18. Luka yang Mendalam

1142 Kata
Sejak umi mengatakan tentang lamaran Wiliam, Maira tidak bisa tidur dengan tenang. Gadis itu tetap terjaga di atas ranjangnya, sedangkan Ika sudah tertidur sejak satu jam yang lalu. Setelah tadi mereka bercerita tentang putri duyung, akhirnya Ika tertidur juga. Maira menatap langit-langit kamarnya. Benaknya terpikir tentang Ibu Meswa. Maira tidak tahu lagi bagaimana pandangan wanita itu terhadapnya. Setelah menyadari betapa kejamnya sikap Lian, Maira tidak pernah berpikir untuk kembali padanya. Namun, entah mengapa malam ini dia terpikir tentang Ibu mertuanya. Gadis itu menghela napas, lalu bangkit dari posisi berbaring. Selambat dan sepelan mungkin Maira beranjak meninggalkan kasur. Dia tidak ingin membuat tidur Ika terganggu sebab pergerakannya. Maira membuka buku catatannya. Dia tidak membawa apa-apa ketika sampai di panti asuhan ini. Sejak diberi tempat untuk tinggal di sini, Maira mulai membuka lembaran baru untuk menuliskan semua harapan hidupnya, dan meninggalkan segala kekecewaan yang sempat bersarang hingga menimbulkan luka yang sangat dalam. Gadis itu mulai menggerakkan pena, menuliskan kebimbangan hatinya dan berharap bisa mendapatkan jawaban. Jakarta, 1 Desember 2011, 23.11. Ayah... Ternyata Maira tidak bisa mengatur sendiri hidup ini. Setiap kali Maira berharap untuk ketenangan, setiap itulah masalah datang, dan minta diselesaikan. Dunia terlalu luas dan keras untuk Maira jalani. Selama ini, ayah lah pembimbing setia, pengajar, dan pemberi motivasi terbesar untuk Maira. Ketika ayah pergi hari itu, Maira pikir pilihan ayah bisa menjadi pengganti yang lebih baik. Namun, pikiran itu salah. Maira tidak tahu kenapa takdir seperti ini harus dimulai ketika ayah pergi. Apa yang harus Maira lakukan? Masalah apa yang harus Maira selesaikan? *** "Lisa." Suara itu membuat langkah si pemilik nama berhenti tiba-tiba. Lisa baru saja berjalan beberapa langkah setelah keluar dari kelasnya, tapi suara seseorang sudah menghentikannya. Gadis itu menoleh, dapat dia lihat Sieera berdiri di sana. Hal itu membuat Lisa berpikir jika Sierra memang sengaja menunggunya. Lisa melangkah mendekati Sieera. Ada tatapan curiga dan penuh perkiraan yang Lisa pancarkan untuk wanita itu. "Kau membuntutiku?" tuding Lisa langsung tanpa basa-basi. Tentu saja Lisa berpikir seperti itu. Biasanya dia hanya akan menemui Sieera di koridor kampus. Namun, kini Wanita itu menemuinya tepat di depan kelas yang dia masuki. Terbukti jika wanita itu telah membuntutinya sejak awal. Sieera tertawa kecil. "Apa maksudmu? Aku hanya tidak sengaja melihatmu keluar dari sana," jawab Sieera, wanita itu tampak menyembunyikan sesuatu. Menit berikutnya, Sieera menyadari betapa tidak sopannya gadis itu menatap dirinya. "Oh, jaga tatapanmu. Aku jauh lebih senior darimu," ucap Sieera kemudian. Lisa membuang napas jengah, bahkan bola matanya sampai melingkar tak peduli. "Ada apa menemuiku?" tanya gadis itu. Sieera melipat kedua tangan di depan perut. Ada rasa jengkel dalam dirinya sebab melihat cara bicara gadis yang lebih muda di depannya. "Aku tidak pernah tahu jika kalian memiliki adik laki-laki," ucap Sieera. Sontak, kedua mata Lisa membesar. "Apa maksudmu adik laki-laki?" "Hm. Aku tahu kau sering menemui seorang bocah di panti asuhan." Lisa menatap wanita itu nyalang. Baru dia sadari, ternyata wanita itu membuntutinya ke mana pun dia pergi. Lisa mulai berpikir untuk selalu berjaga-jaga setelah ini. Apalagi  kedepannya dia berencana ingin mengeluarkan kakak iparnya dari kurungan kakak kandungnya. "Apa kau bilang menemui? Tentu tidak ada salahnya jika aku menemui seorang bocah di panti. Memangnya apa urusanmu?" kata Lisa, mencoba membela diri sendiri. "Yah, memang tidak ada salahnya untukmu. Tapi ... aku menyimpan banyak curiga tentang kakakmu. Kurasa dia telah bermain curang," ucap Sieera. "Apa maksudmu curang?" Lisa melototi wanita itu. "Aku sudah mengatakannya padamu. Kakakmu membeli seorang gadis di sebuah prostitusi, dan sekarang dia menyembunyikannya di panti asuhan. Motif apa ini? Apa dia sengaja melakukannya untuk membatalkan kerja sama dengan perusahaan kami!" Lisa terpaku di tempatnya dengan raut wajah tak mengerti. Gadis itu tidak ingin tahu menahu tentang perusahaan kakaknya. Namun, dari percakapan ini, Lisa seolah mengerti apa yang Sieera inginkan. Selain itu, Lisa pun menyadari jika gadis yang Sieera maksud adalah gadis panti itu. Lisa tertawa kecil. "Menyembunyikan? Apa kau gila? Untuk apa dia menyembunyikannya di panti jika kau mengetahuinya," ucap gadis itu cepat. Setelah memberikan tatapan sinis pada Sieera, Lisa segera melangkah meninggalkannya. "Lisa!" panggil Sieera dengan seruan tinggi. Gadis itu terpaksa menghentikan langkah. Suara teriakan Sieera itu membuat Lisa menjadi pusat perhatian teman-teman kampusnya. Lisa berjalan kembali ke arah wanita menyebalkan itu. "Jangan meneriakiku seperti itu!" titah Lisa dengan tatapan nyalang. "Kenapa? Apa teman-temanmu sama sepertiku, yang menyimpan banyak kecurigaan terhadapmu? Heh!" kata Sieera seraya mendecih. Lisa menghela napas jengah. "Apa yang kau inginkan dariku?" Wanita itu menarik satu sudut bibirnya. "Tidak banyak. Aku hanya ingin kau membawa gadis panti itu padaku." Lisa menatap Sieera lekat-lekat. Gadis itu menyusun rencana yang mungkin dapat dijadikan jalan keluar untuk menyelamatkan Nessa. Hari itu Lisa mendapatkan banyak informasi dari Sieera. Gadis itu sedikit berterima kasih padanya meski tidak diucapkan melalui lisan. *** Sore itu, seperti biasa, Maira mengajar anak-anak panti mengaji. Setelah selesai, Aisya segera menghampiri Maira untuk menagih janji bercerita. "Kak Maira," panggil Aisya dengan semangatnya. Maira menatap bocah perempuan itu. Entah mengapa, tiba-tiba terselip banyak rasa bersalah terhadapnya. Maira menjadi sedikit khawatir tentang sesuatu yang akan terjadi di kemudian hari. "Hai, Aisya. Gimana ngajinya?" Maira mengusap kepala gadis kecil itu. "Alhamdulillah," jawab Aiysa. "Kak Maira, kemarin papa tanya sama Aisya, katanya Kak Maira boleh jadi mama Aisya." Deg. Tiba-tiba saja, jantung Maira terasa seperti berhenti berdetak. Tidak bisa dia bayangkan bagaimana kecewanya Aisya ketika menyadari hal itu tidak akan terjadi. Dia sudah menolak lamaran Wiliam, dan umi pun pasti sudah menyampaikan tentang hal itu pada Wiliam. "Aiysa," panggil Wiliam. Pria itu sudah berdiri tak jauh dari mereka. "Ayuk pulang, Papa tunggu di depan ya." Tanpa menunggu Aisya menjawab ajakannya, Wiliam sudah berjalan meninggalkan tempat itu. Aisya menatap punggung papanya yang melangkah keluar lebih dulu. Tidak biasanya Wiliam keluar duluan tanpa menunggu Aisya. Maira lekas berjongkok di depan Aisya. "Em, Aisya, sepertinya papa Aisya ada urusan penting. Hari ini berceritanya ditunda dulu ya," ucap Maira padanya. Gadis kecil itu menoleh dengan raut sendu. Dapat Maira lihat matanya yang berkaca-kaca, hendak menangis.  "Papa ninggalin Aisya," kata bocah itu. "Nggak, Aisya. Papa nungguin Aisya di luar," ucap Maira, menenangkan gadis kecil itu. Aisya memajukan bibirnya, tiba-tiba saja bocah itu murung. Padahal tadi semangatnya terlihat sangat menggebu-gebu. "Kak Maira mau ikut Aisya pulang? Papa bilang, kalau Kak Maira jadi mama Aisya, Kak Maira harus tinggal di rumah sama Aisya." Maira bergeming dengan tatapan nanar. Kini dia bingung harus bicara apa pada Aisya. Jika seperti ini terus, Aisya akan selalu berambisi menjadikan Maira sebagai mamanya. "Tidak, Aisya. Kak Maira akan tetap tinggal di sini. Jadi mama untuk anak-anak yang lain juga. Aisya tahu, mereka juga tidak punya mama seperti Aisya. Kalau Kak Maira pergi, pasti mereka sedih." Wajah Aisya semakin murung setelah mendengar ucapan Maira. Gadis kecil itu mengaduh. "Kalau Kak Maira tetap di sini, Aisya tidak punya mama di rumah. Setiap teman-teman Aisya main ke rumah, mereka pasti bertanya di mana mama Aisya. Mereka bilang, kalau mama Aisya tidak ada di rumah, Aisya tidak bisa merayakan hari ibu." Bulir bening jatuh dari pelupuk mata Maira. Sungguh, dia telah melukai perasaan gadis kecil itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN