Setelah Kanaya berteriak-teriak sampai serak, beberapa warga menghampiri dan sebagian ada yang mencoba mengejar tapi hasilnya nihil.
Setelahnya Kanaya menangis perih, menangis kesal dan dia merasa kesialan terus menghampiri sejak ia pertama kali mendarat di tempat barunya ini.
Tadi dia bertabrakan dengan orang arogan di Bandara sampai ponselnya rusak dan sekarang, Kanaya malah kehilangan baju-baju dan dokumen-dokumen pentingnya.
"Apa yang dijambret, Neng? Hape? Dompet?" tanya salah satu warga, Kanaya hanya menangis sesenggukan karena merasa begitu sial hari ini.
"Kita antar ke kantor polisi terdekat aja biar bikin laporan kehilangan! Nanti pihak kepolisian bisa mengkonfirmasi dan berkoordinasi dengan kapolsek lainnya!" usul salah satu warga, dan jujur saja Kanaya tak siap kalau harus berurusan dengan polisi sekali pun dia adalah seorang korban.
"Gak usah, gak usah Pak! Terima kasih banyak!" tolak Kanaya di antara isak tangisnya.
"Memangnya, isi tasnya gak penting gitu, Neng?"
"Heum ... baju-baju saya sama ... Ijazah sekolah sih!"
"Waah, itu mah dokumen penting Neng, sebaiknya lapor saja! Mari kami antar, gak perlu takut, Para polisi pasti akan membantu dan mengayomi, yuk!"
Akhirnya setelah Kanaya pikir-pikir, Kanaya pun mau melapor ke kantor Polisi. Mana tahu dia bisa mendapatkan kembali tasnya, atau setidaknya ijazah sekolahnya. Dengan begitu, dia bisa cepat-cepat mencari pekerjaan.
***
Setelah memberi keterangan, Kanaya diperbolehkan pulang. Kanaya lega karena dia sudah melapor dan mendapat surat keterangan kehilangan agar bisa memakainya untuk melamar pekerjaan untuk sementara dengan surat itu.
'Ya Tuhan ... kenapa hariku buruk sekali! Apa pria sempurna yang arogan tadi adalah awal kesialanku?' batin Kanaya kesal.
Kini Kanaya tak punya baju ganti, beruntung tas selempangnya masih selamat karena disana lah dompet dan kartu identitas Kanaya.
"Hey ... kamu, Kan ...."
Ada yang menyapa dan menepuk pundak Kanaya dari belakang. Kanaya kaget tapi saat menoleh ternyata ada orang yang ia kenal saat masih tinggal di Batam.
"Bang Rado?" sapa Kanaya pada pria 30 tahunan itu.
"Kanaya? Ngapain kamu disini?" Rado pun tampak kaget melihat Kanaya ada di Jakarta, di kantor polisi pula.
"Saya ... saya merantau Bang, dan sialnya, tadi saya dijambret, ini baru saja bikin laporan kehilangan!"
"Ya ampun! Kok bisa begitu?"
"Ya udah nasib aja, Bang! Semoga selanjutnya saya gak kena sial begini lagi deh!" harap Kanaya.
"Terus sekarang kamu mau kemana?"
"Belum tahu, Bang! Tadi saya baru aja turun dari taksi, maksud hati mau nyari indekos, malah dijambret!" ungkap Kanaya dengan kesedihan yang mendalam.
"Kasihan banget sih kamu, Kanaya! Ya udah, kamu ikut saya aja! Kamu bisa kerja sama saya, ada mess-nya juga jadi kamu gak perlu nyari tempat tinggal sewa lagi!"
Kanaya mengangkat wajahnya dan rasa tak percaya kalau Rado hadir menawarkan hal baik padanya.
Rado menawarkan sebuah pekerjaan dan tempat tinggal gratis? Mana mungkin Kanaya menolak ajakan itu?
"Serius, Bang?"
"Serius lah! Mana mungkin saya bohong! Ketemu sama orang sekampung halaman di ibu kota seperti ini, kita sudah seperti saudara! Yuk, ikut saya aja! Dan kalau kamu beruntung, kamu akan mendapat banyak keuntungan, Kanaya!" Iming-imingi Rado. Belum tahu, pekerjaan seperti apa yang ia tawarkan.
Kanaya yang sedang down langsung tergiur.
"Tapi ... kerja apa sih Bang?"
"Udah, ikut aja dulu, yuk! Dari pada kamu luntang lantung gak jelas, kan?"
"Tapi semua berkas lamaran kerja saya ada dalam tas yang dijambret itu, Bang! Gimana dong?"
"Gak perlu lah, gak perlu pake lamaran! Yang penting kamu siap! Yuk!"
Kanaya tergoda untuk mengikuti Rado. Padahal, andai saja Kanaya tahu kalau Rado adalah seorang bartender di sebuah club malam. Apakah Kanaya akan dipekerjakan di club malam itu?
"Oh iya, ngomong-ngomong, ngapain Bang Rado di kantor polisi?" tanya Kanaya dalam perjalanan mereka menuju tempat yang Rado maksud.
"Beberapa malam yang lalu ada teman Abang yang kena pukul, ya diurusin lah! Abang diminta keterangan sebagai saksi!" jawab Rado sembari mengemudi dengan santai.
"Oh, begitu ya!"
Kanaya tak sabar ingin segera sampai di tempat kerja yang Rado katakan. Kanaya harap, ini adalah awal yang baik untuknya.
Sampai akhirnya Rado masuk ke sebuah bangunan 3 lantai yang masih terlihat sepi itu. Atmosfernya sih rada-rada mirip dengan sebuah diskotek dan sebagainya, tapi apa benar?
Rado masuk ke basement bangunan itu dan memarkir mobilnya. Kanaya mulai meragu, tapi dia takut untuk bertanya.
"Kita sudah sampai!" kata Rado setelah mematikan mesin mobilnya.
"Heum ... ini tuh ... cafe atau restauran sih, Bang?" tanya Kanaya jadi ragu untuk turun dari mobil.
"Ayo, ikut aja, yuk! Biar kenalan sama big boss!" ajak Rado dan sikap Rado masih halus tanpa memaksa, dan itu lah yang membuat Kanaya sedikit percaya kalau Rado tak mungkin menjebaknya dalam pekerjaan ini.
"Big boss? Dia ... baik kan, Bang?"
"Baik, apa lagi kalau kinerja kamu oke! Dia bisa kasih kamu bonus sering-sering!" Rado kembali memberi iming-iming.
"Baiklah!"
Akhirnya Kanaya mengalah. Dia pun mau ikut Rado menuju lantai paling atas dari bangunan itu. Setelah menaiki lift, akhirnya mereka sampai dan melewati lorong panjang yang dijaga oleh beberapa pria besar berpakaian serba hitam.
"Waah, dapat barang baru lagi lo, Do?" sapa salah satu pria itu.
"Iya lah! Ini barang super premium!" jawab Rado dengan bangga.
'Apa? Barang baru? Barang super premium? Apa maksudnya?' batin Kanaya semakin merasa skeptis. Kanaya hanya mengusap tengkuknya karena situasi saat ini sama horornya dengan memasuki rumah kosong yang angker.
"Suit suit!" Bahkan beberapa orang juga memberi siulan menggoda kala Kanaya lewat bersama Rado.
Kanaya mulai risih, apa lagi mata-mata pria itu menatap Kanaya seperti buaya darat yang menemukan mangsa baru.
'Apa ini sebuah club malam?' batin Kanaya dan dia sudah mulai menyimpulkannya.
"Siap-siap, Kanaya! Bersikap lah yang manis, agak genit gak apa-apa! Semoga Bos suka dengan kamu!" kata Rado sebelum mengetuk pintu ruangan big boss-nya itu.
"Bersikap genit? Apa maksudnya, Bang?"
"Sttt, pokoknya persiapkan dirimu, oke?"
Tok tok tok! Rado mulai mengetuk pintu ruangan itu. Dan tak lama, body guard lainnya membuka kan pintu untuk Rado dan Kanaya. Kanaya makin ketakutan.
"Masuk!" kata seseorang yang duduk di sebuah meja kerja yang ada di tengah-tengah ruangan itu. Katanya, itu adalah Bos Tora, pemilik dari bangunan dan bisnis ini.
"Sore, Bos! Saya punya suplay buat jadi Night club ladies nih, Bos! Barang bagus! Mulus! Boleh dicek!" kata Rado.
Kanaya ingin marah pada Rado karena telah memperjual belikannya seperti barang pecah belah saja. Tapi, jujur saja, Kanaya takut dengan orang-orang yang ada di ruangan itu. Mereka terlihat seperti para mafia di film-film yang biasa Kanaya tonton.
'Ya Tuhan ... lindungi hamba ... lindungi hamba!' Dan hanya itu lah yang bisa Kanaya panjatkan. Kanaya tak tahu harus bagaimana! Kanaya benar-benar terjebak oleh ajakan Rado.
"Dapat dari mana? Masih ori?"
"Ini jackpot, Bos! Bisa kita simpan buat tamu-tamu Vvip kita! Dia ini satu kampung halaman sama saya! Ibunya kerja di bisnis seperti ini di masa lalu, tapi Kanaya ini sama sekali belum tersentuh, saya yakin, Bos!"
"Bang Rado! Apa-apaan ini? Apa maksudnya ini?" Kanaya langsung protes tak peduli dengan Bos Tora yang terkenal kejam dan tanpa kompromi.
"Sttt, kamu gak usah banyak protes! Ikuti saja! Dari pada kamu luntang lantung di luaran sana, Kanaya! Disini hidupmu akan terjamin! Ingat! Ini Jakarta, Kanaya! Disini keras!" sahut Rado agak mengomel.
Tora menatap Kanaya dengan seksama, dari ujung kepala ke ujung kaki, dan dia lakukan itu terus beberapa kali seperti pemindai yang mencari cacat pada fisik Kanaya.
Tapi tampaknya Tora langsung tertarik. Fostur tubuhnya memang tak terlalu tinggi, tapi Kanaya memiliki tubuh yang ranum dan segar. Wajah Kanaya juga sangat cantik dan manis walau tak dipoles dengan make up tebal kekinian. Polosan saja, Kanaya sudah tampak luar biasa jika diperhatikan lekat-lekat.
"Hey ... maju 5 langkah!" titah Tora dan Kanaya malah semakin ketakutan. Awalnya Kanaya diam saja tapi Rado memaksanya dan mendorongnya.
"Sebutkan nama dan umurmu!" titah Tora lagi.
"Sa-saya Kanaya ... 21 tahun ... tapi saya gak berminat bekerja disini, Bos. Maaf ...." jawab Kanaya dengan gugup. Ada rasa takut yang bercampur jadi satu. Takut pada Tora dan takut kalau dirinya akan terjebak dalam club malam itu pada akhirnya.
"21 tahun, ya? Cocok! Kami butuh daun muda sepertimu! Kamu masih virgin, kan?"
Pertanyaan itu semakin membuat Kanaya risih dan takut. Kanaya masih diam dan tak menjawab.
"Masih! Dia masih virgin, Bos! Saya bisa jamin! Di kampung halaman sana, dia adalah incaran para pria tapi dia tak pernah melayani pria mana pun!" Malah Rado yang menjawab.
"Oke! Kalau begitu bawa dia ke mess! Suruh para gundik itu mengajarkannya bagaimana aturan bekerja disini! Hey, Kanaya! Kamu sudah tak bisa menolak lagi, saya sudah menerima kamu sebagai bagian dari bisnis ini!"
Kanaya hanya bisa membelalakan matanya dan mulutnya menganga tak percaya kalau dirinya terjebak disana dalam hitungan menit saja. Harusnya Kanaya tak percaya pada ajakan Rado.
"Bawa dia! Suruh dia bersiap! Aku akan menghadiahkan dia pada tamu Vvip kita, kita akan memberikannya pada Max Jerome! Semoga dia suka!"
Max Jerome? Siapa pula Max Jerome?
Kanaya hanya mampu berontak, dan membayangkan kalau Max Jerome adalah seorang pengusaha tua bangka yang suka bermain dengan para p*****r.