SEPULUH - Bodyguard

1070 Kata
Jose POV “Wanita itu memuaskanmu?” tanya Josiah to the point. Tanganku yang sedang menyuapkan makanan kemulut terhenti diudara. “Kenapa?” “Aku hanya bertanya.” Josiah tersenyum kecil. “Aku lupa.” “Lupa? Aku tidak pernah menyangka kamu akan melupakannya hanya dalam beberapa jam saja.” “Maksud dan tujuannya?” Entah mengapa moodku menjadi buruk. “Usiamu sudah 25 tahun, kamu tak berpikir untuk menikah?” “Dengan wanita itu?” “Well… namanya Sadie. Wanita itu memang tua setahun darimu, pekerjaan adalah seorang model.” “Aku tidak memikirkan pernikahan sekarang.” Jawabku singkat. “Aku cukup sibuk dengan semua latihan ini.” Aku memutuskan untuk bekerja sebagai bodyguard. Berbagai latihan dan sekolah etika kulalui tanpa mengeluh. Setidaknya rutin ini sudah berlangsung satu bulan. Adapun kegiatannya tidak menyulitkanku. “Itu hanya permulaan, Nak.” “Aku siap.” Ujarku berapi-api. Josiah mengangguk sambil tersenyum. Setelah menyantap makan pagi, aku segera menuju ruang gym dan area berlatih. Di sana aku diajarkan untuk membentuk postur tubuh, ketahanan fisik, kelincahan, dan meningkatkan refleks tubuh. Dari 24 jam waktuku, 18 jam kugunakan untuk berlatih dan belajar. Sisanya untuk beristirahat. Jika seniorku mengadakan pesta, maka aku akan menghadirinya untuk bersenang-senang. Karena kegigihanku, dalam kurun waktu 1 tahun, aku sudah diangkat menjadi pegawal professional yang dapat turun kelapangan secara langsung. Aku mengikuti Josiah berhijrah ke Negara Amerika dan tinggal di Los Angeles. Pusat perkantoran Josiah memang di Negara ini. Pekerjaan pertamaku adalah menjadi pengawal pribadi senator Negara bagian Amerika Serikat Colorado. Pekerjaan itu tentu saja sudah mempertaruhkan nyawa. Aku bekerja secara team dengan 10 orang bodyguard lainnya. Pekerjaan itu kulakoni selama 5 tahun hingga senator yang lain menggantikan dalam pemilu setelahnya. Struktur bagian Negara ini terbilang penuh dengan perbukitan dan tebing. Kesempatan itu kulakukan untuk berlatih setiap melaksanakan tugas utamaku. Aku sedang mengepak pakaianku kedalam dua koper besar saat Josiah menghubungiku. “Hai, Nak.” “Ya, Paman.” Jawabku sembari menyalakan earpods. “Kamu sudah berkemas?” “Ya, sementara kulakukan.” “Jam berapa pesawatmu?” “4 sore.” “Silas akan menjemputmu.” “Tidak perlu, aku bisa menggunakan kendaraan bandara.” “Oke. Berhati-hatilah dijalan.” “Baik, Paman.” Aku kembali merapikan pakaian-pakaian yang akan kubawa. Sebagian darinya sudah kusumbangkan kepada panti asuhan yang memerlukan. Satu koper milikku berisi baju dan celana, sedangkan satunya berisi perlengkapan elektronik dan senjata milikku. Penerbangan dengan pesawat menghabiskan waktu kurang lebih 1 jam. Setibanya di mansion Josiah, aku segera membersihkan diri dan bersiap untuk makan malam. “Hi.” Sebuah suara mengangetkanku yang sedang mengenakan kemeja. Aku menoleh cepat. Siapa lagi wanita ini? Aku sangat buruk mengingat nama wanita yang sudah tidur denganku. “Sadie? Kamu melupakanku lagi?” tawanya manja dan mendekatiku. Aku tidak memberi reaksi apapun dan lanjut mengenakan jam R*lex edisi terbatas yang diberikan Josiah sebagai hadiah ulang tahunku. Sejujurnya sampai sekarang aku tidak mengerti kenapa Josiah terlihat begitu mempercayaiku. “Kamu terlihat semakin menggiurkan, bertahun-tahun kita tidak bertemu.” Sadie meraih wajahku dan mengulum bibirku lapar. Aku memilih diam tak memberika reaksi. Well… sejujurnya aku sedang lelah. “Aku bisa menemanimu malam ini.” Bisiknya. Aku meraih tangannya yang memeluk leherku dan menjaga jarak. Jemari kirinya yang tersemat cincin pernikahan kuangkat di antara wajah kami. “Aku pantang berhubungan badan dengan wanita yang sudah bersuami.” Jawabku dingin dan berlalu meninggalkannya dengan wajah memerah malu. Aku memang tidak bisa menolak wanita cantik dan seksi di hadapanku tetapi otakku masih bisa berpikir waras. Aku tidak ingin bergelut dengan drama memuakkan hanya karena dituding merebut istri orang. Oleh karena kenikmatan sesaat aku harus mencoreng semuanya. Semua kerja kerasku akan runtuh jika aku tidak dapat mengendalikan birahi liarku. Tidak! Aku tidak akan jatuh sebelum menggenggam nyawa Andra ditanganku. *** Vanilla POV  Aku menghabiskan waktu duduk bercermin selama dua jam hanya untuk bersiap menghadiri sebuah premier film ibuku malam ini. Letta membantuku bersiap. Jordyn memasuki kamarku setengah berlari dan menatapku tajam. Ah… apa lagi. Aku lelah menghadapi dramanya setiap hari. “Kembalikan tiara yang diberikan Papi kepadamu!” lontarnya tajam. Aku mengangguk kepada Letta untuk mengambilkan tiara itu. Jordyn tidak akan pergi sebelum mendapatkan apa yang diinginkannya. Wajahnya ceria seketika dan merebut tiara itu dari tangan Letta kasar. “Kamu terluka?” tanyaku kepada Letta saat Jordyn sudah tidak berada di ruangan ini. “Tidak masalah.” Letta mengibaskan jemarinya dan kembali meraih lipstick untuk mendandaniku. “Enough.” Aku meraih lipstick itu dan mengenakannya sendiri. “Kamu sudah bekerja dari pagi. Istirahatlah.” Letta tersenyum dan meraih air mineral. “Waktu berlalu begini-begini saja. Si kembar menyebalkan itu semakin memuakkan. Tiara itu adalah milikmu.” “Aku tidak peduli dengan tiara. Mereka bisa memilikinya jika mereka mau.” “Tuan memintamu memikirkan hadiah ulang tahunmu yang ke 27.” “Tidak ada.” Letta bangkit dan memelukku erat. “Bagaimana dengan jodoh?” godanya. Aku menatapnya dengan senyum lebar. “Lalu calon suamiku akan tahu jika calon istrinya harus terus teraniaya selama ibunya masih hidup tanpa bisa melakukan apa-apa.” “Selama calon suamimu jauh lebih kaya dari Tuan dan Nyonya, mereka akan diam.” Kali ini aku tertawa kecil. “Siapa laki-laki mapan dan sukses yang menginginkan barang rusak? Sekali unboxing, mereka akan berpaling dan tak pernah kembali.” “Kamu berharga! Jangan berpikir seperti itu.” sewot Letta. “Aku hanya berpikir realistis. Tubuhku rusak dengan banyak cacat sana sini. Hidup sampai usia 27 saja sudah merupakan mimpi besar.” Imbuhku. Letta kembali memelukku erat. Kekasih? Suami? Itu hanyalah mimpi indah yang tidak akan pernah aku miliki, sekarang ataupun nanti. Itulah yang kupikirkan. Keesokan harinya, aku duduk menikmati sarapan bersama Wera, Maximus, Jocelyn dan Jordyn. Entah sampai kapan dua puteri kerajaan manja ini mendapat job film lagi dan segera pergi. Meskipun Wera dan Maximus berusaha memasukkan nama mereka dalam setiap casting film atau drama terbaru, sepertinya kualitas akting buruk mereka sudah diketahui khalayak ramai dan berefek pada tawaran pekerjaan untuk mereka. “Nak, Papi dan Mami berencana mengganti semua pengawal kalian mulai bulan depan.” Maximus memulai percakapan. “Why?” Jocelyn bertanya frontal dengan angkuh. Sudah tidak asing lagi jika dia sering meniduri pengawal pribadinya sehingga Maximus harus memecat mereka berulang kali. “Kamu yang paling tahu kenapa!” Maximus tidak bisa menyembunyikan kekesalannya. Aku diam mendengarkan tanpa ingin menyela. Toh selama ini pengawal pribadi itu tidak melakukan apapun. Hampir seluruh kegiatanku sehari-hari hanya berada di rumah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN