Rama merapikan ranselnya yang tersampir pada bahu sembari merapikan anak rambutnya yang terjatuh pada kening. Pemuda itu pun melangkah keluar dari kamar dengan menutup pintu pelan. Ia tersentak kecil saat banyak orang yang berdiri menunggunya kini di ruang tamu. Berdiri berjejer seperti tamu undangan yang akan memberi ucapan selamat pada pengantin. "Beneran harus pergi sekarang ya?" Iren maju menatap Rama sendu, "iya, gue kan gak minta cuti. Lagian lo punya banyak teman buat balik nanti." Kata Rama menyindir sembari sekilas melirik Maliq di sampingnya. "Ya, tetap aja kan. Gue datang sama lo dan sekarang lo pulang sendiri. Gue ngerasa bersalah." Kata Iren lagi menghela napas samar. "Kalau lo ngerasa bersalah nanti pas balik ke rumah, lo harus traktir gue makan enak." Ujar Rama tersenyum

