Elena terburu-buru menuju kantor Alvin pagi itu setelah mendapat telepon dari CEO yang berstatus sebagai suaminya yang memintanya mengantarkan sebuah dokumen penting yang harus segera ditandatangani.
“Aku baru saja datang, dia sudah membentakku lewat ponselnya. Dasar, suami sialan!” omel Elena sambil berlari-lari kecil melangkah ke ruangan Alvin pagi itu.
Setibanya Elena di depan pintu yang agak sedikit terbuka, Elena mematung, bingung mau masuk atau membiarkan suaminya menyelesaikan permainan bibirnya dulu dengan wanita yang ia ketahui sebagai kekasih Alvin yang bernama Luna.
“Sialan! Kenapa mereka b******u di sini, sih? Sekarang aku harus bagaimana? Masa aku harus menonton dan mendengar suara bibir mereka, sih?” geram Elena kesal.
Di hati kecilnya, ia terluka melihat kemesraan Alvin dan kekasihnya. Bukannya ia cinta atau cemburu melihat suaminya begini, tapi lebih ke rasa tersinggung karena harga dirinya terinjak-injak sebagai seorang istri.
Paling tidak, Alvin jangan melakukan hal intim seperti make out di depan umum begini. Hatinya perih. Ia benar-benar mengutuk kejadian malam itu yang membuatnya terhina begini.
‘Dia melihatku memagut bibir Luna. Rasain! Aku juga bisa bermesraan, bukan cuman kamu wanita gatal,’ batin Alvin puas, masih melumat bibir kekasihnya sambil melirik ke arah pintu.
Alvin merasa puas bisa balas dendam. Dikiranya dia sendiri yang bisa pacaran apa? Alvin lega dan bangga bisa memanasi Elena saat ini. Ia pastikan Elena akan terus melihat kemesraannya setiap hari.
‘Pagi ini aku akan menyuruh Elena ke ruanganku berkali-kali biar mampus sekalian,’ batin Alvin lagi.
Alvin sendiri tak mengerti kenapa ia jadi kekanakan begini. Yang jelas ia puas saat ini.
“Boleh saya masuk, Pak Alvin! Saya mengantar dokumen yang perlu anda tanda tangani,” pinta Elena sopan menahan sakit dan rasa tersinggungnya.
Luna segera melepas tautan bibirnya dari kekasihnya lalu membenahi pakaiannya.
“Ada sekretaris kamu, Vin,” ucap Luna santai.
“Iya, Honey. Kita lanjutin nanti, ya! Aku tanda tangan dokumen dulu. Kamu duduk saja di pangkuanku. Bukannya kamu ingin orang-orang tahu hubungan kita?” pinta Alvin lembut.
Luna menuruti permintaan Alvin. Tentu saja ia mau melakukan apa saja untuk Alvin. Setiap hari ia mendapat hadiah perhiasan, tas mahal, sepatu bahkan barang-barang branded lainnya. Yang belum ia rasakan, hanyalah tidur bersama dengan kekasihnya ini. Ia sering mengajaknya, tapi Alvin tidak mau melakukannya sebelum ada ikatan resmi. Akhirnya Luna hanya harus berpuas diri menikmati bibir dan harta Alvin saja untuk saat ini.
Alvin menahan senyum puasnya dalam hati ketika melihat Elena sudah berdiri di depan pintunya sambil menunduk. Sebentar lagi ia akan memanasi Elena kembali. Elena harus tahu kalau pernikahan mereka tak ada artinya sama sekali baginya.
“Masuk, Sekretaris Elena!”
Elena merasa tambah geram dan kesal melihat Alvin memangku Luna dengan mesra seperti ini. Bisakah ia melakukannya di hotel saja, jangan di kantor begini? Dasar, Alvin berengsek! Elena tak henti-hentinya mengumpat Alvin dalam hati.
“Ini dokumennya, Pak. Kalau begitu saya permisi dulu,” seru Elena tak sanggup lagi berada di dalam ruangan yang sama dengan Alvin.
“Tunggu di sini! Aku akan langsung tanda tangan sekarang lalu bawa pergi dokumen ini bersamamu,” kata Alvin tersenyum sinis.
“Baik, Pak.”
Elena terpaksa menunggu. Selagi menunggu, sempat-sempatnya Alvin memagut bibir Luna di depannya membuatnya terpaksa memalingkan wajahnya, menahan kesal dan sakit hati karena diinjak-injak harga dirinya sebagai istrinya.
Alvin lagi-lagi tersenyum puas melihat reaksi Elena saat ini. Ia sangat bangga memiliki kekasih cantik seperti Luna dan juga sangat senang memamerkan kemesraannya begini pada wanita yang menghancurkan masa depannya.
“Ah, maaf! Aku sering lupa diri kalau sudah bersama kekasihku. Ini dokumennya, Sekretaris Elena. Kamu boleh meninggalkan ruangan ini sekarang.”
“Baik, Pak. Saya permisi,” kata Elena menunduk hormat lalu secepat kilat melangkah dari ruangan lelaki laknat yang menghancurkan kehormatannya.
‘Aku harus kuat. Tak sampai 3 bulan lagi aku akan bercerai dari b******n ini. Ingat surat ceraimu saja, Elena! Surat cerai itu adalah bukti bahwa anakmu punya papa kandung dan tak akan dibully teman-temannya dan dicap anak di luar nikah.’
Elena menguatkan dirinya serta menyugesti hatinya berkali-kali agar tak memusingkan apa yang dilakukan si berengsek itu lagi.
Elena segera kembali ke mejanya dan mulai fokus mengerjakan tugasnya lagi, berusaha hanya memikirkan masa depan anaknya.
***
“El, kita ke kantin lagi, yuk!” ajak Farrel yang tiba-tiba saja sudah berada di mejanya membantunya menyusun dokumen di atas meja.
Tanpa sengaja tangan Farrel menyentuh tangan Elena dan mereka refleks terkejut lalu saling bertatapan lama. Tatapan mereka terkunci selama beberapa saat membuat Alvin yang ingin mengantar Luna, menjadi panas hati karenanya.
‘Berengsek! Tak ada tempat lain apa kalau mau saling tatap begitu mesra begitu,’ geram Alvin dalam hatinya.
Alvin berang. Hatinya panas seolah ada bara api di dalam hatinya. Ia ingin menegur Elena dan Farrel sekalian menyindir dan memarahinya, tapi saat ini ia sedang bersama dengan Luna. Apa kata Luna nanti kalau ia melabrak mereka?
“Wah, sekretaris cantik kamu itu punya pacar ganteng juga, ya! Itu manajer Farrrel, kan? Cocok banget mereka berdua, Vin. Kalo mereka menikah, pasti anaknya ganteng dan cantik karena mereka berdua sama-sama rupawan. Kayak kitalah kalo udah nikah nanti. Pasti anak kita rupawan seperti kita,” seru Luna semringah melihat intensnya tatapan Elena dan Farrel saat ini.
“Cocok dari mana, Honey? Si Farrel yang buntung dapat istri modelan Elena,” ceplos Alvin menahan geram.
Entah kenapa ia tak mau membayangkan punya anak bersama Luna. Ia malah fokus dengan rasa kesalnya karena perkataan Luna soal Farrel akan menikahi Elena dan mendapat anak yang rupawan karena perpaduan gen mereka.
Kenapa ia tak rela Elena punya anak dari Farrel? Dan kenapa ia tak rela anaknya yang sekarang dikandung Elena mendapat papa sambung seperti Farrel. Awas saja ia akan marahi Elena nanti!
“Loh, cocok banget itu, Vin! Aku seneng lihat mereka,” tambah Luna semakin membuat Alvin meradang.
“Masa bodoh, Honey. Aku ga peduli yang lainnya selain kamu. Ayo, aku antar turun!” ajak Alvin mengalihkan pembicaraan lalu bergegas mengantar Luna meninggalkan Farrel yang masih saling menatap intens dengan Elena.
‘Tunggu! Aku akan mengomelimu, Elena berengsek! Bisa-bisanya sedang hamil anakku dan belum bercerai dariku sudah main mata di depan umum begini. Bagaimana jika sedang berdua? Kamu pasti akan liar beradu bibir dengan Farrel dalam keadaan mengandung anakku. Sialan!’ omel Alvin dalam hati.
Alvin kesal dan marah saat ini. Membayangkan Elena berpagutan mesra dalam keadaan hamil anaknya, membuat darahnya mendidih.
Tidak bisa begini! Ia akan mengultimatum Elena selepas ia mengantar Luna nanti. Dalam hati Alvin tak henti-hentinya mengumpat Elena.
‘Elena kurang ajar! Tak akan aku biarkan kamu dekat dengan laki-laki mana pun selama kamu mengandung anakku.’
Bersambung