Jasnie Foster sangat berambius menjadi ketua yayasan universitas keluarga. Tapi profesor dingin bernama Rovv Sanchez menjadi penghalang pencalonannya.
Namun, dengan menggadaikan tubuh pada pria itu, Jasnine yakin akan bisa membuat Rovv mendukungnya balik.
Lebih sial lagi, ia terpikat dengan si profesor dingin. Terutama, kelihaian menaklukan dirinya di ranjang.
"Aku mau menambah, Prof."
"Menambah apa, Nona?'
"Menambah satu malam lagi yang panas bersamamu. Tadi itu memuaskan."
— BAGIAN 01 —
Pegangan tangan pada knop pintu pun dilepaskan, saat rasa takut menyerang.
Bahkan, kaki langsung mundur empat langkah demi menjauh dari pintu ruang kerja sang kakek. Tapi, tak akan pergi.
Walaupun keraguan menghantam soal keputusannya yang dibuat, tidak ingin dibatalkan sama sekali rencana.
Sudah dengan segala persiapan yang matang dilakukan. Hanya perlu terus memperjuangkan sampai tercapai.
"Oke, aku harus tetap optimis."
Setelah meyakinkan diri kembali, baru dibuka pintu agar bisa masuk.
Suasana lumayan riuh dengan obrolan pun langsung menyambutnya. Ia harus mencari asal suara lebih dulu karena deretan sofa tampak tak ada orang.
Namun sudah jelas sang kakek berada di dalam ruangan. Apalagi tadi, dirinya telah menanyakan ke kepala pelayan.
Lalu, didengar kembali gelakan. Lekas diarahkan pandangan ke asal suara.
Dan ternyata, di bagian balkon.
Kaki pun segera diarahkan ke sana. Ia ingin memastikan jika kakeknya ada di sana. Entah dengan siapa saja.
Beberapa detik kemudian, kakinya pun berhasil menapak di tempat tujuan.
Sang kakek tentu saja langsung dapat menyadari kedatangannya. Menyambut gembira dengan pelukan hangat.
Walau hatinya sedang waswas, namun tetap diupayakan untuk bersikap yang ceria. Senyuman terukir lebar.
"Kakek sehat bukan hari ini?" Jasnine mengawali obrolan dengan candaan.
"Kakek terlihat lebih muda. Itu artinya Kakek sangat sehat hari ini. Hihi." Tawa cekikikan yang tentu dibuat-buat.
"Kakek selalu berjiwa muda, Nak."
Gelakan dikencangkan oleh Jasnine.
"Kakek memang sangat keren." Pujian terluncur dengan nada bangganya.
"Pantas saja menjadi idola."
Didengar gelakan sang kakek semakin kencang. Ia jelas semakin senang karena sudah berhasil ciptakan lelucon yang bagi kakeknya menghibur.
"Duduklah, Nak."
Segera dituruti perintah sang kakek.
Hanya untuk sesaat saja kegugupannya hilang. Sudah digantikan dengan rasa tegang kembali. Kakeknya juga sudah tak mengeluarkan tawa sama sekali.
"Kita akan kedatangan tamu."
"Tamu? Siapa, Granpa?"
"Professor Rovv."
Hanya dengan disebut nama orang itu oleh sang kakek, Jasnine sudah tahu.
Informasi sejak mencalonkan diri tentu sudah dicari, baik kecil atau besar.
Termasuk pula orang-orang yang punya keakraban besar dengan sang kakek dalam mendiskusikan masalah tersebut
Dan salah satu adalah Rovv Sanchez.
Bisa dibilang tangan kanan sang kakek di universitas. Penasihat terbaik yang selalu kakeknya bangga-banggakan.
"Kenapa dia ke sini, Granpa?" Jasnine pun baru ingat harus menanyakannya.
Ya, pasti ada tujuan penting.
Apalagi, sang kakek turut mengundang dirinya. Sudah tentu ada pembicaraan yang sangat penting akan dilakukan.
"Kita akan bahas pencalonanmu, Nak."
"Profesor Dovv punya mendapat. Dia ingin menyampaikan padaku."
Jasnine tak bertanya apa pun lagi. Ia hanya mengangguk guna menunjukkan respons yang memang sekadarnya.
Tidak lama kemudian, didengar jelas ketukan pintu beberapa kali.
Setelah itu, hanya berselang seperkian detik, sosok yang ditunggu-tunggu oleh mereka akhirnya menampakkan diri.
Rovv Sachez, lengkap dengan setelan kerja rapi seperti bos, langsung dapat membuat semua perhatiannya teralih.
Sial, pria itu cukup menggoda.
"Maaf, saya terlambat."
"Tidak apa, Prof. Kami juga baru akan memulai diskusi. Senang kau datang."
"Cucuku ...,"
Saat panggilan ditujukan, maka dengan segera dialihkan atensi pada sang kakek lagi. Memamerkan senyuman ramah dalam menjaga kesopanan bersikap.
"Jelaskan misi dan visimu jika kau nanti terpilih menjadi pimpinan universitas, Nak. Profesor Rovv ingin dengar."
"Maaf, saya rasa tidak perlu."
Saat baru saja ingin menjawab, Rovv sudah lebih dulu bersuara. Ia seketika bungkam karena merasa kaget akan bagaimana kesinisan pria itu bicara.
"Menurut saya, visi dan misinya masih kurang. Terlalu ada anggan mustahil juga dengan kondisi universitas."
"Saya tidak akan bisa mendukung Miss Jasnine sebagai calon ketua yayasan."
"Semoga Anda mendengarkan saran dan masukan saya, Tuan."
Jasnine kaget bukan main. Ingin dirinya bantah. Namun Rovv Sanchez sudah berjalan menjauh darinya.
Menuju pintu ruangan, akan keluar.
"Jasnine ...,"
Sang kakek memanggil, maka harus ia segera pindahkan atensi ke kakeknya.
"Pencalonanmu sebagai ketua, tidak bisa Granpa lanjutkan lagi, Nak."
— BAGIAN 02 —
Jasnine pun tidak akan bisa menerima penilaian negatif dari profesor dingin itu. Harus dilakukan pembelaan diri.
Semua yang tadi dikatakan oleh Rovv Sanchez harus dipatahkan. Lagi pula, ia tidak suka tertuduh begitu saja.
Harga dirinya sekan diinjak-injak.
"Mobilnya yang itu." Celetuk Jasnine, saat melihat sosok yang tengah dicari.
Langkah kaki dipercepat. Ia berkutat akan waktu. Hanya seperkian detik dimiliki untuk bisa menyusul.
Memang, dengan segera bisa dibawa diri ke depan kendaraan si profesor dingin. Menghadang tepat di depan.
Otomatis, mobil batal berjalan.
"Apa yang kau lakukan?"
Jasnine sudah panas mendengar ajuan pertanyaan bernada datar oleh seorang Rovv Sanchez. Termasuk ekspresi pria itu yang dingin bak melihat musuh.
Cihhh, sungguh ia semakin muak.
Dengan emosi sudah memuncak. Ingin dilampiaskan segera kemarahan pada si profesor dingin itu. Jika ditahan, hanya akan membuatnya tak akan tenang.
Tanpa izin sama sekali, Jasnine masuk ke kendaraan mewah sang profesor.
Duduk tepat di samping pria itu.
"Apa yang kau lakukan?"
Ketidaksukaan dari raut saja sudah membuat si profesor dingin tampak garang. Namun, ia tak akan gentar.
Malahan ditunjukkan senyuman palsu yang sangat lebar sebagai balasan.
"Selamat sore, Profesor Rovv. Saya akan memperkenalkan diri lagi pada Anda."
"Nama saya Jasnine Foster. Saya adalah calon tunggal untuk pimpinan baru univeritas Jss Foster. Saya akan me--"
"Diamlah!"
Seruan sarat amarah dan juga bernada tinggi yang spontan membuat Jasnine harus hentikan celotenan karena kaget.
Namun, ia tak akan merasa takut yang berlebihan. Masih tertantang untuk membangkitkan kemarahan Rovv.
"Saya punya misi kerja, Prof. Anda harus dengar semuanya dulu. Tadi Anda tidak membiarkan saya bicara."
"Tidak akan."
"Misimu sangatlah berfantasi. Dan aku paling tidak suka mendengar dongeng."
Cihh, sangat menyebalkan!
"Enak sekali kau menghina misi dan visiku yang sudah aku ciptakan dengan matang." Jasnine bicara galak.
Mata tak lupa memelotot.
Sayang, si profesor dingin sudah tidak lagi menunjukkan atensi padanya.
"Turunlah cepat."
"Aku tidak mau!" Diserukannya lantang jawaban. Kepala digeleng-gelengkan.
Mata menatap terus pada sosok Rovv dengan segenap keberanian. Walaupun sesungguhnya di dalam hati, merasakan kegugupan yang semakin besar.
"Kau masuk tanpa seizinku. Dan aku berhak meminta kau untuk keluar."
"Aku bilang tadi padamu, kita berdua harus bicara, Prof. Jadi, aku tidak akan mau pergi, sebelum kita bisa bicara."
Ucapannya nihil bahasan. Namun, ia tak akan menyerah begitu baginya.
Kalimat demi kalimat dengan berusaha cepat disusun di kepala supaya dapat dilontarkan segera. Harus menyasar ke topik yang memang mesti dibahas.
"Berapa juta dollar bisa kau beri padaku demi bisa membuat kau menang?"
Mata menyipit ketika ingin lebih intens mengarahkan pandangan pada sosok Rovv. Bahkan, diperhatikannya dengan kian saksama ekspresi pria itu.
Biasanya, raut wajah yang tercetak bisa menjadi awal untuk tahu apa isi kepala dari seseorang. Ia pun cukup ahli dalam memahami bahasa tubuh orang lain.
"Kau berani berapa membayarku?"
"Kau berani membayarku banyak agar aku mendukungmu? Sebut nominal yang bisa kau berikan padaku."
"Aku ingin tahu seberapa berani dirimu dalam bertarung untuk masalah ini."
Mata Jasnine semakin membuka lebar atas semua balasan yang dilontarkan pedas oleh seorang Rovv Sanchez.
Telinga juga memanas. Tak akan dapat diterima sindiran keras pria itu.
Apalagi, tidak sesuai akan yang dirinya rencanakan. Jelas dianggap sebagai tuduhan sembarang tanpa bukti.
"Aku pasti menang." Jasnine dengan amat percaya diri berkata-kata.
"Aku akan menjadi ketua yayasan. Dan kau akan berada di pihakku!" Suara semakin menggelegar, menekankan maksud dan optimisme ucapannya.
"Buktikanlah, Miss Jasnine. Aku akan menunggu seberapa besar tekadmu."
— BAGIAN 03 —
Drrtttt .....
Drrtttt .....
Drrtttt .....
Deringan ponsel didengarnya membuat Jasnine langsung mengambil benda itu yang diletakkan di atas meja kerja.
Ikon warna hijau pun digesernya pada layar agar panggilan bisa diterima.
Suara isakan berusaha diredam supaya tak sampai didengar oleh siapa pun di ujung telepon. Walau air mata terus mendesak keluar dari netra birunya.
"Hallo, Adikku Yang Manis."
Dari suara saja, sudah bisa ditebak jika sang kakak sulunglah yang menelepon.
Maka, tangisannya kembali pecah. Tak akan bisa disembunyikan dari Lola.
"Penyebabnya karena pencalonanmu yang belum diterima juga, Sayang?"
Pertanyaan diajukan oleh saudarinya malah membuat tangisan kian keras. Perasaan di dalam d**a campur aduk.
Kecewa, takut, was-was, pesimis, serta kerisauan yang menerjang hati secara bersamaan, sehingga tidak tenang.
Cara paling ampuh membuatnya jadi lebih baik adalah menangis. Tentu, ia mesti lakukan dengan diam-diam.
Tak ada yang boleh tahu. Kecuali sang kakak. Sebab, sudah biasa sejak kecil mereka berbagi masalah berdua.
Sudah pasti mencari solusi juga.
Pikiran terlalu buntu hanya dalam upaya menemukan jalan keluar bagi masalah yang menyebalkan ini.
"Hei, Adikku, kenapa kau diam saja?"
"Iya, sangat benar." Jasnine berucap dengan nada sama sekali tak antusias.
"Sudah kuduga, Nine."
Napas dihela panjang. Tak suka dengan jawaban singkat diberikan sang kakak.
Harusnya ada tanggapan yang lebih panjang. Minimal berikan masukan.
Namun, malah menertawakan.
Ingin kesal rasanya. Mengomel akan semua kerisauan hati karena apa yang menjadi tujuan tak bisa digapai.
Jasnine pun enggan menyebut dirinya gagal dengan tujuannya. Belum berada di tahapan final dirinya ditolak.
Rasanya masih ada kesempatan. Dan ia tetap memiliki optimisme tinggi.
Bahkan, keambiusan belum berkurang.
Tinggal menerapkan cara yang paling ampuh agar bisa memenangkan ini.
Terutama, kepercayaan kakeknya.
"Aku punya ide."
Tiga patah kata dilontarkan oleh sang kakak, membuatnya urung dalam memutuskan sambungan telepon.
Seperti mendapatkan angin segar, saat otak begitu buntu memikirkan cara untuk menyelesaikan masalah ini.
"Ide apa yang kau punya?"
"Hmm, tapi kau harus merendahkan harga diri dan bersikap nakal, Adikku."
Jasnine tak langsung berikan tanggapan. Ia enggan gegabah. Apalagi saat mulai kurang yakin dengan ide kakaknya.
Harus ditanyakan lebih lanjut strategi tahap demi tahap, setidaknya ia akan punya gambaran bagaimana bertindak.
"Idemu seperti apa dulu? Baru aku mau mempertimbangkan ikut atau tidak."
"Kalau kau mempertimbangkan, kau harus siap melepas posisi itu, Adikku."
"Aku tidak mau." Jasnine mempertegas tak akan berhenti untuk tujuannya.
"Jadi, kau harus lakukan rencanaku."
"Oke, akan aku lakukan, tapi apa ide yang kau punya, Kakakku?"
"Awas saja, kau menyuruhku untuk membunuh profesor dingin itu, aku pasti akan melakukannya."
Sang kakak tertawa di seberang sana. Mungkin dikira dirinya hanya tengah bercanda, namun ia serius.
Andai memang itu cara satu-satunya, maka akan diambil risiko mengambil. Asalkan tujuannya bisa terealisasi.
"Jadi, apa ide yang kau punya?" Jasnine pun semakin berusaha mendesak.
"Kau harus merayu profesor itu. Kau tidak perlu membunuhnya, Sayang."
"Apa?" Jasnine tak bisa tidak terkejut.
"Pria mana pun akan takluk jika sudah diberikan seks. Termasuk profesor itu."
"Rayu dia. Ajak bercinta. Luluhkan dia sampai dia tergila-gila padamu nanti."
"Setelah itu, kau akan mendapatkan dukungan penuh sebagai pimpinan universitas seperti maumu, Adikku."
Jasnine masih diam. Otaknya pun sibuk memikirkan lebih lanjut ide yang sang kakak berikan. Tentu dengan beragam pertimbangan dari berbagai sisi.
Jasnine tak mau salah melangkah. Tidak ingin mempertaruhkan harga diri jika sampai salah dalam bertindak.
"Jangan kau pikirkan lagi. Lakukan saja ideku agar kau bisa menang, Adikku."
"Waktumu tidak banyak. Kau akan kehilangan kesempatan un--"
"Oke, akan aku lakukan."
— BAGIAN 04 (21+) —
"Dia ada apa tidak?" Jasnine mulai kesal karena si profesor dingin, tak kunjung juga keluar menunjukkan diri.
Padahal, sudah berulang kali ditekan.
Sampai lima menit lagi tak ada respons di dalam, maka akan digunakan cara yang lebih ekstrem. Telah dipikirkan.
Untung, tak sampai semenit, si profesor dingin sudah muncul menemuinya.
Jasnine tanpa sikap sopan, langsung saja masuk ke areal dalam kediaman pria itu. Tak peduli jika Rovv tidak suka.
"Untuk apa kau ke sini?"
"Menyogokmu agar kau mau berikan dukungan atas pencalonanku."
Didengar Rovv tertawa sinis. Dibuat diri berjarak amat dengan pria itu.
"Tapi tidak dengan uang," jelas Jasnine.
"Lalu?"
"Kegadisanku." Jasnine bicara mantap.
"Kau normal apa tidak?" lanjutnya dalam upaya untuk memancing.
"Aku pria normal."
"Kau sudah mengklaim diri jika kau itu pria yang normal. Kau mudah berhasrat pada wanita? Jadi, kau harus mencoba denganku bercinta sebagai bukti jelas."
"Aku akan rela menyerahkan kegadisan yang aku jaga selama ini untukmu."
Rovv langsung berhenti minum karena ucapan Jasnine. Semacam keterkejutan yang spontan dialami. Tidak menduga Jasnine akan mengatakan hal demikian.
Lantas, dihampiri Jasnine yang masih membuka satu demi satu pakaian. Kini wanita itu hanya mengenakan bra dan celana dalam. Pemandangan seksi.
Dirinya memang jenis kaum lelaki yang suka melihat penampilan lawan jenis minim pakaian, sehingga menonjolkan beberapa bagian tubuh menggoda.
Berlaku juga untuk Jasnine.
"Jangan mendekat!"
Rovv seketika menghentikan langkah oleh seruan sarat perintah dari Jasnine. Ia menunggu respons selanjutnya saja.
Pasti ada alasan wanita itu melarang.
"Jangan berani merobek salah satu baju atau pakaianku yang lain. Tidak boleh."
"Aku membeli semuanya dengan harga jutaan dollar. Kalau sampai kau rusak, kau harus mengganti pakaianku."
Jasnine bicara serius. Sarat peringatan agar Rovv tak melakukan tindakan yang dapat merugikan barang-barangnya. Ia tidak akan pernah rela nantinya.
"Masalah uang, jangan cemaskan itu. Aku cukup punya uang untuk diberikan padamu, andai aku memang merusak."
Jasnine berdecak. Menunjukkan sikap sinis atas balasan Rovv yang terkesan cukup arogan dari gaya bicaranya.
"Apa lagi aturan kau terapkan?"
Jasnine menggeleng cepat.
"Baiklah, aku akan mulai."
Ciuman di mulut yang dilakukan Rovv tak begitu membuatnya gugup, namun saat mulai turun dari leher, maka ia diserang perasaan tegang kian besar.
Merinding pula, saat dirasakan mulut pria itu sudah berada di salah satu dadanya, tepatnya yang bagian kanan.
Mata tak memejam dan seluruh atensi tertuju pada sosok Rovv, sehingga bisa dilihat bagaimana putingnya disesap.
Langsung memberikan efek hampir ke seluruh tubuh. Tegang dan bergidik.
Napas seperti terganggu, terutamanya dalam mengikat oksigen yang ada.
Sentuhan seperti ini terlalu intim. Dan ia belum pernah sekalipun lakukan dengan lawan jenis. Jadi, pantas tegang.
Awalnya tak tercipta kenikmatan, tapi karena kuluman tiada henti, maka ia mulai diserang oleh sensasi ketagihan.
Apalagi, payudaranya yang lain juga mendapatkan serangan sama, seperti pada buah d**a bagian kanannya.
Jasnine tahu ini baru awal. Tak akan mudah berhenti aksi dilakukan Rovv.
Terlebih belum mencapai mahkotanya yang pasti menjadi incaran utama.
Jasnine cukup cemas bagaimana nanti akan menanggapi kenikmatan dapat dihasilkan dari serangan Rovv.
Dari beberapa film semi dewasa yang ditonton, para pemain wanita akan berdesah habis-habisan, saat merasa puas akan oral seks diberikan.
Apakah, ia harus begitu juga?
Dan nyaris saja lenguhan lolos, ketika mendapati sesapan pada p****g buah d**a kirinya semakin besar saja.
Namun, masih bisa ditutup mulutnya.
Sedetik kemudian, Rovv telah hentikan serangan di kedua payudaranya.
Dan mereka bersitatap sebentar.
Kurang dari semenit, pria itu pun telah melebarkan kedua kakinya dan kepala Rovv berada di antaranya.
Dirasakan sesuatu yang basah di bagian pusat daerah sensitifnya. Dan hampir mirip seperti di payudaranya tadi.
Jasnine tetap berusaha rileks, namun saat aksi Rovv kian membabi buta, ia tak dapat diam begitu saja.
Terus menggelinjang dengan desakan di dalam diri yang ingin dikeluarkan.
Jasnine tahu apa itu.
Sebab, saat beberapa kali mastrubasi, ia merasakan sensasi seperti ini juga.
Tak akan ditolak o*****e. Jika bisa, segera saja menyerangnya agar tidak semakin tersiksa oleh desakan ini.
Dan penantian Jasnine akhirnya dapat terjawab begitu klimaks. Diperolehnya pelepasan hebat atas oral seks Rovv.
"Kita lanjutkan dulu, jangan ambruk, Nona. Kau sudah memancing hasratku."
"Kau harus menuntaskannya."
— BAGIAN 05 (21+) —
"Kau harus menuntaskannya."
Jasnine bereaksi cepat lewat anggukan yang mantap. Akan dilakukan sesuai akan apa sudah dijanjikan ke pria itu.
"Dengarkan aku dulu."
Jasnine kira jika dirinya akan segera diserang. Namun Rovv malah berkata lagi untuk sesuatu yang tak dipahami.
Berusaha pula lekas dibuka mata untuk melihat pria itu. Ingin menanyakan pula maksud dari ucapan Rovv.
Saat fokus sudah terkumpul, maka yang menjadi objek pandang adalah kedua mata biru langit seorang Rovv.
"Kau mau bilang apa, Prof? Katakan saja dulu sebelum kau menyetubuhiku."
Saat ini bicara kembali, tepat di depan mulutnya Rovv meletakkan satu jari.
Mata terus memandang. Jelas tak akan dialihkan karena memang sosok Rovv yang begitu menarik perhatiannya.
Apalagi sejak pria itu telanjang seperti dirinya, setiap bagian tubuh Rovv selalu ingin dieksplor dengan tatapan mata.
Sejak dulu, hanya pernah dilihat para pria tanpa busana di film semi dewasa, belum satu kalipun secara langsung.
"Menyetubuhimu? Kau menganggapku sebagai pemerkosa?"
"Setelah malam ini kita bercinta, kau akan melaporkanku agar kau bisa memenjaraku, Miss Nine?"
"Licik sekali gaya bermainmu."
Telinga Jasnine sudah pasti panas dalam mendengar semua dikatakan oleh Dovv. Dirinya akan terima dituduh buruk.
Apalagi untuk sesuatu yang tak berniat untuk dilakukan. Imej bisa tercoreng.
Saat ingin dibalas, Rovv sudah menaruh menaruh mulut di depan bibirnya, tapi hanya sebatas menempel saja.
Posisi Rovv masih di atasnya. Bahkan, tangan pria itu kian melingkar kuat di tubuhnya, seperti mendekap posesif.
"Aku tidak selicik itu." Jasnine tekankan kata-kata guna menguatkan artinya.
"Atau kau mempermasalahkan hal lain? Misalnya kau berpikir aku bohong soal aku masih gadis?" Jasnine memancing.
"Kau ragu aku gadis? Bawa milikmu ke dalam sini, kau akan tahu nanti."
Jasnine sudah bertekad menantang, ia seperti diragukan. Dan mungkin saja dianggap berbohong oleh Rovv.
Ekspresi serta tatapan pria itu sangat kentara. Dirinya tak akan salah untuk mengartikan keraguan dimiliki Rovv.
Sudah beberapa menit, kesunyian di antara mereka berlaku karena Rovv tak kunjung menunjukkan reaksi.
Jasnine merasa perlu beraksi.
Dengan tindakan tanpa ragu, diraihnya kejantanan Rovv guna dibawa menuju ke selubung hangat miliknya.
Ternyata, semudah itu. Walau timbul rasa sakit hebat karena mahkotanya tak cukup siap untuk menerima Rovv.
Seperti artikel-artikel yang telah dibaca tentang pengalaman pertama bercinta, efek yang tertulis pun kini dapat untuk dirasakan secara langsung.
Amat perih dan sakit luar biasa.
Mata berair. Nyaris mengisak.
Namun mengingat pentingnya menjaga harga diri, maka ditahan. Tidak mau terlihat lemah di hadapan Rovv.
Professor dingin itu pasti akan semakin memandangnya dengan sebelah mata, terutama untuk urusan di ranjang.
Memang pengalamannya nol, namun bukan berarti harga dirinya menjadi taruhan. Ia tak akan pernah rela.
"Kau mau aku hentikan ini?"
Gelengan kepala cepat dilakukan. Gerak mantap karena memang tak meragu.
Namun, rasanya balasan kurang bisa meyakinkan Rovv atas keinginannya.
Pria itu hendak menarik diri, tetapi ia bisa segera mencegah dengan berikan pelukan yang erat kepada Rovv.
"Enak saja kau mau hentikan!"
"Cepat lanjutkan dan tunjukkan padaku seks yang hebat seperti kau bilang."
Beberapa detik menunggu, akhirnya ada pergerakan di bawah sana.
Awalnya masih sakit. Namun karena Rovv bisa mengatur ritme dengan baik, maka Jasnine mulai menikmati.
Rovv akan membuat seks pertama bagi wanita itu berkesan. Ia pasti bisa beri klimaks perdana yang hebat.
Tinggal menggempur lebih lama dan semakin intens, maka mereka pasti akan segera menuju o*****e utama.
— BAGIAN 06 (21+) —
Mata Rovv sebenarnya lumayan berat dibuka, namun melanjutkan kembali tidur tak akan dapat dengan tenang.
Gerakan di atas tubuhnya, lebih tepat pada bagian senjata kebesarannya jadi pengganggu yang tak bisa diabaikan.
Walau, harus diakui, rasa nikmat dari hasil pergerakan tersebut menciptakan sensualitas seksual yang menarik.
Gairahnya jelas terbangkitkan. Dan bisa bertambah jika terus dibiarkan.
"Kau bangun, Prof?"
"Selamat pagi, Profesor Dingin." Jasnine menekan setiap kata dalam ucapannya.
Begitulah sambutan paling manis yang dirasa Jasnine sudah tepat ditunjukkan pada Rovv, ketika pria itu membuka sepasang mata dan memandangnya.
"Apa yang kau lakukan?"
"Apa yang aku lakukan? Kau tidak bisa lihat apa yang aku lakukan, Prof?"
"Aku sedang mengajakmu bercinta." Masih dengan santai dilontarkannya jawaban. Tidak lupa menyeringai juga.
Aksi tak dihentikan, walaupun merasa belum terlalu nyaman dengan cara dari pinggulnya bergerak kian cepat.
Tak pernah dilakukan aktivitas seperti ini, maka wajar tidak bisa langsung ahli. Meski sudah dengan kemampuan yang paling baik bisa dilakukannya.
Bahkan, ada dua video ditonton untuk merasakan nyata bagaimana cara dalam melakukan seks dengan posisi woman on top, seperti tengah dilakukan.
Namun, jika sudah menyangkut praktik maka tidak akan semudah yang telah dikira. Apalagi, jika sama sekali tak ada pengalaman sebagai acuan utama.
Pasti akan ada kesalahan beberapa kali, tapi sungguh ia tak mau itu terjadi.
Harusnya dalam satu kali percobaan akan berhasil. Sukses dengan hubungan seks yang panas bagi mereka berdua.
"Kau mengajakku bercinta? Ini bisa dibilang pemerkosaan, Nona."
"Eh apa?" Jasnine terkaget.
"Aku bahkan belum bangun, saat kau membawa benda milikku ke bagian ini, Nona Manja Menyebalkan."
Jasnine mengikuti arah pandang Rovv, tertuju ke selubung hangatnya.
"Kau menolak bercinta?" Jasnine tidak akan sampai kalah memprovokasi.
"Jika kau tidak mau, baiklah." Jasnine semakin kesal. Ia kehilangan nafsu perlahan untuk berhubungan seks.
Penyatuan diakhiri cepat dan beranjak turun dari atas tubuh Rovv.
Bahkan, direncanakannya untuk segera tinggalkan ranjang dan pergi mandi.
Akan bergegas pula pulang.
"Mau ke mana, Miss Jasnine?"
Ya, kehendak tinggallah niatan yang tak akan bisa dilakukan karena Rovv telah menariknya, hingga jatuh telentang.
Profesor dingin itu menindihnya. Dan tentu berada di antara kedua kakinya.
"Aku tidak suka kau di atas."
"Aku suka aku yang menguasaimu. Kau harus tahu kau takluk padaku."
Jasnine merasa tidak cukup senang akan celotehan Rovv. Pria itu seakan ingin menunjukkan kuasa atas dirinya.
Walau amat tahu karakter Rovv yang suka mendominasi di antara mereka. Ia diminta tunduk oleh pria itu.
Lalu, sebagai balasan, dikeluarkannya decakan sarat kesinisan. Dan tak lupa juga memelotkan matanya.
"Kau mau di bawah? Atau kau tidak akan merasakan seks panas lagi?"
Jasnine mustahil bisa menjawab segera setelah mulutnya dibungkam ciuman ganas Rovv. Tiba-tiba saja dilakukan.
Dan dalam hitungan detik, hasratnya sudah mampu terpancing pria itu.
Ingin lebih lama dipagut mulut seksi Rovv, namun cumbuan malah diakhiri sepihak. Ia merasa semakin kesal.
"Kau mau di bawah atau tidak?"
"Waktuku tidak banyak, aku ada janji pertemuan. Aku cuma bisa seks kilat."
"Kalau kau tidak mau di bawah, ak--"
"Aku mau di bawah." Jasnine memotong cepat ucapan Rovv dengan jawabannya yang mantap. Keputusan telah diambil.
"Bagus, Nona Keras Kepala."
Sindiran menyebalkan untuk didengar, tapi Jasnine ingin fokus melihat apa yang akan dilakukan oleh Rovv.
Tentu, mereka pasti bercinta.
Dalam hitungan seperkian detik, ia telah menyatu padu dengan si profesor dingin. Siap untuk seks yang panas.
BERSAMBUNG ..........
Full versi : 20 part (sebagian bab dewasa)
Pembelian :
1. File PDF (via DM IG dievilstories), harga 10.000
2. Via k********a, link ada di bio.