Jujur pada Farrel

1064 Kata
“Kenapa kamu jadi murung, El?” tanya Farrel khawatir. Sejak memergoki Alvin dan Luna di ruangan CEO tadi, Elena tak henti-hentinya menghela nafasnya. Tawa yang ia tampilkan hanya sekilas saja tadi dan kini, Elena lebih banyak merenung dan melamun serta tidak fokus lagi diajak bicara. Ini tentu saja membuat Farrel cemas. Elena menghela nafasnya dalam lalu menghembuskannya lelah. “Aku nggak apa-apa, Rel,” sahut Elena tak ingin Farrel tahu masalah yang sedang dihadapinya. Jujur saja, Elena merasa sangat terhina saat ini. Ia sungguh tak terima diperlakukan begini. Kenapa b******n itu sengaja menunjukkan kemesraannya padanya setiap hari? Apa untungnya baginya, sebenarnya? Kenapa Alvin membuatnya merasa begitu hina? Elena sama sekali tidak memiliki rasa pada Alvin, tapi jangan begini juga perlakuannya padanya. Andai dia ingin bermain panas dengan kekasihnya pun, Elena tak peduli, tapi jangan di depan matanya. Elena geram dan tak akan sudi mempertemukan anaknya dengan Alvin yang tak bermoral itu sampai kapan pun. “Kamu ga usah bohongin aku, El. Aku tahu kamu punya masalah. Ceritakan padaku! Mana tahu aku bisa bantu kamu?” kata Farrel memaksa. Elena menimbang-nimbang lagi apa yang ia harus saat ini. Apa ia harus menceritakan hal ini pada Farrel atau tetap menyimpannya sendirian? Setelah cukup lama merenung, akhirnya ia memutuskan memberitahu Farrel yang sesungguhnya. Ia tak tahan lagi bekerja di kantor yang sama dengan Alvin. Mana tahu Farrel punya solusi agar ia tak kena denda saat berhenti sebelum kontraknya berakhir. “Aku hamil, Rel. Aku hamil anak Pak Alvin,” aku Elena jujur. Farrel terjejut setengah mati mendengar penuturan dari Elena barusan. Wanita yang ia sukai ini, ternyata sedang hamil dan yang lebih mengejutkan adalah kenyataan bahwa anak yang dikandung Elena adalah anak Alvin, pemilik Wiratama group. “Kamu bercanda, kan, El?” seru Farrel tidak percaya. “Aku beneran hamil, Rel. Waktu kita menang tender, aku ga sengaja minum alkohol dan terjebak one night stand sama Pak Alvin. Saat ini ia telah menikahiku agar anakku tidak lahir di luar nikah dan akan bercerai 3 bulan lagi saat kontrak kerjaku habis. Masalahnya aku udah ga tahan lagi sekantor sama dia, Rel,” terang Elena menyuarakan isi hatinya. Farrel tertegun. Jadi, semua ini kecelakaan dan dengan kejamnya Alvin menelantarkan istri dan anaknya, malah sibuk make out dengan kekasihnya di depan mata Elena beberapa hari ini. Farrel sungguh geram pada Alvin. “Kamu mencintai Pak Alvin, El?” tanya Farrel menyelidik. Elena menggeleng sambil menatap mata Farrel. “Tidak. Sama sekali tidak, Rel. Namun, aku merasa terhina diperlakukan bagai sampah begini. Pak Alvin dengan sengaja memanggilku ke ruangannya untuk menunjukkan hot kissnya dengan kekasihnya padaku, Rel. Aku tak mau anakku ini bertemu dengan Alvin selamanya. Aku kasihan melihat anak ini karena terlahir dari benih laki-laki kasar, jahat, kejam dan tak bermoral seperti dia,” lirih Elena perih. Farrel benar-benar terbakar emosi mendengar cerita dari Elena. Ia paling benci melihat laki-laki yang tidak bertanggung jawab seperti Alvin. Farrel akan membantu Elena menjauh dari Alvin bahkan keluar dari kehidupan Alvin untuk selamanya-lamanya. "Apa kamu mau berhenti, El?" tanya Farrel memastikan. "Kalau bisa hari ini, aku ingin berhenti hari ini juga, Rel. Aku ingin hidup tenang jauh dari b******n yang telah merenggut kebahagiaan dan masa depanku." "Bagaimana finansialmu, El? Bagaimana kamu bertahan hidup untuk merawat anakmu? Pak Alvin memberimu jaminan tunjangan anak, kan? Keterlaluan jika ia tidak memberi tunjangan anak padamu," ucap Farrel mencemaskan kehidupan Elena pasca bercerai dari Alvin. Biar bagaimana pun sangatlah berat untuk menjadi single parent, apalagi jika finansial tidak mendukung. “Dia bilang dia mau memberikan tunjangan hingga anak ini selesai kuliah, tapi aku sepeser pun tak sudi memberi makan anakku menggunakan uangnya. Aku mampu membiayainya sendiri, Rel,” ucap Elena yakin. Ia tak ingin uang sepeser pun dari Alvin. Andai ia bisa pergi hari ini, maka ia tak mau tahu tentang laki-laki berengsek itu lagi dan hidup bahagia, hanya bersama anaknya. "Biaya untuk membesarkan anak cukup besar, El. Apa kamu yakin sanggup menanggungnya sendiri?” urai Farrel realistis. "Mamaku punya perusahaan kecil di luar kota, Rel. Aku sengaja belum mengambil alih perusahaan tersebut karena ingin cari pengalaman dulu di beberapa perusahaan. Dan perusahaan terakhir adalah di sini. Aku ingin berhenti sekarang, tapi kalau aku melakukan itu, aku akan melanggar kontrak dan biaya dendanya tidak sedikit." Elena mengutarakan keinginan plus kegundahannya saat ini. "Aku bisa membantumu, El. Aku benci dengan sosok seperti Pak Alvin. Aku akan urus kontrakmu dan menghapus data-data pribadimu. Menjauhlah darinya, tapi tetaplah keep in touch sama aku, ya! Kamu bisa hidup tenang di luar kota dan aku pastikan Pak Alvin tidak akan pernah bisa bertemu kamu lagi. Surat pengajuan ceraimu akan aku urus hari ini juga,” kata Farrel membulatkan niatnya untuk membantu Elena. Dirinya malah berpikir untuk mendampingi Elena hingga anak itu lahir. Ia sejak awal sangat menyukai Elena dan sama sekali tak rela Elena menderita. “Benarkah bisa begitu, Rel?” tanya Elena tak percaya. “Bisa? Aku sendiri yang akan mengurusnya. Sore nanti aku kembali ke kantor membawa surat pengajuan cerai kamu. Tanda tangani lalu letakkan saja di meja Pak Alvin! Malam ini aku sendiri yang akan mengantarmu ke rumah orang tuamu di luar kota,” sambung Farrel meyakinkan. “Terima kasih, Rel. Terima kasih banyak,” seru Elena tak kuasa menahan haru. “Jangan menangis, El! Tunjukkan pada dunia kamu bisa sukses dan membesarkan anakmu tanpa bantuan b******n itu,” ucap Farrel lalu memeluk erat Elena. Kasihan sekali nasib Elena. Menjadi orang tua tunggal itu sungguh perkara yang sulit. Farrel akan membantu sebisanya agar Elena tidak sendirian menjalani masa kehamilannya nanti. “Pasti, Rel. Aku akan menafkahi anak ini, merawat serta mendidiknya jadi anak yang baik dan sukses. Aku tak akan sudi mempertemukan anak ini dengan b******n itu,” tegas Elena masih dalam dekapan Farrel dengan isak tangisnya. *** “Apa kamu sudah siap, El?” tanya Farrel memastikan. Mereka sudah selesai melaksanakan semua rencana yang tadi mereka bahas saat makan siang. Kini, Elena dan Farel sudah berada di dalam mobil setelah memberesi barang-barang Elena di mejanya. Farrel akan langsung mengantar Elena ke luar kota menuju kediaman mama Elena saat ini juga. Elena menoleh sekilas gedung Wiratama group sekali lagi lalu mengucapkan selamat tinggal dalam hatinya. ‘Selamat tinggal, Vin. Semoga aku dan anakku tidak akan pernah bertemu kamu lagi selamanya.’ Elena lalu menoleh pada Farrel kemudian tersenyum lembut. “Ayo, kita berangkat, Rel! Mulai hari ini aku akan berjuang demi masa depanku dan anak dalam kandunganku ini.” Bersambung…
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN