Sedari tadi, Andra bukan tidak memperhatikannya. Lelaki itu masih bertahan dengan egonya. Sesekali dia melihat Maura ke depan pintu kamar mereka. Dia memperhatikan gerak-gerik perempuan itu. Sesekali dia berjalan mondar-mandir. Dia ingin sekali menanyakannya akan kemana perempuan itu pergi. Tapi dia mengurungkan niatnya. Maura sudah lengkap dengan tas dan sepatu. Dia bukan mau ke kantor. Makanya berdandan santai. Maura ingin sekali di antar oleh Andra. Namun sampai dirinya hendak pergi. Andra masih saja diam. "Dra aku keluar dulu." Ini bukan permintaan ijin, hanya ucapan pemberitahuan saja. Andra masih saja tidak bergeming. Maura menghela nafasnya, dia memutuskan untuk tetap keluar. Yang tidak disadarinya, parfum yang dipakainya justru membuat Andra gelisah. Sementara Maura sudah na

