Wiliam keluar dari kamarnya, dia baru saja selesai mengganti pakaian setelah seharian berada di kantor. Pria itu menghampiri putri kecilnya yang sedang memeluk boneka panda di atas sofa depan TV.
"Loh, Aisya belum siap-siap? Bukannya sore ini ada jadwal mengaji, kok malah nonton TV," ucap Wiliam setelah melihat putrinya bermalas-malasan.
Aisya memasang raut murung. "Aisya gak mau ngaji di situ lagi," ucap gadis kecil itu.
Wiliam bergeming sebelum akhirnya berjongkok di depan sofa yang diduduki Aisya. "Memangnya kenapa, Sayang?" tanyanya dengan sentuhan lembut di lengan mungil putrinya.
"Ada anak nakal. Aisya dikatain gak punya mama," jawabnya agak ketus dengan wajah yang hampir menangis.
Bukan hanya Aisya yang merasakan sakit hati atas kenyataan itu, Wiliam pun dapat merasakannya. Pria itu menghela napas berat, baru dia sadari betapa pilu hati Aisya dengan keadaan ini. Ada rasa tak tega dalam diri Wiliam melihat Aisya. Namun di samping itu, ada pula hati yang tak rela jika harus menggantikan cinta untuk istrinya.
Wiliam tidak menyangka jika keputusannya dahulu berdampak pula pada putrinya. Memang, Wiliam dapat menerima semua yang ada pada istrinya dengan ikhlas, tetap mencintainya bagaimana pun keadaannya, menjadikan Melia satu-satunya pilihan untuk teman surganya. Namun tidak bagi putrinya. Meski gadis kecil itu sangat mencintai ibunya, tetap saja dia merindukan kasih sayang yang nyata dari seorang wanita.
Tidak mungkin semangat hidup Aisya berakhir secepat ini. Harusnya dia merasakan detik-detik kehangatan, menjalin cinta dan kasih yang penuh dari ibu dan ayah, menikmati setiap waktu bersama, dan menjadi yang terhebat, sama seperti anak-anak lain yang sering Aisya lihat. Mengapa cinta yang dia miliki pergi begitu cepat.
"Aisya...," lirih Wiliam sambil meraih wajah peri kecilnya yang murung. "Siapa yang bilang Aisya gak punya mama? Mana mungkin Aisya gak punya mama. Mama Aisya itu ada, mereka saja yang tidak bisa melihatnya," bujuk Wiliam.
"Memangnya papa bisa lihat? Aisya gak bisa lihat."
"Tapi Aisya bisa merasakannya, kan?" Wiliam menatap gadis kecil itu penuh arti. "Mama, selalu ada, di hati Aisya," ucap Wiliam sambil menyentuh relung hati putrinya.
Wiliam tidak pernah lupa dengan kalimat itu, kalimat yang dulu selalu Melia ucapkan pada Aisya, putri kecilnya yang manis. Aisya menyentuh dadanya sendiri. Dia bisa merasakan papanya yang seketika menjelma menjadi sosok mama.
"Aisya ... kangen mama...," lirihnya. Wajah Aisya tampak begitu sendu, bibirnya sampai melebar sebab menahan tangis.
Wiliam membawa gadis kecil itu ke dalam dekapan. Dibiarkannya Aisya menangis tersedu-sedu di sana. Suara tangis itu sungguh memporak-porandakan batinnya. Tak kuasa lagi Wiliam membujuknya untuk bersabar. Tentulah Aisya tidak seperti dirinya, yang mampu bertahan selamanya.
***
Pagi tiba, secercah cahaya terang menyelimuti bumi. Cuaca cerah dengan taburan sinar hangat membakar semangat setiap orang yang berjalan di bawahnya. Aisya turun dari mobil setelah Wiliam membukakan pintu untuknya. Gadis kecil itu sudah tiba di halaman sekolah.
Aisya menatap jauh pada temannya yang baru saja diantar oleh ayah dan ibunya. Temannya itu terlihat sangat bahagia di mata Aisya. Bercium pipi dengan mama dan papa satu per satu, lalu bergandengan tangan menuju pintu kelas.
"Aisyaa," panggil Wiliam setelah mengikuti arah pandang putrinya.
Aisya mengalihkan pandangannya, lalu menatap papanya yang berjongkok di depannya. "Itu teman sekelas Aisya, namanya Wulan. Setiap hari dia selalu bercerita kalau masakan mamanya enak, setiap hari juga dia bagi-bagi bekalnya ke teman-teman," papar Aisya.
Lagi-lagi, Aisya sering sekali berkata tentang mama belakangan ini, membuat Wiliam tidak bisa fokus pada pekerjaannya.
"Papa," panggil Aisya. "Apa nanti siang papa ke panti asuhan yang waktu itu? Sudah lama papa tidak ajak Aisya ke sana."
"Tidak, Sayang. Nanti siang papa ada meeting. Aisya tunggu di sekolah dulu sama Bu Nanik, ya," ucap Wiliam.
Wajah Aisya semakin murung setelah mendengar ucapan papanya. Dia terlihat marah sekarang.
"Aisya gak mau. Semua teman-teman Aisya dijemput tepat waktu. Kenapa papa tega sama Aisya."
"Bukan seperti itu, Sayang. Papa ada pekerjaan yang harus diselesaikan." Wiliam mencoba menjelaskannya dengan sebaik-baiknya.
"Papa gak sayang sama Aisya!"
Gadis itu menarik gagang tas rodanya, lantas menariknya. Aisya berlalu menuju kelasnya, meninggalkan papanya yang masih terdengar memanggil namanya. Dia tidak mempedulikan panggilan itu.
Aisya menyayangkan keputusan papanya, terakhir kali Aisya dijemput terlambat waktu itu ketika papanya memiliki urusan, membuat Aisya harus menunggu sendirian, tidak ada kawan, tidak ada siapa-siapa, bahkan gerbang sekolah saja sudah ditutup. Sekarang, tega-teganya papanya itu menyuruh untuk menunggu lagi.
Pukul sembilan pagi, Wiliam terlihat menopang kepala di meja kerjanya. Dia sudah menyelesaikan tugas-tugasnya, kini benak Wiliam terpikir tentang Aisya.
"Selamat pagi, Pak Wiliam," sapa seorang pria padanya.
Wiliam segera memperbaiki posisinya. "Oh, Mr. Harley, selamat pagi," sapanya kembali.
"Apa benar kau yang mengurus kerjasama dengan perusahaan ini?" Harley meletakkan proposal yang dibuat Wiliam bulan lalu.
"Benar, Sir. Ketua pimpinan perusahaan sudah setuju dengan kontrak yang saya buat. Semuanya akan selesai setelah aku--"
"Batalkan kerja sama dengan mereka. Aku tidak mau mengurusnya." Harley memotong ucapan Wiliam.
Wiliam menatap heran. "T-tapi, Sir," ucapnya yang belum sempat dilanjutkan.
"Saya tidak mau melihat nama ini di mana-mana," kata Harley.
Alian Prameswari, nama yang ditunjuk pria itu. Wiliam menghela napasnya dalam-dalam. Dia tidak tahu alasan Harley tidak mau bekerja sama dengannya, dan dia sangat kecewa karena telah menyia-nyiakan waktu untuk hal ini. Wiliam menarik proposalnya sedikit kesal, dia tidak bisa membantah keputusan Mr. Harley.
Namun, di samping itu, setidaknya siang ini Wiliam bisa menjemput Aisya tepat waktu. Hal itu sedikit menghilangkan perasaan kesalnya atas proposal itu. Wiliam meraih ponselnya. Dia mengirim pesan bisnis pada Lian tentang pembatalan kerja sama. Setelah itu, Wiliam menghubungi Panti Asuhan Ar-Rayyan. Seperti biasa, dia ingin mengantar makanan untuk anak-anak dan pengurus panti.
Wiliam juga menghubungi langganannya di rumah makan yang biasa dia beli. Pria itu memesan beberapa kotak nasi untuk dibawa ke panti, juga beberapa lauk untuknya dan Aisya. Dia juga sempat meminta agar mereka membelikan permen lolipop untuk Aisya. Sehingga Wiliam tidak perlu mampir ke mana-mana lagi selain rumah makan itu siang nanti.
Sebenarnya Wiliam bersyukur sebab Aisya mengajaknya ke sana. Namun, pagi tadi pikirannya sedang kalut, membuatnya tidak bisa memenuhi permintaan putrinya. Tujuan Wiliam hanya satu, yaitu membuat Aisya membuka pikirannya bahwa di luar sana masih banyak anak-anak yang kurang mampu darinya. Wilian berharap Aisya tidak pernah menyesali dirinya.
***
"s**t!" umpat Lian setelah menerima pesan pembatalan dari Wiliam. Pria itu membanting ponselnya, membuat orang-orang di depan ruangannya kebingungan.
"Tuan Harley menolaknya. Ini pasti sebab gadis jalang itu!" gerutu Lian tertahan.
Sieera yang melihat kekasihnya kalang kabut di dalam ruangan yang hanya berbatas kaca itu segera menghampiri. Diraihnya ponsel Lian yang tergeletak di lantai. Sieera berjalan mendekat ke arahnya.
"Ada apa, Honey?" tanya Sieera.
"Mr. Harley menolak kerja sama perusahaan," jawabnya.
"Benarkah? Kenapa?"
"Pasti sebab gadis itu kabur darinya. Mr. Harley pikir aku mengkhianatinya," papar Lian.
"Apa sampai sekarang tidak ada kabar tentang gadis itu?"
"Tidak tahu. Rasanya aku ingin mencabik-cabik wajahnya," geram Lian.
Sieera menenangkan pria itu. Dia mengusap bahu Lian dari belakang. Lian tampak sangat marah sekarang.
"Akan aku bantu kalian untuk menemukannya," ucap Sieera. Entah mengapa dia terlihat begitu senang jika melihat gadis itu sengsara. Maira telah merebut dan memperlambat segala sesuatu yang Sieera harapkan.