Setelah satu minggu berada di Jakarta, Zea kembali memimpin perusahaan. Beberapa laporan yang tidak diketahuinya membuat Zea bertanya-tanya. Bahkan, dia memanggil asistennya untuk menjelaskan apa yang terjadi dengan proyek rumah senilai triliunan itu. Asisten Zea berdiri dengan wajah gelisah, seperti ada yang tidak Zea ketahui saat berada di Tokyo, sehingga membuat semua kacau. Zea pun menegaskan untuk segera memberitahukan mengenai apa yang terjadi selama dirinya ada di Tokyo. “Uhm, begini, Bu. Sebaiknya Ibu Zea bertanya pada Pak Pandu. Selama Ibu tidak ada di sini, Beliau yang menggantikan. Semua atas izin Tuan Ken, bahkan proyek itu juga.” Zea mengerutkan dahinya, seakan tidak percaya jika nama Pandu ada dalam daftar pimpinan perusahaannya. “Pandu?” Asisten Zea hanya mengangguk saa

