Kisah Sanggara - 32

1386 Kata
Sudah hampir enam jam luna berdiri tak tenang di depan ruang operasi dan saat ini Edward sedang menemani adik luna di apartemen yang baru saja ia beli. Ia seakan tak ingin meninggalkan sang ayah yang masih berjuang dan bertahan disaat ia sedang menjalani proses yang begitu berarti untuk dirinya nanti. Langkah nya masih begitu lemas , Pikiran luna terkadang tak bisa berpikir jernih dengan keadaan yang akan terjadi jika ia tak segera mengoperasikan ayahnya. Terdengar suara langkah kaki yang mendekati luna dan luna sendiri sudah tau siapa pemilik langkah tersebut. “ kamu tak ingin pulang dulu? Bersihkan dulu dirimu dan setelah itu kamu bisa kemari lagi. “ Ujar Edward yang menyarankan luna untuk bersantai sejenak. “ lalu ayah. “ “ aku sudah meminta beberapa bodyguard untuk menjaga ayah kamu , Dan aku juga sudah meminta pihak rumah sakit untuk menyiapkan semua keperluan ayah kamu setelah operasi selesai. “ Jawab Edward meyakinkan. “ tubuh manusia juga perlu untuk beristirahat , jangan terlalu memaksakan kehendak mu. Kamu bukan robot. “ Timpa Edward lagi dan kemudian membuat luna pun menuruti perkataan nya untuk kembali ke apartemen nya untuk membersihkan dirinya dan beristirahat sejenak. Kemudian Edward pun mengajak luna untuk segera menuju ke apartemen nya yang tak jauh dari rumah sakit tempat ayah luna sedang di rawat. Luna masih terlihat termenung dengan pemikiran nya sendiri tanpa memperdulikan Edward yang berada di samping nya , Tak selang lama mereka pun sampai ke tempat apartemen dan segera menuju ke lantai dimana apartemen itu berada. Edward mengajak nya untuk masuk dan betapa terkejutnya luna melihat sosok perempuan cantik yang ada di dalam nya sedang berada di depan laptop. Dan terlihat dias adik luna sedang tertidur begitu lelapnya. “ dia sekertaris ku , rosella. “ Luna pun hanya tersenyum kepada perempuan yang di panggil Edward dengan sebutan rosella , namun tak ada tanggapan sama sekali dari rosella. Setelah itu Edward pun berjalan menuju kearah rosella dan mengambil alih laptop yang berada di atas meja yang ada di hadapan nya. Luna sangat merasa tak berarti saat ini karena ia ternyata bukanlah apa-apa untuk Edward , dan seketika luna pun tersadar jika pernikahan mereka nantinya hanyalah pernikahan di atas kertas saja. Sebab Edward sudah memenuhi janjinya untuk membiayai pengobatan ayahnya , dan kini giliran luna yang membalasnya dan membantunya untuk mempertahankan perusahaan nya. Tanpa basa-basi luna pun melangkah kan kakinya untuk memasuki satu kamar yang dimana di dalam nya terdapat dias. “ lun… “ Luna pun seketika membalik badannya ketika Edward memanggil namanya. “ kamar kamu disana. “ Tunjuk Edward kearah kamar  yang ada di samping kamar dias. Dan tanpa menjawab perkataan Edward , luna pun beralih ke kamar satunya. “ apa itu perempuan yang akan kamu nikahi? Membosankan… “ Pungkas rosella yang seketika membuat luna tercengang sendiri , hatinya sontak merasa sakit yang teramat dalam atas apa yang baru saja di ucapkan oleh rosella. “ diamlah rose , Lebih baik kamu kerjakan saja kerjaan mu. “ Gertak Edward yang mencoba menghentikan ucapan rosella. Sangat terlihat wajah lesu luna dan kemudian ia lebih memilih untuk masuk ke dalam kamarnya tanpa membalas ucapan rosella ataupun Edward. Luna segera menuju ke kemar mandi dan menyiram tubuhnya di bawah shower yang mengeluarkan air hangat , Setidaknya saat ini hanya air hangat inilah yang menemani luna dan mengerti arti dari tangisan luna , ia maish terus memejamkan matanya di bawah guyuran air shower. Dan betapa terkejutnya luna saat mendapati tangan kekar sudah melingkar pada pinggang nya. “ pak Edward… “ “ kenapa bapak lancing sekali , aku tidak teri… “ Sontak ucap luna terjeda ketika daging kenyal menempel pada bibirnya. Melahap semua nya dengan habis , Luna masih berusaha untuk menolak nya dan mendorong tubuh Edward kebelakang agar ia bisa terbebas dari dekapan Edward. Kemudian tak selang lama , Edward melepaskan pautan nya setelah ia menyadari jika luna sudah kesulitan untuk bernafas. Dekapan Edward merenggang seketika , Dan kemudian ia memandang lekat wajah luna yang kini sedang menahan rasa marah yang sudah tercampur dengan rasa jengkelnya. Bukankah hubungan mereka hanya sebatas kontrak saja , tapi mengapa Edward dengan berani melakukan hal yang sama sekali mengejutkan bagi luna. “ dengar baik-baik , luna. Aku paling tidak suka di abaikan seperti tadi , setidaknya bersikaplah manis jika kamu tak ingin mendapatkan hukuman seperti tadi bahkan bisa lebih dari itu. “ Ujar Edward yang penuh penekanan , “ walaupun pernikahan kita hanya sebatas kontrak nantinya , Tapi pernikahan kita adalah pernikahan yang sah. Jadi , aku punya hak atas dirimu sepenuhnya , paham. “ Lanjut Edward lagi dan kemudian mematikan air shower yang masih menyala , Dan ia pun berjalan menuju kearah wastafel yang dimana terdapat beberapa handuk di dalam lacinya. Edward mengambil salah satu handuk dan kemudian melilitkannya pada tubuh luna , dan luna sendiri hanya masih bisa terdiam dengan apa yang di lakukan oleh Edward. Pandangan mereka pun bertemu dalam persekian detik ketika luna mengangkat kepalanya dan mendapati netra indah yang juga sedang menatapnya. Luna berpikir jika baru saja sikap Edward sangat begitu lembut dan berbeda dengan Edward yang juga baru beberapa menit yang lalu melakukan sesutau yang sangat membuat luna sangat marah hingga ia tak sengaja mengepalkan tangannya sendiri. “ sudah main airnya , Bergegaslah dan cepat ganti baju mu. Setelah itu kita makan dan kembali ke rumah sakit. “ Benar sekali apa yang di katakan Edward saat ini , perlakuan Edward seketika membuat luna lupa kepada kehidupan kelam nya dan berubah menjadi kehidupan yang semakin suram. Tapi terkadang Edward sendiri juga mendatangkan begitu banyak kebahagiaan yang bagi luna sendiri sudah sangat lupa bagaimana dengan rasa kebahagiaan itu sendiri. Kemudian Edward pun keluar dari kamar mandi dan segera berlalu menuju ke kamarnya sendiri , luna masih begitu penasaran dengan rosella yang tadi sudah  berani lancing memcibir dirinya tepat dihadapan Edward. Luna dengan pelan mengikuti Edward yang sudah keluar dari kamarnya dan kemudian langkah luna terhenti tepat di depan pintu kamarnya yang masih 90 persen teertutup. Edward melaju ke dalam kamarnya dan tak selang lama rosella pun mengikuti nya , Ada sedikiit rasa kecewa tersemat di dalam hatinya , jika memang antara Edward dan rosella ada suatu hubungan yang sangat istimewa mengapa Edward malah meminta nya yang menjadi istri bukannya rosella. Sedangkan rosella adalah perempuan yang bisa di bilang hampir mendekati kata sempurna , tinggi semampai dan juga berbody seperti biola spanyol. “ kenapa harus aku jika kamu memiliki dia? “ Gumam luna lirih dan kemudian ia memilih pergi dari tempatnya sekarang , Namun ia masih tak bisa menghilangkan perasaan penasarannya , dan bayangan Edward yang sudah berhasil mengambil ciuman pertamanya itu selalu saja berputar di kepalanya. Lalu seketika bayangan itu terbuyarkan dengan kenyataan yang juga baru saja di lihat nya , jika rosella  yang dengan sadarnya mengikuti Edward yang berjalan menuju kamarnya. Dan mungkin sekarang mereka pun sedang melakukan pergulatan sengit , walaupun itu masih terdapat di dalam pikiran luna saja. Tapi apa yang terjadi jika ada sepasang orang yang ada di dalam satu kamar dengan keadaan yang tertutup seperti saat ini kalau bukan yang … ya seprti itulah. Luna segera mengganti pakaian nya dan kemudian ia segera keluar dari dalam kamarnya , dan saat ia membuka pintu kamarnya luna juga melihat Edward yang baru saja keluar dari kamarnya juga. Pandangan luna masih saja terus menunduk , Jika bukan karena balas budinya ia pasti tidak akan mau hidup di bawah tekanan seperti saat ini. Luna mencoba menghindari Edward dengan berpura-pura datang ke kamar dias , karena saat ini Edward sedang menuju kearahnya. Namun sayangnya luna sama sekali tak menemuka dias di dalam kamarnya , kening luna seketika mengerut dan betapa terkejutnya luna lagi saat telapak tangan Edward meraih tengkuk nya dan kemudian mendaratkan kecupan nya lagi tepat di benda kenyal nan ranum milik luna. Hanya sekedar menempel saja dan Edward segera melepaskan nya. “ aku sudah bilangkan sama kamu , Kalau aku paling tidak suka di abaikan , mengertikan kata-kata ku? “ Luna hanya mengangguk pelan atas ucapan edwad. Dan kemudian tangan Edward menggenggam tangan luna , lalu membawanya menuju ke restoran yang ada  di lantai dasar apartemen nya itu. “ kenapa kamu lakukan ini sih. Terkadang kamu bersikap lembut dan terkadang kamu juga bersikap sedikit kasar. Siapa kamu sebenarnya? Apa mau mu? “ Gumam luna dalam hatinya yang sambil memandang lekat bayangan Edward yang terpantul dari kaca yang ada di samping lift yang mereka gunakan sekarang.       _             Bersambung         _
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN