JIKA boleh jujur, Sahal tak begitu suka dengan hujan. Dingin yang dibawa, membuat kondisinya yang lemah semakin terlihat menyedihkan. Aroma basahnya bahkan tak jarang membuat Sahal harus diserang batuk dan pilek berkepanjangan. Salahkan saja paru-parunya yang memang sudah tak berfungsi dengan baik.
"Seger banget! Jadi pengen hujan-hujanan."
Akan tetapi, pandangan gadis yang kini duduk di sampingnya sungguh lain lagi. Nura terlihat begitu menikmati, gadis itu bahkan sengaja membuka jendela kelas guna merasakan dinginnya udara yang berembus.
"Tutup jendelanya!" protes Sahal. Ia merekatkan jaket biru dongkernya, merasa tak tahan dengan dingin yang memeluk tubuh. Sejak pagi, hujan tak henti beraksi. Jam mata pelajaran terakhir bahkan nyaris berakhir dan cairan dari langit itu masih urung berhenti.
Nura mendelik. "Terserah gue, dong!"
Panjang, Sahal menarik napas. Terbatuk kemudian. Sesuatu seperti menekan kuat dadanya. Tanpa ingin mendengar apa yang hendak Nura katakan, laki-laki bertubuh tinggi itu bangkit. Sejurus kemudian menarik handle jendela dan menutupnya.
Nura kontan mendesis. Hendak menyerang Sahal dengan protes, tetapi salam penutup guru mata pelajaran menahan niatnya. Pandang matanya mengikuti langkah pria tegap di depan kelas sana hingga menghilang di balik pintu.
"Oya, gue baru inget!" Siluet tubuh Pak Guru, membuat Nura tiba-tiba ingat sesuatu. Ia mengubah posisinya, menghadap ke arah Sahal. Tak mengindahkan teman-teman sekelasnya yang satu per satu keluar kelas hingga menyisakan ia dan Sahal di dalam. "Kemarin, pas gue mau pulang sama Virga, ada seseorang nanyain lo."
Mendengar kalimat Nura, gerak tangan Sahal yang tengah memasukkan buku pelajaran ke dalam tas, terhenti. Ia memandang Nura dengan kedua alis saling bertemu. "Nanyain apa?"
"Nanyain, bener apa enggak kalau Sahal Hadi sekolah di Hansa?"
Sahal terbatuk. Ia kembali melanjutkan aktifitasnya kemudian. "Terus lo jawab apa?"
"Ya ... gue sama Virga jawab iya." Nura melakukan hal yang sama, membereskan alat-alat tulisnya. "Lo ada masalah sama orang?" Dari penampilan, Nura yakin kalau orang yang menemuinya kemarin itu bukan orang baik-baik. Penampilannya percis seperti preman.
"Enggak." Sahal menutup pembicaraan. Menyembunyikan raut resah di wajahnya dengan segera bangkit dan berjalan keluar kelas.
Melihat gerak tergesa Sahal, Nura segera menyusul langkah lebar si teman sebangku. Ia lupa kalau ada hal lebih penting yang harus ia bicarakan dengan Sahal. "Sahal, tungguin, dong! Gue mau ngomongin sesuatu sama lo." Sampai sekarang, Nura belum juga diberi kesempatan untuk membicarakan perihal meliput kehidupan pribadi Ketua OSIS SMA Hansa itu kepada Sahal. Sekarang, melihat mood Sahal yang tampak buruk, membuat Nura lagi-lagi gagal menciptakan kesempatan itu.
Lagi, menggali tentang siapa dan bagaimana kehidupan Sahal itu pasti akan sangat sulit ditembus.
***
"GUE lagi sebel banget masa."
Sebelah alis Nura berjungkit kontan. Sebelum dipersilahkan masuk, Melodi langsung menerobos masuk. Mengambil tempat di sofa butut ruang tamu rumah Nura. Berteman sejak lama, membuat mereka tak lagi canggung saat datang ke rumah masing-masing.
"Kenapa?" Nura mengempaskan tubuhnya di samping Melodi.
"Tadi ada murid baru di kelas gue." Melodi memulai cerita, seraya melipat tangan di d**a. Raut wajah cantiknya dipenuhi awan kelam. "Namanya Andini," imbuhnya.
"Terus?"
"Belagu banget, anjir! Pengen gue lelepin ke Citarum asli." Nada suara dan raut wajah Melodi benar-benar diliputi aura emosi kini. Sebenarnya, walau tak dekat, Melodi dan Andini sudah saling kenal. Mereka satu SMP dulu. "Tahu enggak dia bilang apa pas gue nyapa dia?"
"Apa emang?"
"Tujuan gue pindah ke sini bukan buat temenan sama lo." Menirukan gaya bicara Andini di kelas tadi pagi, Melodi kemudian bersungut-sungut, "Pea banget, kan? Lagian, siapa coba yang niat temenan sama dia. Ih, sumpah gue beneran pengen sumpel mulutnya pake duit sekoper!"
Melihat Melodi berkobar-kobar, Nura justru terkekeh. Kadang, kalau lagi emosi, putri tunggal pengusaha konglomerat itu sangat lucu di mata Nura. "Daripada dipake nyumpel mulut orang, buat gue aja duitnya." Nura bangkit, hendak mengambil sesuatu yang bisa ia dan Melodi makan.
Melodi turut bangkit, mengekori Nura ke dapur. "Ibu sama Yara ke mana?" tanyanya saat sadar keberadaan dua orang itu tak terjamah pandang.
"Ke pasar. Beli bahan buat jualan besok." Nura mencari sesuatu di dalam kulkas. "Bikin seblak, ayo!" Nura mengambil satu pak siomay, mi instan, kerupuk, dan bahan-bahan pelengkap lainnya. Memindahkannya ke meja sekaligus.
Melodi mengangguk. Sangat cocok untuk dinikmati di cuaca dingin seperti saat ini. "Level lima belas."
"Boleh ...." semangat Nura. Kemudian mereka mulai sibuk dengan bahan dan alat masak.
"Katanya, selain cokelat, makanan pedas juga bisa memperbaiki mood."
"Kalau gitu, kita naikin level pedasnya." Nura tertawa kecil.
Melodi mengangguk sebagai bentuk setuju.
Tak sampai tiga puluh menit berkutat di dapur, kedua sahabat baik itu kembali ke ruang tamu. Satu mangkuk besar seblak super pedas berada dalam genggaman tangan Nura, sementara Melodi tampak membawa satu teko air putih beserta gelasnya.
"Gue sebenarnya punya tugas dari anak-anak jurnalistik." Nura buka suara selagi tangannya menyendok makanan di hadapannya.
Melodi meniup siomay yang hendak masuk ke mulutnya. "Apaan?"
"Ngeliput kehidupan pribadi Ketua OSIS SMA Hansa. Buat konten majalah perdana Hansa Journalism."
Tak jadi memakan siomaynya, Melodi menatap Nura dengan mata membulat. "Sahal maksud lo?"
"He.em, siapa lagi emang?"
Tak lalu merespon, Melodi kembali memakan siomaynya. Melarang Nura melakukan itu secara terang-terangan hanya akan membuat sahabat baiknya itu semakin penasaran dengan kehidupan Sahal. Melodi tidak ingin itu terjadi.
"Tapi, kayaknya susah banget. Sahal itu kayak punya tembok superkokoh yang enggak bisa ditembus dengan mudah. Padahal, Banu sama yang lain udah desak gue terus. Untung aja selalu ada Virga yang bantuin tiap Banu ngoceh minta pertanggungjawaban gue." Nura mengambil air dan meminumnya tergesa. Ia mengipas asal mulutnya yang mulai terasa panas karena pedas. Aneh melihat Melodi biasa saja dan tampak semakin semangat menikmati seblak pedas itu.
"Kenapa enggak liput kehidupan gue aja?" tanya Melodi.
"Seandainya bisa, gue rasa itu lebih baik." Kalau saja Nura mengusulkan hal itu dari awal. Ia mungkin tidak harus kesulitan seperti ini. Sejuta prestasi yang Melodi miliki harusnya jadi inspirasi juga buat semua orang. Namun, semuanya sudah terlanjur. Anak-anak yang lain sekarang malah ngotot ingin Sahal yang mengisi majalah perdana mereka.
***
SAHAL menahan langkahnya di ambang pintu perpustakaan. Tak jauh dari tempatnya berdiri, seorang gadis kurus dengan ransel merah di gendongannya, membuat pergerakan Sahal mendadak terasa begitu kaku. Gadis itu tampak sedang mengobrol dengan Virga, sebelum eksistensi dirinya mengalihkan perhatian kedua pasang mata itu. Sahal tidak tahu sejak kapan Virga dan gadis bernama Andini itu saling kenal.
Cukup lama mereka saling tatap. Sampai kemudian Sahal memilih untuk berlalu. Tak ingin ambil peduli dengan apa yang kedua orang berbeda gender itu lakukan. Kendati begitu, ketika netranya menangkap sosok Andini, Sahal tahu kalau hari-harinya ke depan mungkin tak akan setenang biasanya lagi.
Apa sebenarnya rencana Om Fedrik? Batin Sahal semakin dilanda gundah dan resah. Sahal paham kenapa kemarin Nura bilang ada yang menanyakan perihal dirinya. Itu mungkin suruhan Fedrik. Sekarang, entah apa maksud Om-nya itu mengirim Andini, sepupunya ke sekolah yang sama dengannya.
.Bersambung