Setelah pesawat landing dibandara setempat, semua orang sangat sibuk dengan bagasi masih-masing, begitupun Rea. Arthur melihat bagasi kabin Rea kesulitan di keluarkan, jadi dia berinisiatif membantu. Begitu dia ingin berjalan keluar melalui pintu, dia melihat Risya berjalan lebih dulu di depan. "Sya, tunggu!" Pekik Rea terburu-buru. Namun Risya bahkan tidak menoleh. Penutup kepala hoodynya menutupi seluruh kepala dengan headset ditelinga, tentu dia tidak mendengar apapun. Lagipula entah sejak kapan dia menggunakan masker. Rea buru-buru mengambil tas dan berlari keluar sementara Risya sudah berjalan semakin menjauh. "Sya. Tunggu aku." Dia berteriak seperti anak kecil yang kehilangan ibunya. "Apa kamu tidak merasa aneh?" Tanya Arthur heran. Ternyata pria itu masih mengikuti di belakan

