Hari berlalu begitu saja, setiap hari dalam dua minggu, Kinan berusaha sabar menghadapi karakter suaminya yang berubah-ubah. Seperti pagi ini, dia sedang membereskan apartemen seperti biasanya, Alvaro sedang asik dengan laptopnya di hari ia seharusnya libur. Tatapan matanya yang tajam membuat tubuh Kinan selalu bergetar hebat saat tidak sengaja berdekatan. Saat ini, Kinan sedang mengganti seprei kamar suaminya, namun tiba-tiba, Kinan tersentak kaget oleh perlakuan suaminya. "Apa tidak ada tempat lain selain kamarku?" Kinan tersentak kaget, dia menoleh ke sisi kirinya, tatapannya tertuju pada suaminya yang sedang memegang laptop yang masih menyala. Kianan hanya menarik seprei itu tanpa memasangnya dengan yang baru. Dia membawa semua peralatannya keluar dari kamar suaminya. Namun baru b

