Part 8

1670 Kata
Jarak pasar yang cukup dekat dengan pinggiran kota, tempat cafe bergaya klasik dan unik itu berada, membuat Fitri bisa datang lebih cepat daripada biasanya. Vita, gadis yang ditunggu-tunggu itu pun akhirnya datang tak lama setelah kedatangan Fitri di cafe itu. "Hai, Fit. Kamu nggak kelamaan nunggu aku kan?" ucap Vita yang baru saja sampai, kemudian menarik kursi yang berada di depan Fitri, dan mendudukkan dirinya senyaman mungkin. "Nggak, kok. Aku baru aja sampai sekitar sepuluh menitan yang lalu, nggak terlalu lama buat nunggu kamu." "Syukurlah, aku kira kamu udah nunggu lama. Oh ya, ada apa buru-buru ngajak aku ketemuan? Tumben, biasanya aku yang ngajak ketemu duluan," Vita menatap Fitri dengan tatapan sangat penasaran. "Hehe, aku mau ngasih tau kabar bahagia aku ke kamu. Aku---"Belum selesai Fitri menjelaskan, Vita sudah memotong ucapan Fitri dengan hebohnya. "Oh my God, kamu mau nikah, Fit? Seriously? Siapa laki-laki beruntung itu? Aku nggak nyangka, ternyata di antara kita berdua kamu yang akan nikah duluan. Selamat ya, Fit. Kapan hari spesial itu akan dilaksanakan?" Fitri menggelengkan wajahnya beberapa kali sebagai jawaban. Melihat respon yang Fitri berikan kepadanya, Vita mengernyitkan kening heran. "Mmm, tebakan aku salah ya? Oh, I know, I know. Kamu belum mau nikah, tapi kamu udah punya pacar ya sekarang? Siapa, siapa? Kenal di mana? Duh, kayaknya aku harus cepat-cepat cari pacar juga ya? " Fitri kembali lagi menggeleng-gelengkan kepalanya beberapa kali sebagai jawaban. Di tengah-tengah acara tebak-menebak yang Vita mainkan, karena asal memotong perkataan Fitri. Datanglah seorang pelayan yang mengantarkan pesanan Fitri. "Permisi, ini pesanannya, Kak. Spaghetti Bolognese satu, spaghetti carbonara satu, sama minumnya vanilla latte dua ya? Mau pesan menu tambahan?" "Cukup itu dulu, Mas. Nanti kalau kita mau pesan lagi, kita panggil. Makasih ya," ucap Fitri sopan kepada sang pelayan cafe. Melihat itu, Vita kembali mengernyitkan kening heran. "Kamu yang pesen ini semua, Fit?" Fitri yang dari tadi menggeleng-gelengkan kepalanya beberapa kali, kini menganggukkan kepalanya mantap. Membenarkan apa yang Vita tanyakan kepadanya. "Iya, kali ini aku yang traktir ya? Sebagai bentuk rasa syukur aku." Vita mengerjapkan matanya beberapa kali karena heran, ada apa gerangan sampai-sampai Fitri yang jarang sekali membeli makanan-makanan mahal, kini bahkan mentraktirnya? "Oh, Yeah, i know. Kamu bukan mau nikah, kabar bahagia itu juga bukan tentang kamu yang sudah punya pacar, tapi kamu menang lotre ya? Makanya sekarang kamu punya banyak uang? Astaga Fitri, bukanya Bapak kamu selalu marah ya kalau kamu ikutan yang kayak gituan? Nggak ngerti aku sama kamu. Nggak kapok-kapok jadi orang. Ketahuan Bapak kamu tau rasa lho, Fit," ucap Vita seraya menggeleng-gelengkan kepalanya beberapa kali menatap Fitri. Pasalnya Fitri itu sudah beberapa kali bercerita kepadanya, bahwa ia sering dimarahi sang Bapak karena ketahuan main lotre. Apa Fitri tidak jera, sampai-sampai ia kembali bermain lagi dan menghiraukan ceramahan sang Bapak? Fitri yang sudah berusaha sabar sejak tadi pun akhirnya mulai jengah. Sahabatnya ini sedari dulu tidak pernah berubah, selalu saja memotong pembicaraannya kemudian menyimpulkannya sendiri. "Sekarang sudah selesai bicaranya? Sudah selesai memotong ucapanku kemudian ngomel-ngomel tak jelas karena dugaan asalmu itu?" ucap Fitri datar, dan Vita pun hanya bisa menampilkan cengirannya karena merasa bersalah. "Sorry, sorry. Oke deh, sekarang kamu kasih tau aku apa kabar bahagianya itu? Aku janji bakal diam dan menyimak dengan seksama perkataan kamu, tanpa memotong sepatah kata pun. Jangan ngambek gitu dong, jelek tau, hehe. Kamu tuh cantik lho, Fit, kalau lagi senyum. Sekarang senyum lagi dong, cisss, " ucap Vita memohon maaf, disertai dengan rayuan manisnya. Fitri mendengus sebal mendengarnya, kemudian berdamai dan mulai melanjutkan perkataannya yang sempat terpotong tadi. "Singkat cerita, setelah kita bertemu dan membicarakan banyak hal waktu itu, aku mengikuti saran kamu, Vit. Mencari informasi di internet, sosial media, terkait pendaftaran casting dan sejenisnya. Awalnya aku udah mulai nyerah karena udah tiga puluh menitan aku nyari di sana-sani nggak nemu-nemu juga informasi yang cocok dan menarik buat aku. Tapi karena aku paksain lagi buat tetep nyari akhirnya dapet juga informasi pendaftaran casting yang semua kriteria dan persyaratannya cocok dan sesuai dengan aku. Setelah itu aku mulai cerita sama keluarga buat minta izin, dan alhamdulillah mereka ngedukung banget, bahkan adek-adek aku juga mau ikut bantu buat ngelengkapi semua berkas-berkasnya." "Esoknya setelah aku cerita sama mereka. Aku, Dion, dan Ayu mulai bikin video sesuai dengan persyaratan. Baru setelah semua berkas ke kumpul aku daftar secara online. Awalnya aku udah agak pesimis karena ternyata yang daftar banyak banget, tapi alhamdulillah karena mungkin memang rezeki aku, alhamdulillah aku lolos seleksi berkas. Dan hari Senin nanti aku harus udah ada di Jakarta buat ikut casting, seleksi tahap akhir. Doain aku ya, Vit." Fitri tersenyum manis menatap Vita, setelah menyelesaikan ceritanya. "Wah, selamat ya, Fit. Aku ikut seneng dengernya. Tanpa kamu minta sekalipun, aku pasti akan mendukung semua pilihan kamu, dan mendoakan yang terbaik buat kamu. Aku berdoa semoga ini menjadi jalan kamu untuk bisa mewujudkan cita-cita kamu, dan semoga Allah selalu memudahkan semua prosesnya ya, Aamiin. Ah iya, Senin kamu harus udah ada di sana, berarti Minggu berangkatnya dong? Yah, aku berarti nggak bisa nganter ke terminal dong, Fit. Kamu kan tau sendiri hari Minggu aku juga harus udah berangkat ke Yogyakarta, karena Seninnya aku udah mulai kuliah lagi." Vita mengembuskan nafasnya kasar setelah mengetahui bahwa ia tidak bisa mengantar sahabatnya itu ke terminal, ia harus segera balik ke Yogyakarta untuk melanjutkan program study-nya. Fitri menatap wajah Vita dengan tatapan lembutnya. "Makasih ya ,Vit. Sama seperti kamu, tanpa diminta pun aku juga pasti akan selalu mendukung dan mendoakan yang terbaik buat kamu." Fitri mengusap lembut tangan Vita yang berada di atas meja, meminta perhatian gadis yang tengah murung itu. " nggak apa-apa, Vit. Aku bisa mengerti. Kamu nggak bisa nganter aku ke terminal, aku juga nggak bisa nemuin kamu sebelum kamu berangkat ke Yogya. Kita sama-sama punya kesibukan. Nggak apa-apa, walau raga kita tak bisa selalu bertemu dan bertegur sapa, tapi setidaknya kita masih punya senjata paling ampuh kan untuk mengatasi semua itu? Doa, kita masih bisa saling menyapa lewat doa-doa tulus kita." Mendengar itu, Vita mengembangkan senyuman manisnya, kemudian menganggukkan kepalanya beberapa kali, menyetujui semua perkataan yang Fitri lontarkan. Setelah itu, keduanya fokus kepada makanan-makanan mereka yang mulai mendingin, diselingi dengan berbagai cerita, canda, serta tawa yang tak pernah habis mereka bahas. ********** Setelah menjalani kegiatan rutin pagi mereka yaitu sarapan pagi bersama di meja makan, dan setelah Fitri mengecek ulang segala keperluan yang akan ia bawa ke tempat perantauannya, Fitri dan keluarganya memutuskan untuk segera pergi ke terminal. Jarak yang cukup jauh antara rumahnya dan terminal, membuat Fitri dan keluarga memutuskan untuk berangkat jauh lebih awal dari jadwal keberangkatan busnya. Setelah melakukan perjalanan sekitar tiga puluh menitan, Fitri dan keluarganya pun akhirnya sampai di terminal. Di hadapan mereka berdiri, bus-bus sudah bertengger cantik dengan para penumpang yang sudah mulai menaiki busnya, mengingat waktu keberangkatan bus tinggal beberapa menit lagi. Imelda memegang kedua bahu Fitri, kemudian menatapnya dengan tatapan hangatnya. "Hati-hati di jalan ya, Nak. Nanti setelah sampai di terminal pasar minggu, kamu jangan kemana-mana lagi. Langsung ke tempat penginapan ya? Uangnya udah Ibu taruh di tas jinjing kamu. Jangan lupa untuk selalu jaga kesehatan, dan keselamatan kamu. Nanti langsung telepon Ibu ya setelah sampai penginapan." Fitri menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Sang Bapak yang awalnya berdiri di dekat adik-adik Fitri, melangkahkan kakinya maju, mendekat ke arah Fitri dan sang Istri berdiri. "Ingat selalu pesan Bapak ya, Nak. Jangan pernah meninggalkan shalat sesibuk apa pun kamu. Bapak dan Ibu akan selalu mendoakan yang terbaik buat kamu." "Dion juga, Teh. Dion akan selalu berdoa yang terbaik buat Teteh. Dion yakin Teteh bisa meraih cita-cita Teteh selama ini." "Ayu juga, Ayu juga akan selalu doain Teteh. Ayu juga yakin kalo Teteh bisa jadi artis terkenal, sesuai dengan apa yang Teteh cita-citakan selama ini." Bapak, Ibu, Dion, serta Ayu, saling bergantian memeluk Fitri. Menyalurkan semangat, doa, serta dukungan untuk Fitri, mengingat kini saatnya Fitri untuk menaiki busnya. Bus berisikan hampir enam puluh orang, mulai melaju menuju tempat tujuannya masing-masing, diiringi dengan berbagai doa yang terlantun dari para penumpangnya. Setelah melakukan perjalanan selama lebih dari enam jam, bus yang ditumpangi Fitri pun akhirnya sampai di ibu kota. Fitri pun mulai melangkahkan kakinya turun dari bus tersebut. Sesampainya di pinggiran terminal, kini Fitri berdiri dengan perasaan bingung. Keadaan terminal yang sudah mulai sepi, dan Fitri sekarang bingung arah mana yang harus ia pilih, agar ia bisa segera sampai di penginapan. Timur, barat, selatan, atau utara? Di tengah-tengah kebingungan yang Fitri rasakan, datanglah dua pria berbadan besar, berusia sekitar tiga puluh tahunan, menyapa Fitri dengan sangat ramah. "Saya lihat-lihat dari tadi sepertinya Neng ini kebingungan sekali, ya? Pasti baru pertama kali ke Jakarta, ya?" tanya pria berbadan besar dengan rambut panjangnya yang dikuncir kuda. "Iya, Bang. Saya orang kampung, ini pertama kalinya saya ke Jakarta," jawab Fitri dengan santainya. Kedua pria berbadan besar itu saling beradu pandang, diiringi dengan senyuman mereka yang sulit diartikan. "Kamu mau ke mana memangnya? Siapa tahu kami berdua ini bisa bantu." Kini giliran pria berbadan besar, dengan sebuah tato berukuran sedang di tangan kanannya yang bertanya. "Saya mau ke penginapan mawar melati, Bang. Abang tau arah mana yang harus saya pilih?" Kedua pria berbadan besar itu tersenyum manis menatap Fitri. "Penginapan mawar melati? Tentu kami tahu, mari kami antar saja. Di terminal ini banyak orang jahat, nggak baik kamu berlama-lama di sini. Apalagi kamu seorang perempuan," ucap salah satu pria berbadan besar itu, kemudian mengedipkan sebelah matanya ke arah temannya. Fitri mengikuti kedua pria berbadan besar itu, tanpa rasa curiga siapa pria asing itu, dan tanpa rasa khawatir. Karena bisa saja kedua pria yang berada di sebelahnya itu adalah orang jahat, bukan? Apa yang dilakukan Fitri memang bukan hal yang harus disalahkan atau dibenarkan, karena memang kita tidak boleh berburuk sangka terhadap kebaikan yang orang lain tawarkan. Selain itu kita juga tidak boleh menilai orang hanya dari luarnya saja, don't judge a book by the cover, right? Tapi berusaha untuk selalu waspada ketika berhadapan dengan orang asing, tindakan yang harus selalu diingat, bukan? Semoga saja tindakan yang Fitri pilih tadi bukan hal yang salah, semoga saja kedua pria berbadan besar itu adalah dua orang asing yang berniat tulus untuk membantu Fitri. Semoga saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN