Setelah pergi menuju ruang kamar tidurnya, meninggalkan Dewa seorang diri di ruang makan, Fitri benar-benar tidak kembali lagi ke luar. Dia mengurung dirinya di kamar, bergelut dengan ponsel pintarnya sambil rebahan, kemudian langsung bersiap untuk tidur. Hari ini sungguh melelahkan bagi Fitri. Dan tidur, mengistirahatkan tubuhnya adalah obat yang paling mujarab bagi Fitri agar esok hari tubuhnya kembali segar dan bugar. Fitri terbangun dari tidur nyenyaknya. Tenggorokannya terasa sangat kering saat ini. Ia melihat ke arah jam dinding sebentar, dan di sana waktu sudah menunjukkan pukul satu lebih tiga puluh menit. “Sudah masuk waktu dini hari ternyata.” Fitri pun mengalihkan pandangan matanya ke atas nakas, ternyata gelas air minumnya sudah tandas tak tersisa. Dan dengan sangat terpaksa,

