar balik daripada lewat situ. ___________________ Don't forget to follow Taci Fey
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN