KEKASIH BINAL SANG AKTOR

2889 Kata
BLURB Di Hollywood yang gemerlap, George William dan Jessica Miller adalah pasangan kekasih paling romantis. Dikagumi jutaan fans. Namun sayang romansa yang mereka pupuk hanyalah kepalsuan. Jessica Miller tak lebih dari seorang jalang untuk George William. Wanita itu adalah b***k ranjang yang terseksi untuknya. Jessica begitu memuaskan hasratnya yang selalu menggebu. "Kau itu pelacurku, apa kau tidak ingat, Miss Jessica Miller? Tubuhmu adalah milikku." "Aku tahu diri. Aku tahu aku hanya bertugas di ranjang, tidak memiliki hatimu, Wahai Aktor Sombong. Tidak perlu kau ingatkan." ====================== Part 01 "Aku butuh bir dinginnn!" "Semoga masih tersisa satu," lanjutnya dengan volume suara lebih pelan. Kedua kaki digerakkan kian cepat ke lemari penyimpanan minuman, dekat dengan areal dapur mewahnya. Kira-kira dua meter lagi akan dijangkau. Ia hanya perlu melangkah lebih gesit, walau tenaga sudah semakin habis. Pemotretan dari jam sembilan pagi tadi sampai pukul sepuluh malam, tentunya menjadi faktor utama energi terkuras. Apalagi, tak cukup makan. Dalam artian, tidak dapat menyantap menu siap saji yang merupakan salah satu favoritnya. Hanya makan salad. Sebenarnya ditambah jus dengan aneka buah yang menyehatkan juga, namun tak cukup membuatnya kenyang. Dibutuhkan beberapa kaleng bir. Atau satu botol tequilla dingin dengan es batu melimpah. Itulah kesukaannya. Sayang, aturan agensi melarang. Terutama, saat sedang bekerja. Jadi, ia harus menurut agar tak melanggar kontrak kerja dan bersikap profesional. "Ini dia harta karunkuuu!" Seruan yang lantang kembali diluncurkan dalam rasa gembira besar dan senyum lebar. Lalu, salah satu tangan sudah bergerak masuk ke lemari penyimpanan untuk mengambil dua kaleng bir kesukaan. Setelah berhasil, Jessica melangkah ke arah ruang tamu dengan gesit kembali. Sudah dibayangkan akan berbaring di sofa empuk yang panjang. Tentu sambil meminum bir sudah dibawanya. Namun, sayang tak bisa berjalan dengan sempurna rencana karena melihat sang kekasih palsu, George William. Rasa kesal malah muncul. Bagian dari sisa respons atas kesalahan pria itu, dua minggu lalu kepada dirinya. Sudah empat belas hari pula, tak ada perjumpaan antara mereka. George tidak mendatanginya atau menelepon. "Hallo, Budakku." Seketika tubuhnya merinding. Suara berat yang amat dikenali. Setiap kali mendengar, ia akan bergidik. "Hai, p*****r Cantikku." "Apa yang kau katakan?" Jessica pun bertanya dengan suara sinisnya, kali ini. Tak akan menerima penghinaan. Kaki kian mendekat ke sosok George. Ia membusungkan d**a sembari matanya nyalang menatap ke aktor itu. Tidak ada sifat-sifat gentar pada George. "Aku bukan pelacurmu!" Diteriakkan dengan kencang seruan penuh amarah. Upaya menunjukkan bagaimana tidak suka dirinya akan penghinaan yang telah dilontarkan George padanya. Reaksi pria itu? Masih memamerkan seringaian sarat keangkuhan. Salah satu sudut bibir bahkan lebih meninggi. Sial, George tak menganggap serius apa yang dirinya tunjukkan. Ekspresinya kurang garang? Atau kurang galak? Justru sikap mengintimidasi, kali ini diperlihatkan oleh George, yaitu dengan cara melangkah cepat ke arahnya. Tentu yang dirinya bisa lakukan hanya diam sembari terus memamerkan raut penuh ketidaknyamann akan sikap apa pun hendak dilakukan oleh pria itu. Namun, saat George meraih pinggang rampingnya dengan tangan posesif, ia justru membeku seketika di tempat. Menghindar? Tak bisa dilakukan karena kedua kaki yang terasa sulit digerakkan, walau barang satu langkah pun. "Kenapa, Pelacurku? Kau takut?" George membisikkan setiap kata dalam embusan napas yang halus. Ia jelas saja merinding. Bahkan di sekujur tubuh. Menelan ludah rasanya juga sulit. Tapi, ia tak boleh hanya bergeming seperti patung yang tidak punya kekuatan. "Kau ingin memprotes statusmu? Kau sendiri bukan yang menyukainya?" "Kau suka menjadi pelacurku, 'kan?" "Berengsek!" Jessica akhirnya bisa juga melontarkan seruan kencang. Tak lupa juga mata semakin didelikkan. Meluapkan segala ketidaksukaan atas ucapan George yang menghinanya. Saat ingin dilontarkan umpatan lagi, ia malah diserbu dengan ciuman panas dan dorongan kuat hingga tak bisa mempertahankan posisi berdirinya. Tubuhnya terus mundur, seiring kuat dorongan yang dilakukan George. Baru berhenti, saat menubruk dinding. Cumbuan ganas tambah cepat, tak bisa untuk ditolak. Walau tidak juga mau membalas. Bersikap diam bak patung. Dan pada akhirnya, George berhenti. Namun, tak menjauh. Justu semakin mendesakkan diri padanya. "Kapan kau akan melayaniku, Jalang?" ============== Part 02 "Maafkan aku Stevanny, aku mendadak pusing dan tidak bisa bangun." "Lagi pula, hari ini tidak ada pertemuan atau pemotretan dengan brand bukan? Aku ingin beristirahat sebentar." Satu embusan napas panjang dilakukan, setelah semua yang ingin dikatakannya sukses dilontarkan dari mulut. Tanpa hambatan atau terbata-bata. Padahal, sejak dini hari tadi, sudah ia bayangkan jika rencana berbohong tak akan dapat berjalan dengan lancar. Pasti sang manajer akan tahu bahwa ada dusta dalam misi absen yang ingin dirinya lakukan hari ini. Sayangnya tidak. Ada kelegaan. Namun tak banyak sebab masih menunggu keputusan Stevanny. Tentu dengan harapan rencananya bisa disetujui, sehingga tak perlu disiapkan rencana tambahan harus dilakukan. "Apa, Stev? Aku boleh di rumah?" ujar Jessica dengan nada kaget yang lolos dari mulut dalam suara keras. Reaksi spontan terjadi karena tak dikira saja bahwa sang manajer akan berikan jawaban demikian. Tapi, ia senang. Siapa pun pasti merasakan sama seperti dirinya, dengan segenap ketegangan juga yang masih tersisa di dalam diri. "Kenapa aku terdengar aneh?" Diulang pertanyaan diajukan sang manajer. Stevanny tipe orang peka. Mungkin saja dusta yang baru dijalankannya sudah bisa dicium oleh sang manajer. Kegugupan kembali menyerang Jessica. Ia harus segera menjawab. Dan belum bisa terpikirkan satu patah kata pun. Keheningan jelas tercipta. Hal tersebut mesti segera diakhiri olehnya. "Jujur saja, aku senang bisa libur, walau satu hari. Jadi mungkin, aku terdengar aneh karena terlalu senang, Stev." Jawabannya dirasa tak mencurigakan untuk sang manajer. Jenis balasan yang biasa tanpa ada maksud tersembunyi. Walau mungkin tanggapan dikeluarkan olehnya terdengar cukup polos?" Ada banyak opsi penilaian. Namun, jika dicabangkan, justru kepala yang akan terbebani karena bertambah lagi hal-hal lain harus dipikirkan. "Bagaimana jika aku tambah?" Jessica jelas tak salah dengar apa yang baru saja diajukan kepadanya. Ia tentu tertarik dengan rasa tak percaya juga. "Liburan tambahan? Bagaimana bisa? Dan apakah boleh?" Jessica memastikan kembali. Pasti tidak salah didengar. Jujur saja, jika masalah absen bekerja atas nama liburan, sangat jarang bisa didapatkan setelah namanya naik daun. Momentum ini, tentu sangat langka. Jika ada kesempatan untuk memperoleh waktu libur lebih lama, maka ia akan menggunakan dengan maksimal. Selama tiga bulan terakhir, hari-harinya senantiasa diisi dengan bekerja dari pagi hingga malam, sudah begitu jenuh rasanya jika terus bekerja rodi. Hartanya bertambah memang, hanya saja pikiran juga tidak bisa tenang. Tak ada waktu cukup untuk beristirahat. "Ada permintaan khusus dari seseorang untukmu. Jadi, aku memikirkannya." Jessica diam dulu. Mencerna lebih lama agar mendapat kesimpulan yang kian benar atas jawaban dari Stevanny. Sebab, mengandung makna terselubung yang sengaja wanita itu tak ungkapkan. "Siapa neminta?" Jessica bertanya demi bisa mendapatkan jawaban pasti. "Mr. George." Satu nama yang sudah Jessica duga. Ia hanya tak mengeluarkan dari mulut atas perkiraan tengah dipikirkan. Pengaruh George jelas bisa memberikan dampak pada siapa pun. Mengingat tak terbatas kekuasaan dimiliki pria itu. "Kau akan aku beri libur dua minggu." "Jika Mr. George ingin lebih lama, aku akan beri sampai satu bulan." Mata Jessica jelas membeliak. Jelas diserang keterkejutan besar atas apa yang baru didengar. Tentu karena mustahil saja baginya. Jadi, sudah jelas menimbulkan kekagetan mendadak. Harusnya balasan lebih tajam terluncur untuk menyindir, namun mulutnya terlalu malas membahas ini lebih lanjut. Menunggu hasilnya saja. Apa pun keputusan akan diberikan, ia jalani saja. Lagi pula, tak ada ruginya. "Kau bersedia cuti satu bulan?" Pendapatnya ditanyakan kembali? Apa penting? Terlebih George yang sudah menurunkan titah secara langsung. Namun, ia tetap harus menjawab. Satu anggukan kecil dilakukan. ============== Part 03 Jessica selalu akan menikmati waktunya di dalam pesawat jet pribadi George, tiap kali mereka pergi bersama. Fasilitas ditawarkan lengkap. Makanan mewah dan semuanya lezat. Lalu, para staf juga melayani dengan bagus. Terasa sempurna menghabiskan durasi di udara menuju tempat tujuan. Walau harus terbang lebih dari sepuluh jam. Namun, tak berlaku kali ini. Jessica malah terus gelisah, sejak naik ke pesawat. Bahkan, perasaan tersebut sudah muncul dari tinggalkan rumah. Apalagi, sikap George terasa aneh. Tidak pernah seperti itu sebelumnya. Bukan ingin menanggapi berlebihan, tapi memang terasa lumayan janggal. Belum lagi, ada kode-kode terselubung diungkapkan terang-terangan oleh pria itu, dengan tujuan agar ia penasaran. Terutama, misi yang direncanakan. Sudah berulang kali pula, George bicara soal strategi rahasia di depannya sejak kemarin. Namun, belum ada petunjuk. Tentu, pria itu sengaja. Entah memang bermaksud memancingnya atau bisa juga karena tak boleh diungkapkan. Pilihan mana pun, rasanya tidak akan pernah menguntungkan dirinya. Dan bertanya lebih mendesak, bukan solusi yang terbaik. Apalagi, tipikal yang seperti George punya prinsip kuat. Dengan cara lebih kasar? Belum satu pun terpikirkan di dalam otak. Dirinya menghindari tindakan yang kriminal dan akan melukai orang lain. "Kau sudah siapkan semua?" "Aku akan tiba sesuai jadwal. Kau dan tim harus melakukannya dengan baik. Aku tidak mau sampai ada kesalahan." "Aku ingin kalian berhasil. Ini misi yang penting. Aku tidak mau ada kegagalan." Beberapa menit lalu, baru saja Jessica memutuskan bersikap cuek akan apa pun hendak dilakukan oleh George. Namun setelah mendengar percakapan pria itu yang entah dengan siapa, tidak bisa dibendung lagi keingintahuan. Sial, rasanya amat mencurigakan. Dibanding menerka-nerka sendiri tanpa kejelasan yang benar, akan lebih bagus mengonfirmasi secara langsung. Jessica mendekati George. Pria itu bersikap biasa saja. Tak merasa akan pergerakan yang ditunjukkannya. Justru dirinya diserang ketegangan akan pertanyaan diajukan. Apalagi, berkaitan dengan urusan yang bersifat privat. Setelah kehadirannya disadari, George pun memamerkan seringaian andalan. Mata sepenuhnya terarah padanya. Tak segan ditunjukkan ekspresinya yang sarat akan kecurigaan. Tentu saja agar George paham dengan apa tengah ia pikirkan tentang ucapan pria itu tadi. Kalimat tanya sudah disiapkannya juga beberapa, tinggal dilontarkan secara langsung pada kekasih palsunya. Namun belum ada satu pun kata yang terlolos, dirinya mendapat rengkuhan erat dari pria itu. Tak bisa ditunjukkan perlawanan sebagai antisipasinya. Justru kian jatuh dalam pelukan pria itu yang posesif. Tidak bisa terbebas. "Kau merencanakan apa?" Jessica pun dengan penuh kemantapan bertanya. "Aku? Kau dengar pembicaraanku? Kau pandai menguping sekarang, Nona?" "Apa yang kau rencanakan?" Jessica tak akan berhenti sebelum memperoleh informasi memuaskan keingintahuan dirinya. Pasti bisa didapatkannya. George malah terkekeh. Harus bersabar menunggu pria itu mau menjawah? Atau mesti memaksa? Opsi kedua yang paling terpikirkan oleh dirinya untuk diterapkan. Namun, apa Georga akan mau begitu saja bicara. Ya, Jessica masih yakin bisa membuat pria itu bersuara, tapi biasanya harus disertai dengan upaya cukup keras. "Kau sangat ingin tahu, hmm?" Saat ingin dijawab, pinggangnya justru sudah ditarik sehingga menempel pada tubuh kekar George. Bersinggungan. Bisa dirasakan ketegangan dari benda kebesaran pria itu di balik celana. Tak mengherankan memang, mengingat George yang mudah berhasrat. Mungkin sedikit saja berdekatan dengan dirinya, pria itu sudah merasa tegang. "Ada imbalan jika kau begitu ingin tahu apa yang menjadi rencanaku, Nona." "Apa imbalannya? Seks?" tantangnya dengan nada amat yakin dan ketus. Sebelum bisa melanjutkan pertanyaan telah disiapkan, mulut sudah menerima cumbuan ganas dari George. Tebakannya tepat sasaran. Sudah pasti mereka akan berakhir dengan bercinta. ============== Part 04 "Rahasia apa? Tentang wanita lain?" Mumpung ada kesempatan, maka akan digunakan semaksimal mungkin untuk mendapatkan jawaban pasti. "Kau cemburu?" Telinga Jessica jelas panas mendengar pertanyaan George yang diiringi oleh tawa mengejek. Amat kentara untuk kedua telinganya menangkap. Dan diputuskan tak bereaksi apa-apa. Katanya, diam adalah emas. Namun ia memilih tak bersuara karena tahu tidak akan menang melawan George. "Bilang saja cemburu, aku senang jika tahu kau cemburu, Pelacurku." "Cemburu? Cihh, tidak akan." "Benarkah? Atau kau sembunyikan?" "Jangan berasumsi sembarangan. Kau bukan cenayang." Jessica memberikan peringatan dengan kata-kata pedas. "Kalau cemburu, akui saja." "Tidak akan." Nada suara pun semakin meninggi karena tambah emosi. "Hahahaha." Sial, amarahnya sukses terpancing. Ia harusnya tidak menyahut saja tadi. Tetap fokus melakukan kegiatannya. Dan akan bagus jika dapat lebih cepat diselesaikan. Waktunya terpangkas. Namun, karena emosi bergejolak dalam d**a, cukup mampu untuk mengganggu konsentrasi melepaskan bra dipakai. Pengait di belakang punggung pun tak kunjung dapat digapai. Biasanya bisa seperkian detik untuk menanggalkan. "Biar aku saja, Sayang." Ditangkap dengan amat jelas lagi suara berat George melantunkan kalimat yang berisikan tawaran. Termasuk pula nada menggoda. Tak mungkin sampai salah. Sedetik kemudian, telinganya mampu pula mendengar derap sepatu milik George. Pria itu jelas tengah berjalan. Benar, mendekat ke arahnya berada. "Aku tidak sabar menyentuh ini. Apakah sudah besar dari sebelumnya?" "Tidak apa jika masih sama." Jessica memilih diam. Fokus saja untuk melihat aksi dilakukan oleh George. Pria itu baru saja selesai melepaskan bra yang dikenakannya, sehingga benda tersebut pun dapat terjatuh ke lantai. Lalu, dirasakan kedua tangan kokoh pria itu mengusap-usap punggungnya. Timbul sensasi hangat. Ia merinding. Beberapa detik saja berlangsung. "Ternyata benar, belum ada perubahan. Masih sama besarnya aku kira, Sayang." Kedua buah d**a menerima remasan kuat dari tangan-tangan George yang hasilnya cukup nikmat. Ia melenguh. George seperti sudah hafal bagaimana cara menyentuh dirinya dan ciptakan sensasi yang mengaburkan akal sehat. Bahkan, sejak pertama kali bercinta. Tak akan bisa dilupakan momen panas perdana semalaman yang telah mereka lalui. Rasanya benar-benar memuaskan. Tentu, setelah yang pertama, tentu ada percintaan-percintaan membara lain lagi terjadi di antara mereka. Semuanya sungguh mengagumkan. Ya, tak pernah merasa kecewa satu kali pun atas seks hebat diberikan George. Pria itu senantiasa mendominasi, setiap mereka bercinta. Hasilnya pun dahsyat. Apakah kali ini akan sama? Setelah beberapa waktu tak disentuh, tidak berarti yang lalu-lalu menguap. "Akhh!" Jessica memekik, saat salah satu p****g dihisap dan ditarik kuat. Mulut George sangat ganas. Puncak buah d**a lainnya mendapat perlakuan yang sama. Hantaman rasa nikmat melemaskan otot-ototnya. Ini belum setengah jalan. Masih akan ada sesi-sesi lebih membakar hasratnya hingga ke bagian puncak tertinggi. "Ohhh!" Jessica kembali berseru, ketika memperoleh remasan amat kuat sekali lagi di kedua buah dadanya. Tubuhnya terasa terhempas jauh. "Kita periksa yang lain, Sayang." Jessica tak bereaksi. Benar-benar diam dengan mata sudah memejam. Debar jantung menggila mengguncang d**a. Walau nihil respons. Fokusnya tetaplah terpusat untuk merasakan setiap hal dilakukan George di tubuhnya. Pria itu merenggangkan kedua kakinya. Lantas, benda basah terasa menyerang mahkota berharga miliknya. Mulai dari isapan, kuluman, hingga gigitan-gigitan kecil dilakukan di bawah sana. Tubuhnya sukses bergetar, seiring kian besar sensasi menyenangkan yang tiada henti mengguncang dirinya. Dan sebentar lagi, o*****e menyerang. Desakan itu semakin kuat ingin keluar dari tubuhnya, sudah terasa di ujung. Saat klimaks datang, ia pun berteriak. "Kita lanjutkan nanti, Sayang. Aku harus menghadiri rapat penting." ============== Part 05 George bilang jika hanya akan rapat dua jam, namun sekarang sudah lebih tiga puluh menit dari waktu yang dikatakan. Itu artinya perkataan George tak dapat untuk dipegang. Tidak ada juga berita lanjutan dari pria itu kepadanya. Misalnya jika durasi rapat ditambah, ia bisa dikirimkan pesan agar tahu. Tentu supaya tidak terus menunggu-nunggu. Menanti tanpa kejelasan yang pasti, jadi momen menyebalkan bagi Jessica, tentu saja. Apalagi, disaat pikiran terganggu atas peristiwa terjadi beberapa jam lalu. Ya, pertemuan George den gan seorang wanita yang merupakan klien pria itu, terus menjadi hal mengusik Jessica. Amat tidak suka akan apa yang terjadi. Namun, tak kuasa untuk menghentikan. Hanya berpengaruh buruk padanya, terutama hatinya yang telah damai. "Aku sudah benar menyusulnya. Dia tidak akan marah jika aku datang." Jessica menjawab dengan penuh rasa mantap, atas pertanyaan di dalam otak yang muncul. Menanyakan tindakan diambil tidak akan dikomplain George. Ya, dibandingkan terus menunggu tanpa kejelasan, Jessica memilih datang ke tempat rapat pria itu, masih satu resort. Dengan menaiki baki, ia perlu waktu tempuh kurang dari lima menit. "Siapa suruh dia tidak mengabariku?" "Awas saja dia berbohong. Aku akan pastikan dia berhenti meniduriku." Selesai kalimatnya dilontarkan dengan kesal dari mulut, baki dikemudikan pun sudah mendarat di depan bangunan. Bukan resort berisi kamar, namun jelas tampak seperti sebuah kantor. Tanpa ragu, Jessica melenggang masuk. Ia harus segera menuntaskan tugas. Akses ke dalam pun mudah karena tak terkunci. Walau begitu, tetap tinggi kewaspadaan mengamati sekeliling. Siapa tahu ada jebakan. Ia harus bisa menyelamatkan dirinya sendiri. Andai memang ada situasi yang berbahaya. "Hai, Jalangku Sayang." Tak disahuti sapaan dari George, tapi berjalan ke arah dimana pria itu tengah berada. Beberapa meter di depannya. Hitungan detik saja, ia sudah berhasil menapakkan diri di depan George. Pria itu kian lebar menampakkan seringai. Kemudian, dilihat pergerakan sang aktor terkenal ke arahnya. Ia spontan saja mundur guna menjaga jarak. "Lebih baik kita selesaikan secepatnya." Tak hanya bicara saja, Jessica langsung saja beraksi sebagaimana mestinya. Pakaian ditanggalkan secepat mungkin. Pergerakan harus cekatan demi dapat menghemat waktu sesingkat-singkatnya. Dalam hitungan tak sampai dua menit, ia sudah berhasil menelanjangkan diri. Atensi sebagian besar tertuju ke sosok George, sehingga dilihat perubahan raut wajah pria itu memandang padanya. Georga lantas bersiul, tatkala dirinya mendekat. Mata mereka bersinggungan. Dijaga jarak sampai sejengkal saja. "Kau tidak akan menyusulku?" Jessica bermaksud menyuruh George telanjang. "Kau atau aku yang membukanya?" "Tolong bantu aku, Sayang." Jessica langsung lakukan. Ia melepaskan celana kain panjang dan dalaman yang digunakan oleh George. Dengan gesit tentunya. Memakan waktu cukup cepat karena tak ada rintangan. Benda kebesaran pria itu terpampang di depan mata. Tampak tegang. Tanda jelas jika sudah lumayan b*******h. "Kau di atas atau aku?" Jessica kembali menawarkan. Ia siap dengan posisi yang mana pun untuk percintaan mereka. "Kau di atas, Sayang." Didorong segera George ke sofa yang ada di belakang mereka. Pria itu pun tak menunjukkan perlawanan sama sekali. Justru lekas berbaring telentang. Jessica juga segera mengambil tempat di atas tubuh kekar George. Tentu lebih dulu menciptakan penyatuan. Miliknya tak cukup basah. Sementara, bukti gairah George begitu tegang. Rasa perih sempat menyerang karena benda kebesaran pria itu begitu pas mengisi mahkota berharga miliknya. Setelah merasa nyaman, barulah secara perlahan-lahan bergerak. Irama yang pelan dalam gerakan memutar. Biasanya akan ampuh meningkatkan hasrat hingga mencapai puncak. Sudah pasti tujuannya adalah o*****e yang sama-sama dashyat untuk mereka. Lalu, tugasnya akan selesai sebagai jalang hebat milik George. BERSAMBUNG .......... Full versi : 20 part (sebagian bab dewasa) Pembelian : 1. File PDF (via DM IG dievilstories), harga 10.000 2. Via k********a, link ada di bio.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN