Edward membawa tamu yang baru saja datang ke apartemen nya menuju kearah balkon yang ada di apartemen tersebut dan luna pun di mintainya untuk membuatkan dua cangkir kopi americano yang sering ia buatkan untuk Edward.
Tatapan keduanya masih terus terpantau satu sama lainnya seakan memang tak ada celah untuk masing-masing mengalihkan pandangan mereka.
Tapi entah mengapa tak sama sekali terpancar pembicaraan dari keduanya , perlahan suara Langkah luna mengejutkan keduanya dan setelah menghidangkan minuman yang di minta oleh Edward tak selang lama terdengar hempasan nafas dari tamu yang kini sedang duduk tepat di seberang Edward.
“ sudah lama sekali kau tak Nampak , edd.
Apakah kau sudah enggan bergelut dengan ku? “
Ucap tamu tersebut yang seketika membuat Edward terkekeh sembari menyilakan kaki kanan pada kaki kirinya dan tak melepaskan pandangan tajam nya kepada orang tersebut.
“ aku sudah muak dengan ulah mu , laksa.
Bukan kah sudah aku jelaskan jika aku sama sekali tidak mau ikut campur lagi tentang urusan mu yang masih terus mengejar sanggara.
Aku sudah memiliki dunia ku sendiri , dan pergilah. “
Jelas Edward yang sontak membuat tamu yang ternyata adalah laksa membelalakan matanya karena penolakkan yang baru saja ia dengarkan dari Edward , jelmaan dari siluman serigala putih yang pernah kalah bertarung melawan uraga dan sanggara hingga pada akhirnya menimbulkan dendam yang begitu mendalam terhadap edward sendiri.
Namun setelah apa yang ia miliki di dunia ini , Edward mampu meleburkan segala rasa dendamnya kepada keduanya dan bahkan pun Edward bisa berdamai dengan reinkarnasi dari sanggara yang saat ini menjadi orang kepercayaan nya dan sudah begitu lama Edward memutus hubungan dengan laksa dan juga erlang.
Bahkan Edward pun tau jika maksud laksa mendatangi nya kali ini hanya untuk membantunya Kembali untuk menyelamatkan erlang , sebab laksa pun sadar jika hanya Edward yang mampu mengalahkan uraga tapi bukannya sanggara yang akan menjadi lawannya.
Dengan sikap gagah nya Edward mengambil minuman nya dan segera meneguknya pelan masuk ke dalam tenggorokkan namun berbeda dengan laksa yang masih menatap tajam wajah Edward yang terlihat begitu sangat tenang nya dan laksa pun merasa jika Edward memang sudah tak mau membantunya padahal ia begitu sangat menantikan bantuan dari Edward setidaknya untuk mengalahkan uraga.
“ tidak usah tegang begitu laksa , minumlah kopi mu. “
Ujar Edward yang mempersilahkan laksa untuk meneguk minuman nya.
Dengan berat hati laksa dengan seketika meneguk minuman yang sudah di sediakan untuk dirinya dan setelah itu pun ia masih berpikir apakah Edward akan merubah pikiran nya dan memilih membantunya karena jujur saja laksa sangat menanti kemauan Edward saat ini , begitu besar harapan laksa saat ini untuk mendapatkan minat dari Edward Kembali tapi dari tatapan Edward saat ini pun laksa tau jika ia tidak akan menemukan jawaban apa yang ia mau.
Kemudian terdengar laksa yang menghela nafas panjangnya dan kemudian menepuk pelan kedua pahanya lelu seketika ia pun berdiri.
“ baiklah edd , jika memang kau mau berubah pikiran maka hubungi aku.
Ini kartu nama ku. “
Kata laksa sembari memberikan kartu nama kepada Edward yang sontak membuat edward begitu terkejut dengan apa yang di berikan laksa untuk dirinya hingga membuat Edward mengerutkan keningnya.
“ Sejak kapan kau menjadi pengacara laksana? “
Ujar Edward dengan melantangkan kekehannya Ketika menanggapi kartu nama yang sudah di berikan laksa kepadanya , ia begitu sangat terkejut karena mendapati laksa yang sudah sedikit lebih maju dari apa yang tak biasanya di lakukan oleh laksa.
Sebab untuk menjadi salah satu dari ribuan sangatlah berat untuk siluman seperti mereka yang notabene terkadang juga memangsanya untuk di jadikan santapan nya , namun yang Edward tau hukum langit begitu sangat berat jika mereka yang mau hidup di dunia ini dan menjadi bagian dari manusia harus menjaga sumpah nya dengan dewa langit sebelum mereka benar-benar di perbolehkan turun ke alam manusia.
Edward Kembali menatap tajam kearah laksa yang hanya mengeluarkan smrik pada sudut bibirnya , kemudian terlihat Edward yang mulai memajukan dirinya agar lebih dekat dengan posisi laksa.
“ aku tidak akan terpengaruh dengan ini laksa , jadi jangan pernah berpikir aku akan takut atas apa yang sudah kau miliki di dunia ini.
Jangan pernah bermain api dengan ku jika kau ingin selamat dan tak kekurangan apapun selama ada di alam manusia ini. “
Gertak Edward lirih yang seakan tau apa yang menjadi sesuatu pada pikiran laksa saat ini sebab ucapan Edward yang seketika membuat laksa meregang tegang dalam reaksi gerak tubuhnya dan juga tatapan nya.
“ aku lebih tau apa yang saat ini ada di kepalamu , laksa.
Daripada dirimu sendiri. “
Lanjut kata Edward lagi yang semakin membungkan mulut laksa untuk tidak mambalas perkataan Edward ataupun memikirkan sesuatu yang ada di dalam pikirannya.
“ baiklah , edd.
Aku akan segera pergi sesuai dengan apa yang kau inginkan.
Permisi. “
pungkas laksa yang hanya di tanggapi Edward dengan anggukkan kepalanya saja dan dari arah Edward duduk sekarang pun ia bisa membukakan pintu apartemennya tanpa harus berada di depannya , karena tak ada seorang pun yang ada disana sehingga Edward bisa melakukan sesuatu yang tak bisa di pikir dengan nalar manusia pada umumnya.
“ jangan pernah menantangku , laksa.
Seperti apa yang ada di pikiran mu saat ini.
Aku akan menghancurkan mu jika kau menyentuh manusia yang ada di sekitarku. “
Ujar Edward lirih yang masih melihat laksa berjalan keluar dari apartemen nya saat ini.
***
Setelah menerima beberapa email dari Edward ,
Gara segera memberikan jimmy tugas yang memang sudah di jelaskan untuk dirinya dan untuk segera di kerjakan sesuai perintah dari Edward.
Namun seketika gara merasa ada sesuatu hal yang janggal Ketika Edward menanyakan kepada gara apakah dirinya pernah bertemu dengan seorang pengacara yang Bernama laksana , dan bisa di bilang jika pengacara ini adalah pengacara baru di kota tempat tinggal gara sekarang.
Gara pun menjelaskan jika ia sama sekali tak pernah bertemu dengan seseorang yang di maksud oleh bos besarnya itu , namun entah mengapa gara seakan tak asing dengan nama yang di kirimkan Edward kepadanya dan juga kartu nama yang sudah di kirimkan Edward melalui emailnya.
Tatapan gara sendiri seakan tak pernah terlepas dari kartu nama yang di kirimkan oleh Edward , rasanya memang begitu sangat mengenal nama tersebut tapi gara sama sekali tak mengingatnya.
Nama yang hampir sama dengan sosok yang sudah menyerangnya hingga meninggalkan luka yang mendalam di dalam dadanya.
***