✔✔✔✔✔ Surat cerai itu akhirnya sampai juga di tangan Alan. Aku terlanjur sakit atas perbuatannya. Kulihat rahangnya mengatup rapat dan matanya memerah saat dia membaca surat itu di depan mataku. Aku hanya bisa menunduk, tanpa berani menatap ke arahnya. Alan berjalan pelan ke arahku sambil membawa kertas itu di tangannya. Tatapan matanya sangat tajam. Aku semakin menunduk saat Alan sudah berdiri di depanku. Air mataku menggantung. Sebenarnya ini bukan keinginan hatiku. SREK. Aku mendongak menatapnya. Kulihat ia menyobek surat itu menjadi 4 bagian dan melemparkannya ke udara. Matanya masih menatapku seolah-olah ingin memakanku hidup-hidup. Aku beringsut mundur saat tubuhnya mulai mendekat. "A-Alan...!". Panggilku lirih saat tubuhku menempel di daun pintu kamar kami. Tak ada ekspresi a

