Dinda kini merasa jengah, dia tidak mau sampai Naufal bersama dengan pelayan yang tidak dia suka itu. dilihat dari manapun pelayan tersebut kalah dengan Dinda, dia tidak ada apa apanya dibanding dengan Dinda tapi kenapa sampai Naufal benar benar kekeh untuk tetap bersama dengan Dinda tersebut. entah apa yang ada di dalam diri wanita itu hingga wanita itu bisa mampu membuat Naufal bertekuk lutut seperti itu. dinda tidak habis pikir kenapa Naufal sebegitunya mempertahankan Kiana dan bahkan kini membuangnya dengan seperti ini.
"sialan memang apa sih yang Naufal liat dari cewe itu" kesal Dinda kini dia bahkan memukul setir mobilnya karena dia kesal.
Dinda tidak tau apa yang harus dia lakukan lagi untuk mengambil perhatian dari Naufal apapun yang dia lakukan seakan akan tidak memberikan pengaruh apapun pada laki laki itu. entah apa yang dia perbuat hingga Naufal sangat membenci dirinya, dia tidak paham lagi. Dinda pikir segala rencana yang dia lakukan sudah tersusun sangat rapi tapi dia salah, tidak ada hal yang seperti itu Naufal juga pintar dia tidak akan mungkin melakukan hal ceroboh apalagi karena seseorang yang jelas jelas hanya mengincar harta yang dimilikinya.
Dinda masih menunggu Naufal keluar dari kantor, entah kapan Naufal akan keluar dia akan terus menunggu sampai nanti Naufal akan pergi kemana dia akan membuntutinya. Dinda masih tidak rela ketika Naufal bersama dengan Kiana apapun itu Dinda tidak akan rela, karena Naufal harus jatuh di tangannya bukan pada orang lain.
***
pukul delapan malam kini Naufal baru keluar dari kantornya dia memang lembur dia tidak salah atau berbohong kepada mamahnya jika dia lembur hari ini.
sedangkan dinda yang berniat membuntuti Naufal kini sudah pulang dia tidak jadi membuntuti Naufal karena memang hari ini acara ulang tahun mamahnya dan dia juga harus datang. Dinda pikir Naufal memang tidak lembur dan hanya berbohong kepadanya tapi kini ternyata apa yang dikatakan Naufal semuanya nyata.
Naufal bersiap untuk menjemput Kiana, Kiana memang pulang jam 9 malam hingga dia tidak telat jika jam segini menjemput Kiana. Naufal tau jika sedari siang Dinda menunggu dia sengaja lembur karena agar Dinda tidak mengganggu dirinya. kerjaan Naufal memang sibuk dia mengerjakan segala hal yang bahkan belum seharusnya deadline waktunya. Naufal hanya ingin Dinda tidak menganggu dirinya dengan Kiana. Naufal sudah muak sekali ketika melihat Dinda yang selalu mengatur hidupnya seakan akan dia orang penting dalam hidupnya padahal dia sama sekali tidak berpengaruh apapun di dalam hidupnya ini. dinda bagaikan benalu yang selalu menempel pada inangnya, apa yang dilakukan oleh Dinda sungguh membuat Naufal muak wanita iblis yang menyamar menjadi manusia. Naufal hanya ingin tau sampai kapan dinda akan tahan dengan segala hal yang akan dilakukan oleh Naufal padanya. sampai kapanpun Naufal tidak akan mau bersama dinda apalagi sampai di paksa untuk menikah, Naufal tidak akan mau hal itu terjadi.
Naufal segera keluar dan langsung memakai mobilnya untuk menuju kedai bibi Ling, seperti biasanya Kiana meminta agar Naufal berada di tempat biasa untuk menjemput nya. Kiana hanya tidka enak dengan bibi Ling dan lainnya. Kiana takut dia dikira orang yang matre karena berhasil membuat orang seperti Naufal sangat bertekuk lutut kepadanya itu. Kiana hanya tidak ingin membuat orang lain berpikiran macam macam padanya padahal jelas jelas dirinya bahkan tidak melakukan apapun. Kiana yang selalu saja kalem dan tidak banyak tingkah kini dia selalu kepikiran akan adanya amukan seperti tempo hari Dinda yang langsung menamparnya.
jujur saja Kiana trauma dengan hal itu, selama hidupnya dia hanya pernah sekali di tampar dan itu di lakukan oleh orang yang tidak dikenalnya sama sekali.
aku udah di luar
pesan yang di kirimkan oleh Naufal untuk Kiana, Kiana langsung keluar dari kedai setelah berpamitan dengan bibi Ling. memang setakut itu Kiana, dia hanya tidak mau orang lain berpikiran aneh aneh padanya. Kiana sudah susah dia hanya ingin hidupnya tenang tanpa orang lain yang bersikap sewenang-wenang padanya. Kiana tau dia orang tidak punya tapi setidaknya dia juga pantas bahagia dengan segala hal yang dia punya. dia juga tidak seperti apa yang di tuduhkan oleh dinda padanya, dia bahkan dulu belum kenal Naufal tapi Dinda sudah menuduhnya macam macam.
Kiana masuk kedalam mobil dan langsung di sapa oleh Naufal. senyum manis Naufal di saat lelah memang terlihat sekali, Naufal sangat bahagia bisa bersama dengan Kiana setiap hari seperti ini. semuanya yang dia lakukan akan terasa sangat indah ketika mereka berdua bersama sama.
"kamu dah makan belum?" tanya Naufal pada Kiana.
"belum mas, kalau mas?" tanya Kiana balik.
Naufal menggelengkan kepalanya, memang dia belum sempat untuk makan malam dia sangat sibuk hingga sampai lupa waktu untuk mengerjakan laporannya itu.
"mau beli makan?" tanya Naufal yang kini mulai melajukan mobilnya.
"enggak usah mas, di rumah kan ada bahan masakan ya udah masak itu aja" ujar Kiana.
"oke, aku malah seneng makan yang kamu masak" ucap Naufal.
jujur saja siapa yang tidak akan tergoda dengan Naufal yang sangat baik hati seperti ini? siapapun itu dia akan mulai luluh jika laki laki melakukan hal yang sangat manis setiap saat seperti ini.
Kiana yang tidak pernah menjalin hubungan dengan siapapun itu kini bahkan merasakan yang namanya perasaan sayang dan merasa dicintai oleh Naufal. Naufal yang jujur dengan segala hal yang dia rasakan membuat Kiana merasa berbeda dia merasakan hal yang memang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
jatuh cinta memang hal yang lumrah terjadi hal itu merupakan kuasa Tuhan memberikan setiap makhluknya perasaan yang memang harus di jaga dengan sangat baik. perasaan bisa muncul kepada siapapun orang itu, tanpa memandang rupa maupun kekayaan jika tuhan sudah menakdirkan kita bersamanya maka hal itulah yang akan terjadi. Kiana hanya ingin menikmati kebahagiaan dan menjalankan segala hal yang sudah tuhan siapkan untuk kehidupannya. Kiana yakin di balik segala kesusahan di hidupnya dia akan mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya.
"gimana kerjanya ?" tanya Naufal dia hanya ingin mengobrol di sela sela kemacetan ini.
entah tiada hari tanpa macet padahal sudah jam segini pun masih macet tapi memang yang namanya kota besar macet seperti ini sudah menjadi makanan sehari hari.
"lancar mas, kalau mas gimana? tadi lembur ya?" tanya Kiana.
"iya, dari pada di rumah di suruh datang ke acaranya Dinda mending aku menenggelamkan diri dengan banyak laporan aja" ujar Naufal.
kini Kiana tau kenapa Naufal sampai memilih lembur, dia hanya tidak ingin datang di acara yang sudah keluarga dinda persiapkan. entah Kiana memang masih bimbang dan ragu apa yang dia akan lakukan kedepannya dia tau Naufal tidak main main dengan perasaannya dan Kiana juga mulai nyaman dengan Naufal tapi hanya perasaan takut yang menyelimuti hati kiana. mereka juga baru beberapa hari dekat dan Kiana tidak ingin terburu buru dalam menentukan apa yang dia pilih.
Kiana akan tetap berhati hati dia hanya tidak ingin jatuh di lubang yang salah, dia hanya sendirian di sini jika ada suatu hal yang memang terjadi nantinya dia hanya tidak ingin merasa menyesal sudah melakukan segalanya tanpa perhitungan macam macam.
"macet ya mas memang di daerah sini?" tanya Kiana.
"iya disini mah macet terus, kamu sangat jarang lewat sini ya?" tanya Naufal.
"lah gimana mau lewat mas, palingan rute ku hanya rumah ke kedai hanya itu setiap hari. jalan jalan pun tidak pernah ya bingung sendiri mau sama siapa? makanya aku lebih milih di rumah dan kerja saja lagi pula aku nggak tau jalan juga" ucap Kiana.
memang benar Naufal tau jika Kiana tidak tau jalan di sekitar sini, mungkin Kiana bisa saja nyasar jika Naufal meninggalkannya disini sangat lucu memikirkan Kiana yang semakin hari semakin membuat hatinya berdebar keras seperti ini.
"iya kan ini dah diajak, lama lama juga hafal jalannya" ucap Naufal.
"iya mas, makasih ya? maaf merepotkan mas terus" ujar Kiana.
Kiana sudah siap dengan segala konsekuensi yang akan terjadi di dalam hidupnya. Kiana seperti nya ingin mencoba apa yang akan dia lakukan sesuai dengan keinginan hatinya. dia tidak peduli dengan omongan orang lain kini dia memilih untuk hidup sesuai dengan keinginannya.
"kamu suka buat cake itu apa sih kecil kecil yang ada krim nya?" tanya Naufal.
"maksud mas cupcake?" tanya Kiana.
"ah itu" ucap Naufal.
"mas kok tau?" tanya Kiana.
"kamu kan yang buatin waktu ada acara di rumah bibi Ling?" lagi lagi apa yang ditanyakan oleh Naufal tepat sasaran.
waktu itu memang anaknya bibi Ling pulang dari luar negeri karena memang untuk menyambut mereka Kiana membantu bibi Ling untuk memasak dan membuat kue. Kiana membantu memasak dan ketika sudah selesai dia ijin dengan bibi Ling dia akan memasak cup cake karena memang bibi Ling memiliki bahan yang ada di dapur nya. wah kini Kiana tidak salah lagi kenapa Naufal bahkan sampai tau hal tersebut bahkan dia saja sampai lupa karena memang itu sudah lumayan lama.
"kamu nggak mau coba usaha cupcake?" tanya Naufal.
"ya pengen mas, lagi pula kesel juga ya kalau kerja dari pagi sampai malam malam terus ya bukannya ngeluh aku bahkan bersyukur dapat kerjaan seperti ini tapi yang namanya tubuh kadang juga capek kerja begitu terus terusan" ujar Kiana.
"kamu mau buka usaha nggak? pasarkan secara online dulu aja nanti kalau udah banyak yang minat nanti coba lah kalau dah ada dana kamu langsung buka toko aja" ucap Naufal memberikan saran.
Naufal hanya ingin Kiana menggunakan apa yang dia bisa untuk mengembangkan dirinya. Kiana mampu melakukan hal lebih baik lagi dengan kemampuannya dan kini yang Naufal lakukan hanya sebagai langkah agar Kiana sadar dia juga memiliki kemampuan yanh memang harus dia pergunakan dengan sangat baik. jika memang Kiana terbatas karena dana dia akan membantunya dan mensupport segalanya.
"tapi mas, aku nggak punya dana sih alat alat juga nggak punya mas" jawab Kiana.
segalanya memang terbatas pada dana, jika mungkin Kiana memiliki alat alat dan dana yang lumayan pun dia juga akan melakukan hal itu untuk menambah nambah pemasukan tapi ketika dia tidak memiliki segalanya ya apa yang bisa dia lakukan? dia tidak bisa melakukan apapun selain menjadi pelayan di sana.
"nanti Mas modalin ya?" ujar Naufal.
Kiana merasa tidak enak dengan apa yang akan dilakukan oleh Naufal, Kiana kini langsung menolak apa yang akan dilakukan oleh Naufal untuknya itu.
"nggak usah repot repot mas, Kiana udah numpang di rumah mas aja udah nggak enak apalagi kalau sampai seperti itu. Kiana nggak tau lagi hal itu pasti sangat merepotkan mas" ujar Kiana.
"nggak papa kok, kamu bisa balikin uangnya kalau udah sukses usahanya? mas hanya pengen bantu kamu. kamu nanti keluar dari kedai dan buka usaha kecil-kecilan sendiri" ucap Naufal.
"tapi ini masih seminggu lagi mas menuju akhir bulan" ujar Kiana.
"ya nggak papa kita lakukan secara bertahap, besok kamu bilang bibi Ling aja kalau kamu mau keluar" ucap Naufal.
Naufal hanya tidak ingin Kiana capek setiap hari kerja bahkan weekend juga harus kerja, jika dia memiliki usaha sendiri kan Kiana bisa kerja sesuai dengan waktu dan pasti memiliki banyak waktu luang untuk dirinya sendiri. Naufal melakukan semuanya hanya untuk kebaikan Kiana dia hanya tidak ingin Kiana sampai kenapa kenapa.
"tapi nggak enak juga mas, aku udah banyak di bantu sama bibi Ling" ujar Kiana.
"ya kamu jujur, kamu juga capek kan? kerja begini setiap harinya? mas hanya ingin kamu baik-baik saja Kiana" ucap Naufal.
"iya aku tau mas, nanti aku coba bicara dengan bibi Ling apapun nanti hasilnya aku akan mencoba membicarakannya dengan sangat baik" ucap Kiana.
Naufal senang, Kiana sangat penurut padanya apapun itu Kiana menuruti apa saran yang Naufal berikan. semuanya yang Naufal lakukan memang hal yang sangat baik untuk Kiana, apapun itu Naufal hanya tidka ingin Kiana kenapa kenapa dia tidak ingin orang yang dia sayang terjadi apapun yang memang membahayakannya.
jika di pikir pikir Kiana lebih aman berada di dalam apartemen tanpa takut di datangi oleh orang rese macam Dinda. kejadian yang pertama sudah sangat membekas di hati dan pikirann Kiana dan mungkin dia akan merasa trauma jika merasakan hal seperti itu lagi.
Naufal dia memiliki tiga apartemen dan Dinda hanya tau satu apartemen miliknya ya itu karena memang dulu dinda pernah kesana ketika dia meminta tolong kepada Naufal untuk membantunya itu. hanya sekali Dinda datang karena dia membutuhkan bantuan karena ada masalah dengan orang tuanya itu. tapi itu dulu ketika Naufal belum tau apa yang ada di dalam diri wanita itu, sekarang dia pun menyesal apa yang pernah dia lakukan dulu bukannya dia menyesal tapi lebih tepatnya tidak ingin berurusan dengan Dinda lagi.
bersambung