Vanilla POV
“Kamu ingin berjalan di luar? Apa tidak sesak di kamar terus?” ajaknya. Aku menjadi bimbang, aku tidak pernah keluar berjalan-jalan. Aku selalu di kamar terkurung. “Tuan, Nyonya dan saudarimu akan kembali malam.” Aku menatapnya bingung, dia selalu update tentang informasi dalam mansion ini. “Oke?”
Tangan Jose yang terulur kusambut. Jose membantuku berdiri dan membawa tubuh kecilku dalam pelukannya. “Kamu selalu seperti ini kepada wanita-wanitamu?”
“Seperti apa?”
“Memeluk secara random.”
Jose menatapku aneh. “Aku memang meniduri beberapa wanita tetapi aku tidak pernah memeluk mereka.” Jawabnya tangkas. Playboy. Kata itu yang pertama kali terlintas dalam pikiranku. “Aku bukan playboy.” Lanjutnya seperti bisa membaca pikiranku. Aku menoleh terkejut. “Aku benar-benar bukan playboy.” Tegasnya lagi. Lengan kanannya yang melilit di pinggangku semakin erat memelukku.
“Alright… Alright.” Jawabku sambil tersenyum kecil.
“Bunga ini tinggalkan saja di sini.” katanya lagi. Jose mengambil gelas yang biasa kugunakan untuk minum dan mengisinya dengan air dari keran di westafel kamar mandi. Aku menaruh bunga itu kemudian di situ.
Aku menyusuri rumput tanpa alas kaki. Rasanya menyegarkan. Kenapa aku tidak pernah berpikir tentang ini? Jose mengikutiku dari belakang membiarkanku menikmati moment itu. Udara sejuk yang kuhirup membuat pikiranku rileks seketika.
Aku memilih beristirahat di depan sebuah danau kecil. Pohon besar yang menaungi kami memiliki daun lebat. Jose duduk di sebelahku dan menyerahkan sebotol air mineral kepadaku.
“Thanks. Untukmu?” tanyaku bingung.
“Tidak perlu.” Jawabnya dan memejamkan mata menikmati angin yang bertiup secara perlahan. Disitulah aku baru memperhatikan dengan jelas bagaimana tampannya pria di sebelahku ini. Wajahnya terpahat sempurna dengan hidung tinggi, bibir tipis dan alis yang tebal menaungi matanya yang tajam. Rahang kokohnya yang memukau dengan rambut hitam legam yang sedikit bergelombang.
Hatiku semakin menghangat, aku merasakan jantungku berdegup sangat kencang dan cepat. Ini kali pertama aku mengalaminya. “Senang memandangiku?” suara baritonenya mengagetkanku.
“Uh? Ah? No.” ujarku cepat dan mengalihkan pandanganku. Jose menghela napas panjang dan mendekatkan tubuhnya kearahku. Sebenarnya aku menyukai moment saat Jose menempel di sebelahku. Aku menyukai aroma tubuhnya dan parfum yang bercampur maskulin. Sejujurnya aku terbuai.
Ha… kali ini aku menyalahkan hormon kewanitaanku yang tiba-tiba bangkit dari kubur. Oh come on… 27 tahun tanpa sentuhan laki-laki? Masih sibuk dengan pergulatan batinku, aku tidak menyadari jika Jose jatuh tertidur dipangkuanku. “Jose?” bisikku pelan. Dirinya benar-benar terlelap. Aku bisa melihat lingkaran hitam yang samar-samar di bawah matanya.
Memang benar semenjak menjadi pengawalku, dia lebih sibuk dari biasanya. Meski aku menyuruhnya untuk beristirahat, dia tidak akan pergi sebelum melihatku tertidur lelap. Wajahnya tampak damai. Jemariku menyusuri rambutnya dan mengelusnya secara perlahan. Aku menikmati sentuhan lembut setiap helainya. Tanpa sadar akupun ikut tertidur.
Percikan air dari danau mengagetkanku dan terbangun seketika. Aku melihat dua angsa yang mengepakkan sayapnya. Bunyi percikan air itu terdengar saat dua angsa memandikan bulu mereka. Aku melihat Jose masih terlelap dipangkuanku. “Jose.” Bisikku membangunkannya. Kali ini Jose membuka matanya dalam keadaan mengantuk.
“Uh?” Jose bangun dengan cepat. “Maaf, aku tertidur.” Tangannya merapikan jasnya.
Aku tersenyum dan bangkit. “Aku juga terlelap.”
“Aku tidak menyangka aku bisa terlelap seperti ini.”
“Uh?”
“Sudah bertahun-tahun aku mengalami insomnia.”
“Benarkah?”
Jose mengulurkan tangannya membantuku bangkit. “Maaf merepotkanmu.”
“Aku tidak merasa direpotkan.” Kutepuk gaun yang kukenakan dan berjalan terlebih dahulu. Jose mengikuti dari belakang.
“Kapanpun kamu ingin kemari, kamu bisa memberitahuku.”
Aku berbalik dengan senyum manis. “Tentu saja.”
Kedekatanku bersama Jose semakin intens dari hari ke hari. Aku masih tidak mengerti apa maksud sikap baiknya. Apakah dia memperlakukanku hanya sebatas klien ataukah lebih? Lagi-lagi aku tak berani untuk berharap. Aku tak ingin hatiku terluka, terlebih untuk Jose. Dirinya belum mengenal baik betapa brutalnya ibuku. Posisi yang diraihnya bukan hanya dari cara halal, tetapi semua cara dilakukan asal keinginannya tercapai.
Sejujurnya sebagai wanita biasa, aku sadar mulai terpukau oleh sikap gentleman Jose. Dan lagi wanita mana yang menolak pesonanya? Bukan hanya memiliki sikap yang ramah, dia juga memiliki penampilan yang di atas rata-rata. Bahkan sering kali aku menemukan Jocelyn berusaha menggodanya.
Namun pengaruh Maximus benar-benar menjaga Jose dari terkaman kebrutalan puteri-puterinya sendiri. Itulah mengapa Maximus terlihat semakin mempercayai Jose.
“Apa Jose menjagamu dengan baik?” suatu siang Maximus menghampiriku yang sedang berada di balkon lantai dua.
“Papi.” Aku bangkit terkejut, biasanya jam segini dia tak berada di rumah.
Maximus tersenyum dan duduk dikursi yang berada di hadapanku. “Papi menganggumu?”
“Tidak.” jawabku datar. Aku memainkan kesepuluh jariku kikuk.
“Jose menjagamu dengan baik?”
“Ya.” senyum kecil terukir dibibirku.
“Syukurlah.” Lanjut Maximus, mulutnya terbuka ingin kembali bertanya namun memilih diam. “Bagaimana dengan script terbarumu?” tanya setelah beberapa saat.
Wajahku terangkat syok. “A… apa?” Maximus tertawa kecil. “Papi mengetahuinya?”
“Tentu saja.”
“Berarti mami…” tubuhku bergetar dengan hebat.
“Wera belum mengetahuinya.” Aku menunduk ketakutan. Jika Maximus mengetahuinya, tidak lama Wera pasti akan mengetahuinya juga. “Nak, jika kamu ingin menjadi script writer gapai mimpi itu. Wera hanya satu dari ribuan orang keras di luar sana. Mungkin saat ini kamu masih harus menderita di bawah pengaruhnya dan Papi tidak bisa melakukan apapun. Tetapi percayalah semua ada masanya. Semua air mata yang kamu tumpahkan akan terlewati dan terganti oleh suka cita.” Terang Maximus pelan.
Wajahnya terang penuh kesedihan. Aku tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah dan ibuku selalu menghalangi itu. Tetapi berbicara dengan Maximus saat ini menggugah hatiku. “Terima kasih, Pi.”
“Jose akan menjagamu dengan baik.” Terang Maximus sebelum meninggalkan tempat duduknya. Begitu aku ingin bertanya lebih lanjut, pengawalnya menghampiri dan menuntunnya pergi.
Beberapa minggu kemudian, hubunganku dan Jose semakin dekat. Aku tahu benar dia seperti itu karena pesan Maximus. Aku tidak ingin berharap banyak. Aku tidak ingin mengkhayal terlalu tinggi dan kecewa pada akhirnya.
Script ke 3 yang kukerjakan akan di remake versi terbaru sehingga aku menulisnya ulang dengan bahasa yang lebih ringan. Jam menunjukkan pukul 11 malam tetapi aku belum ingin tertidur. Tetapi saat sedang setengah mengerjakannya, pintuku terbuka dengan cepat. Wera mendekatiku dengan wajah menyeramkan. Kesepuluh jarinya siap mencakarku kapan saja.
“VANILLA!” Teriaknya menggelegar. Aku menutup laptopku dengan cepat sebelum Wera berhasil menarik rambutku dan menyeretku. Aku bisa mencium bau alkohol dari tubuhnya. Aku berusaha mengimbangi langkahnya yang cepat.
“Vanilla!” Jose memanggilku. Aku dan Wera menoleh bersamaan. Wajah Jose terlihat gusar. Tangannya yang kekar berusaha memisahkan kami.
“Kurang ajar! Siapa kamu!” Wera berteriak nyaring dan berusaha menjauhkan tubuh Jose. Terang tenaga Jose jauh lebih besar sehingga berhasil memisahkan kami dan menggendongku cepat.
Jose memelukku sangat erat dalam pelukannya. Aku bisa merasakan napasnya yang memburu cepat. “KEMBALIKAN PUTERIKU!” Wera berdiri dengan mata mengkilat murka. Jose tidak menjawab dan melindungi tubuhku yang kecil dengan tubuhnya yang besar.
“Anda sudah keterlaluan, Nyonya. Nona terluka.”
“Apa pedulimu! Anak itu milikku! Apapun yang kulakukan padanya bukanlah urusanmu!” raung Wera semakin keras. Beberapa pengawal menunggu diluar namun tidak berani memasuki kamarku.
“Jo… se…” aku menyentuh lengannya.
“No, Vanilla! Cukup sudah.” Suara baritonenya dominan mengaum. Aku tahu dia sedang dalam mode serius.
“KEMBALIKAN!” Wera menggila dan mengambil vas bunga lalu melemparkannya kearah kami berdua.
PRANGG!