14. Retak

2195 Kata
Semuanya sibuk merapikan buku ketika bel tanda usai sekolah terdengar nyaring. Saat yang lain berlomba-lomba keluar kelas duluan, gue masih duduk dengan pena di tangan kanan, melamun. "Nan, aku duluan. Kakakku udah jemput." Firda buru-buru memasukkan bukunya dan beranjak keluar kelas saat gue mengangguk. "Jangan dipikirin sendiri, kalo butuh bantuan, insyaallah aku ada." Gue melempar senyum. "Iyaa, tenang aja," "Yaudah, hati-hati," ucap Firda sebelum melangkah keluar pintu. Sebelum kelas benar-benar kosong, gue merapikan buku dan beranjak dari sana. Sempat gue berpapasan dengan Glen di koridor. Namun tak ada perbincangan apa-apa. Berlalu begitu saja, seolah tak pernah kenal. Hanya terdengar suaranya yang sibuk berbincang dengan teman di sampingnya. "Lo ikut study tour?" "Gue, ikutlah, pasti. Ntar lo orang kesepian lagi gak ada gue," ucap Glen. "Hahaha! PD gila." Membuat gue teringat tentang sesuatu yang pernah terjadi sebelumnya. "Ayolah, Nan, ikut. Please!" Glen memohon, tapi gue masih bungkam. "Gue jagain. Tenang aja!" rayunya. "Lo tau masalahnya, kan. Gue mabuk perjalanan," gue mengingatkan masalah besar itu. "Kalo sama gue pasti gak mabok. Secara gue, kan, nyenengin." Glen mengangkat kedua alisnya. Gue menertawakannya sambil memukul pelan wajahnya pakai buku cetak. "PD gilaa!" Glen masih merayu sepanjang jalan pulang supaya gue ikut. Hingga usahanya itu berhasil. Namun faktanya, dia tidak menepati ucapannya, malah gangguin gue tidur di sepanjang perjalanan saat study tour. Wajah yang tadinya murung akibat kenangan itu kini tersenyum ceria, melihat sang ayah yang sudah menunggu di depan gerbang. Dia sedang ngobrol dengan satpam sekolah. "Ayah!" Gue berjalan cepat ke arahnya, lalu memeluknya dan melihat wajahnya yang memancarkan tawa. Ayah mengusap pucuk kepala, lembut. "Pulang?" tanyanya. Gue mengangguk. Kami berjalan menuju motor setelah ayah berpamitan dengan teman ngobrolnya, satpam sekolah. Kami melempar senyum padanya. "Yah, kalo aku ikut study tour boleh?" "Kalo kamu mau, kenapa nggak?" jawab ayah. Membuat keceriaan sekali lagi terukir di wajah gue. "Makasih Ayah." Ayah memindahkan tangannya yang semula berada di bahu ke kepala, mengusap lembut kerudung yang gue pakai. "Mau beli baju baru?" ayah menawarkan. "Sekarang?" "Iya." Gue menarik napas spontan, lalu berucap histeris, "Maau!" Langsung saja, dengan semangat yang tak ada duanya, gue naik ke motor. Kami melaju dengan kecepatan normal. Selama ini, gue hampir kehilangan waktu dengan ayah. Bukan karena tak ingin, melainkan tak ada kesempatan. Kesibukannya membuat gue kehilangan kasih sayang seorang lelaki. Membuat cinta itu datang begitu cepat. Glen hampir menggantikan semua waktu yang harusnya gue lalui dengan ayah. Bermain, belajar, jalan-jalan, menangis, bahkan mengambil rapot. Namun gue sadar, waktu itu hanya gue yang merasakan. Dan itu adalah kesalahan terbesar yang harusnya gak pernah dilakukan. Waktu-waktu yang pernah terjadi itu membuat gue terjebak dalam dosa dan harapan. Semoga masih ada jalan untuk berbenah. Gue mengajak ayah ke toko pakaian muslim. Di sana, beberapa gamis dan rok panjang gue dapatkan. Pakaian-pakaian itu akan menggantikan baju dan celana pendek gue di rumah. Sekalian, kami juga membeli hadiah buat mama. Kalau pulang tanpa membelikannya juga, bisa-bisa dia ngambek semalaman, kami jadi gak bisa makan, hehe. "Punya mama udah, Nak?" tanya ayah yang sedang duduk menunggu saat gue menghampirinya. "Udah, Yah. Aku beliin mama gamis sama kerudung," gue menjawab. "Sekalian, tuh, ayah bujuk supaya mama istiqomah pakai kerudungnya, hehe," gue menyambung kalimat dengan nada menyenangkan sambil mendudukkan tubuh di sebalahnya. Ayah tersenyum haru. "Ayah bangga sama kamu, Nak. Makasih ya sudah mau jadi yang terbaik. Bahkan saat ayah gak punya waktu untukmu." Air mata hampir saja melesat dari sudut matanya. Gue memeluknya penuh ketenangan. Tak sadar kalau ayah telah mengusap matanya. "Bagaimanapun juga. Semua rindu kami menjadi milik ayah ketika ayah pulang." "Makasih, Sayang...." Tak ada kenyamanan yang melebihi saat itu. "Atas nama Kak Nandira...?" Kami bangkit dari tempat duduk dan menghampiri kasir untuk melakukan transaksi. Ayah memberikan kartu debitnya ketika pelayan menyerahkan paper bag berisi pakaian yang telah dipilih. Kami keluar toko ketika matahari sore bersinar hangat. "Masih suka mabuk perjalanan, Nan?" tanya ayah. "Aku udah punya cara meminimalisir frekuensi mual. Ayah pasti gak tau caranya," gue meledek, membuat ayah tertawa. "Itu kayaknya kawanmu, Nan?" Ayah menunjuk seorang lelaki yang sedang berdiri di balik kedai kopi. Gue memusatkan perhatian pada seseorang yang ditunjuk. Orang itu tengah meracik minuman kopi dengan penuh ketelitian. "Kak Ari," gue bergumam. "Ayo mampir, sekalian ayah mau minum kopi." Dengan sedikit keraguan, gue mengikuti langkah ayah yang menuju ke sana. "Selamat sore, Bang, mau pesen apa?" Raut wajahnya seperti terkejut ketika menyadari dengan siapa dia bertanya. "Eh, Om Erland, bukan?" Gue dengar ayah tertawa, mereka bercengkerama layaknya anak muda yang sudah lama tak bertemu. Padahal usia ayah jauh di atas Kak Ari, tapi mereka terlihat seperti teman. "Mantap, Bro, punya lo?" ayah bertanya tanpa sadar usia. Kalau dilihat dari penampilan, ayah gue memang awet muda dan tampan. "Punya abang saya, Om. Saya sekalian kerja sambilan bantuin dia." "Keren, keren, semangat." Gue lihat ayah menepuk-nepuk bahunya. "Om pesen dua yang paling enak," pesan ayah. "Wah, siap, Om. Gak diragukan pokoknya." Gue mengalihkan pandangan malu ketika Kak Ari melihat ke sini. Ayah duduk di kursi samping yang gue duduki. Hanya beberapa menit, pesanan kami siap, Kak Ari sendiri yang mengantarkan minumannya ke meja kami. "Kalo ada yang kurang, bilang aja, Om, hehe." "Oke. Tapi dicium dari wanginya aja udah enak, apalagi rasanya ini," puji ayah. "Mantap," balas Kak Ari. Gue menghirup aroma kopi yang memang terasa nikmat. Jadi gak heran kalau banyak orang pecinta kopi seperti ini. "Diminum, Nan," kata Kak Ari. "Makasih, Kak." Dia pamit ke belakang lagi setelah berkata pada ayah, "Mari, Om." "Yoi." Melihat ayah yang sudah menyesap kopi itu, gue jadi pengin ngerasain juga. Walaupun sebenarnya gue gak suka, tapi perlahan gue cicip rasanya. Ternyata kopi itu gak sepahit yang diduga. Selama ini yang gue tahu orang-orang mengatakan tentang pahitnya kopi ibarat pahitnya hidup. Nyatanya gak sepahit kelihatannya. Gue gak bisa menulikan telinga dari suara orang di balik kedai itu. Jaraknya memang tak terlalu dekat, tapi angin mampu menyampaikan suaranya. "Widih, sudah gila dia senyum-senyum sendiri." Suara itu asing di telinga gue. Namun jawaban dari suara itu adalah suara yang sangat gue kenal. "Sorry, Bang. Ada yang beda hari ini, haha." "Tumben amat, ada cewek yang lo suka? Yang mana, Ri?" "Ssstt, ah, ganggu aja lo ini." "Oh, itu, yang pake baju ketekan." "Elo itu, mah!" "Astagfirullah aladzim jauh-jauh." Ada-ada saja tingkah kakak beradik itu. "Nan, kenapa?" Buru-buru gue menghilangkan tawa kecil akibat suara itu. "Gak papa, Yah." Gue menyesap kopi itu lagi. "Gimana tuh, si Ari," tanya ayah tiba-tiba. Membuat gue hampir tersedak. Ayah yang melihat reaksi itu pun bersimpati. "Maksud, Ayah?" gue bertanya dengan penekanan. "Anak-anak muda kebanyakan," jawabnya dengan tawa. Entah apa yang ada dipikiran ayah. Padahal mama saja ngelarang gue pacaran. "Ayah, aku gak mau pacaran. Kalau pun ada orang yang suka sama aku, lebih baik suruh dia nikahin aku." Gantian, kali ini ayah yang hampir tersedak. Gue bersimpati dengan memberinya tissu. "Masyaallah..., bidadari surganya ayah benar-benar sudah dewasa. Ayo kita pulang." Ayah sudah berdiri dan ngajak gue pulang. "Memangnya ayah udah bayar?" gue bertanya serius. "Astagfirullah aladzim." Ayah menepuk jidatnya dan langsung menuju tempat pembayaran. Gue tertawa sambil menutup mulut dan menggelengkan kepala. *** Sepuluh menit sebelum istirahat berakhir, kami sudah berada di kelas. Firda sedang merangkum catatan sejarah yang akan kami presentasikan minggu besok. "Nan, kamu beneran gak ikut study tour?" tanyanya sendu. Gue diam saja, menggodanya dengan harapan palsu. "Yaah, aku sendirian dong nanti...." "Kan, bisa sama Ani sama Hana," gue menjawab. "Ya mereka duduk berdua, aku sama siapa?" "Sama ... " gue menggantung ucapan, "Marcel." Bermaksud untuk menggodanya, tapi ternyata cara gue salah. Firda langsung diam tak bicara lagi dan melanjutkan tulisannya dengan sebal. Gue tertawa sambil menoel bahunya. "Bercanda, Fir. Aku ikut, kok." "Bener?" dia memastikan. Gue mengangguk mantap. Senyum lebar terukir di wajahnya. Seketika kami berdua kegirangan sendiri. Namun tak bertahan lama, hanya 15 detik, dan kami kembali senyap masing-masing. Glen berdiri di depan meja kami. Dia yang sudah membuat keceriaan itu hilang tiba-tiba. Dia menaruh dua surat pernyataan keikut sertaan dalam study tour, lalu pergi begitu saja tanpa informasi apa pun. Firda mengusap bahu gue lembut ketika rasa takut menyerang. Gue takut kalau hubungan ini semakin memburuk dan pada akhirnya kami tak saling kenal. Di samping itu, gue juga takut untuk berbicara padanya. Takut akan hati dan godaan yang datang. "Sas, mau ke mana?" gue bertanya pada Sasti, teman sekelas, yang baru saja ingin melangkah keluar dengan kertas di tangannya. "Mau ngumpul ini." "Harus dikumpul hari ini?" "Iya, emangnya kalian gak dikasih tau?" Gue dan Firda speechless, tapi melempar senyum paham padanya. Dia melanjutkan jalannya, dan kami buru-buru mengisi surat itu. *** Siang ini, ayah gak bisa jemput. Dia ada urusan dengan rekan kerjanya. It's okay. Setidaknya gue bisa latihan naik mobil supaya gak mabuk perjalanan saat study tour nanti. Kak Ari memperlambat motornya dan mengiringi langkah kecil gue di trotoar. "Hei," sapanya. "Hei, Kak." "Kok jalan?" tanyanya. "Ayah gak bisa jemput, jadi mau naik angkot," gue menjawab. "Gue anter mau?" "Eee..., gak usah gak papa, Kak." Lalu sebuah angkot berhenti di hadapan kami. Awalnya gue melangkah buru-buru, tapi dua penumpang dalam angkot yang semuanya laki-laki membuat kaki tersedat untuk naik. Gue terdiam di sisi pintu, berpikir cepat, memilih naik atau menunggu angkot selanjutnya. "Tunggu, Nan," pinta Kak Ari. Gue lihat dia memarkirkan motornya di warung Bibi Alesa dan menitipkannya. "Ayo, gue temenin," ucap Kak Ari. "Geseran, dong, Bang," suruhnya pada bujang yang duduk di dekat pintu. Mereka bergeser lebih ke dalam. Gue naik dan duduk di belakang sopir, sedangkan Kak Ari menggantikan posisi bujang yang tadi duduk di dekat pintu. "Eh, Bro, lu ngape gak duduk di sono. Ini tempat gue," kata bujang di samping Kak Ari sambil menunjuk tempat kosong di sebelah gue. "Nanti, Bang, kalo dia udah jadi istri saya. Kalo sekarang belum mahrom," jawab Kak Ari. Membuat gue menunduk malu bukan main. "Subhanallah!" kata bujang itu terkesan takjub. "Yang bener Masyaallah, Bang," benah Kak Ari. "Iye, iye, itulah pokoknya. Yang penting lu bedua cepet-cepet nikah jangan lupa undang gue, haha." "Iya kalau dia mau." Kak Ari membuat angkot yang memang gerah ini jadi semakin gerah, hormon gue meningkat. Tak terlalu lama, angkot menepi, gue turun setelah membayar biaya transportasi. Kak Ari yang biasanya mengucap "Yoiichinichiwo" kini berganti menjadi... "Fii Amanillah," ucap Kak Ari yang kembali naik ke angkot setelah gue turun. "Jazakallahu khairan." *** Hari ini giliran kami untuk presentasi di depan kelas. Gue sedang mencoba menghafal beberapa kata yang harus diucapkan tanpa slide. Firda, Ani, dan Hana, yang merupakan anggota kelompok pun sedang sibuk menyiapkan power point dan jawaban dari pertanyaan yang mungkin diajukan oleh audience. Suara bel masuk itu membuat gue menarik napas panjang dan mengembusnya. Siap untuk debat dengan seluruh murid di kelas yang ingin mengulur waktu agar presentasi giliran mereka mundur. Pak Pragu Rubi, guru sejarah, yang lebih dikenal dengan panggilan Pak Guru masuk ke kelas. Glen sebagai ketua kelas menyiapkan untuk berdoa, lalu memberi salam. Setelah itu, presentasi dimulai, kelompok kami maju dan menyiapkan materi. Gue berhasil melewati seluruh materi sebagai pembicara. Sebaik mungkin gue sampaikan pada mereka agar tak lagi menimbulkan pertanyaan. Bahkan terdapat kesimpulan dari seluruh materi kami. Namun tetap saja, pertanyaan-pertanyaan itu muncul. "Tentu menjadi kepentingan bersama bagi kita untuk belajar dari masa lalu. Kedatangan para penjajah ke tanah kita, tak lain dan tak bukan adalah karena sumber daya alam yang melimpah di negeri ini. Maka dari itu, kita sebagai mahkluk sosial yang melakukan ekonomi, harus bisa memanfaatkan sumber daya dari alam kita sendiri. Selain itu, penting juga bagi kita untuk mencapai kesuksesan bersama. "Terimakasih, sekian penjelasan dari saya. Kami membuka beberapa pertanyaan untuk teman-teman yang kurang jelas. Wassalamualaikum warahmatullah wabarakatuh." Dugaan gue tentang mereka yang akan banyak tanya ternyata salah. Bahkan tak ada satu pun dari mereka yang mengangkat tangan untuk bertanya. Kelas hening beberapa saat. Hingga akhirnya, seseorang mengangkat tangannya. "Oke, apa pertanyaannya?" "Benarkah kita harus belajar dari masa lalu?" Yang benar saja, itu pertanyaan yang mudah bukan. "Ya," jawab gue penuh yakin. "Apa yang terjadi jika kita tidak belajar dari masa lalu?" tanyanya lagi. "Kita akan terus melakukan kesalahan yang sama." "Bagaimana jika kesalahan itu adalah sesuatu yang indah?" Pertanyaannya yang mulai ngaco dan tak ada kaitan dengan materi itu membuat seluruh kelas termasuk Pak Guru terbengong. "Gak ada suatu kesalahan yang indah. Kalaupun indah, itu bukan kesalahan." "Oke, faktanya pembicara gak pernah belajar dari masa lalunya." Glen membuat gue bungkam dengan pernyataannya. Bukan cuma gue, tapi juga seluruh nyawa yang mendengar ucapannya. Pantaskah dia bicara seperti itu di depan kelas. "Memperbaiki penampilan gak ada gunanya kalau lo memutus silaturahmi!" Deg. Entah tamparan dari mana. Barusan dia berkata di depan orang banyak. Bahkan Pak Guru mendengarnya. Tubuh gue bergetar hebat, menatapnya nanar dari depan. Tak sadarkah dia dengan ucapannya itu. Sungguh menyakitkan. "Hei, sudah-sudah. Kalau ada masalah lebih baik diselesaikan baik-baik." Pak Guru sampai turun tangan menyikapi Glen yang tak bisa mengontrol emosinya. Gue masih terpaku dengan segala kekuatan yang tertumpu di mata, menahan air agar tak mengalir. Glen mengembuskan napasnya, menyadari apa yang sudah dia katakan. "Maaf, Pak, saya harus ke toilet." Setelah menaruh spidol di atas meja, gue melangkah keluar kelas dan berlari ke toilet. _________________ Buat yang belum follow aku, jangan lupa follow ya :)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN