SEMBILAN BELAS - Kamu mencintaiku?

1113 Kata
Jose POV  “Aku tahu semuanya.” Kataku menenangkan. “Jose, please…” “Kamu mencintaiku?” entah keberanian apalagi yang membuat kata-kata ini terlontar. Vanilla menatapku syok, bibirnya sudah ingin berucap tetapi diam seketika. “Vanilla…” panggilku lembut. “Katakan sejujurnya, kamu mencintaiku?” tanyaku kali ini sedikit tidak sabaran. Hatiku berdegup sangat kencang, ini kali pertamanya aku merasakan gugup seperti ini. Bagaimana jika dia menolakku? Kami terdiam lama membiarkan Vanilla larut dalam pergumulan hatinya. “Ya.” jawabnya lirih. Wajahku terangkat tak percaya. “Benarkah?” aku tak yakin dengan apa yang kudengar, hatiku seperti ingin meledak. Vanilla mengangguk dengan wajah memerah malu. “Yesssss!” Kupeluk kembali tubuhnya erat. Kukecup puncak kepalanya lembut berulang kali. Vanilla hanya pasrah menerima perlakuanku. Aku begitu terlarut dalam euphoria ini. Tiba-tiba tangan Vanilla mencengkram lenganku erat, matanya menatap kearah belakangku horor. Aku menoleh dan mendapati tiga orang pria tidak dikenal menghampiri kami. Wajah mereka begis dengan seringai menjijikkan. “Wah… cakep juga nih.” Kata salah satu di antara mereka yang bertubuh paling besar. Aku bangkit dan melindungi Vanilla di belakangku. “Owooo… cowoknya terlihat posesif.” Kata yang berada di tengah. “Jose…” bisik Vanilla bergetar. Wajahnya kini mulai kembali memucat. s**t! Makiku dalam hati. Aku menatap mereka satu persatu, sepertinya mereka menyembunyikan senjata tajam. “Kami tidak ingin ada masalah.” Kataku tenang. Ketika dari mereka tertawa. “Tentu saja. Kami juga tidak ingin ada masalah.” Aku memegang tangan kanan Vanilla dan berlalu. “Eitss… mau kemana.” Lagi-lagi yang bertubuh paling besar menghalangi jalanku dan mereka mulai ingin menyentuh Vanilla. Melihat itu, aku tiba-tiba menjadi gelap mata dan mendorong tubuh mereka keras. “Damn!” makinya dan bangkit. “Serahkan wanita itu dan harta bendamu.” “Ah… kalian ingin merampok kami?” cibirku. Tubuh Vanilla kembali bersembunyi di belakangku. “Oke! Majulah kalian.” aku membuka jas yang kukenakan dan menutupi tubuh Vanilla yang hanya mengenakan pakaian rumah tipis. Ketiganya maju serentak menyerang. Berbekal ilmu bela diri bertahun-tahun lamanya, dengan mudah aku mengalahkan mereka. Salah satu dari mereka bahkan mengeluarkan pisau dan dengan cepat kutangkis. Mereka tersungkur ditanah tak berdaya. “A… a… amp… ampun.” Kata salah satunya. “Di mana penginapan terdekat dari sini.” tanyaku sangar. “Ti… tidak jauh.” Jawab salah satunya terbata. “Beberapa kilometer kalian akan mendapat banyak penginapan.” Lanjut yang satunya. Aku mengangguk dan meraih Vanilla dalam pelukanku. Kami memasuki mobil dan kembali melanjutkan perjalanan. Kami mengendarai mobil sekitar 30 menit lamanya. Pusat kota ini memiliki beberapa hotel namun aku memilih menyewa sebuah rumah kecil yang lebih tertutup. Pemilik rumah terlihat tidak curiga dan memberikan kunci rumah setelah aku memberinya beberapa lembar uang sebagai bayaran lunas. Rumah itu memiliki dua kamar, satu dapur dan satu ruang tamu dan kamar mandi disetiap kamar. Vanilla sedang mandi membersihkan tubuhnya, aku berinisiatif untuk berbelanja keluar untuk pakaian dan makanan. “Aku hanya akan berjalan kaki, jangan membukakan pintu untuk siapapun sampai aku kembali. Paham?” kataku pada Vanilla. “Kamu tak akan lama kan?” Vanilla terus memeluk lenganku. “Aku tak akan lama.” Kukecup keningnya dan tersenyum menenangkan. Vanilla mengangguk mengerti. Aku menyusuri jalan dan membeli beberapa pakaian untukku dan Vanilla. Aku berusaha secepat mungkin tanpa memilih sesuatu yang kompleks. Vanilla pasti ketakutan sendirian. Begitu memasuki halaman rumah, hatiku berdebar kencang. Ada yang aneh. Aku membuka pintu yang tidak terkunci, sekeliling rumah gelap. “VANILLA!” aku memanggil dengan kalap. “VANILLA!” Aku menyalakan lampu dan menemukan Josiah duduk di ruang tamu dengan tampang garang. “Pi!” pekikku. Well… sudah beberapa waktu ini Josiah mengadopsiku menjadi anaknya sehingga panggilankupun lebih akrab jika kami sedang berdua. Josiah bangkit dan memukul kepalaku keras. “Anak bodoh.” Josiah melempar kamera kecil dan beberapa alat pengintai di atas meja. Aku mengelus-elus kepalaku yang sakit. “Papi tahu dari mana.” Protesku. “Kalau kamu membawa lari anak gadis orang setidaknya pintar sedikit.” Omel Josiah dan kembali duduk. “Aku sudah mencopot GPS di mobil!” belaku sambil meletakkan makanan dimeja. “Itu GPS yang diletakkan keluarga gadis itu tetapi kita meletakkan GPS cadangan sebagai plan B. Kamu lupa?” “Ah!” aku baru mengingatnya. “Aku berpikir Papi tidak akan memburuku.” “Jose…” Josiah memijat keningnya lelah. “Kamu tahu diinstansi kita bukan hanya aku yang memantaumu, meski mereka tahu bahwa kamu adalah anakku, tetapi banyak orang ingin menjatuhkanmu juga. Bagaimana jika mereka menyalahgunakan alat ini. Kamu bisa dalam bahaya!” Kali ini Josiah menaikkan suaranya. “Uh?” suara Vanilla mengangetkan kami. Rambutnya terlihat basah. Dirinya masih mengenakan pakaian lamanya yang kotor. Aku dan Josiah menoleh cepat. Aku bangkit dan menghampirinya dengan baju dalam genggamanku. “Dia adalah orangtuaku. Pakailah pakaian ini dulu.” Aku menuntunnya kedalam kamar. “Ibunya menyewa preman mengejar kalian.” tambah Josiah ketika aku memasuki ruang tamu kembali. Aku terduduk disofa lesu. “Ibunya gila.” “Dan kamu lebih gila.” Sengit Josiah. “Papi tahu bagaimana gadis itu disiksa.” aku berusaha membela diri. “Tapi bukan begini caranya. Gadis itu hanya akan semakin mendapat masalah.” “Aku tidak akan memulangkannya.” Kukuhku. “Ha?” “Dia milikku!” Lanjutku tegas. “Anak ini!” Josiah kembali memukul kepalaku keras. “Papi benar-benar tidak mengerti. Banyak wanita yang lebih baik kenapa harus anak dari Wensey itu.” “Vanilla berbeda, Pi.” Josiah tertawa kecil. “Kamu tahu ibunya tidak akan sudi merestuimu?” “Aku tahu.” “Wanita sinting itu tidak gila harta, tetapi gila kedudukan. Kamu pikir kenapa selama ini Vanilla tidak dinikahkan?” Aku terdiam tanpa ingin menyela. “Karena dia menunggu pria dengan kedudukan tinggi untuk mencapai ambisinya. Disitu dia akan menjual puteri satu-satunya. Meski kamu kaya raya tetapi latar belakangmu gelap, Nak. Sadarlah.” “Aku tetap tidak akan menyerahkan Vanilla.” Josiah menghela napas lelah. “Lelah berdebat denganmu.” Josiah melirikku dari atas hingga bawah. “Mandilah terlebih dahulu, kamu pasti lelah.” “Papi kesini sendirian?” “Kamu pikir disituasi seperti ini aku masih sempat membawa anak buah?” “Oh oke…” aku bangkit dan menuju kamar mandi sebelum Josiah kembali mengomel. Setelah selesai, aku menikmati makan malam bersama Vanilla. Josiah masih terduduk di ruang tamu terus menerus menjawab telepon. “Dia ayahmu?” bisik Vanilla. “Ya.” “Kalian tidak mirip.” Selidik Vanilla. Aku nyaris tersedak lucu mendengar kata-katanya. “Benarkah?” “Ya, I mean…” “Papiku jelek dan aku tampan begitu?” tanyaku menggoda. “Ah… No… Jose!” Vanilla merona malu. “Pi… Papi dibilang jelek sama Vanilla nih!” teriakku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN