BAB 3

1035 Kata
Tirai kelam kian menghitam. Binar bintang-gemintang pun menjadi terang. Bisik suara angin malam mendesis. Alam seakan telah terlelap. Hening. Sunyi. Hanya suara gema mobil dari kejauhan yang masih terdengar. Jika TV di ruang keluarga telah dimatikan, sudah pasti rumah mungil Aryo lengang. Bahkan sang pembuat onar pun telah terlelap pulas dalam pangkuan ayahnya. “Ayo, Dimas!” Aryo mengangkat Dimas. Perlahan lelaki berwajah teduh itu menggendong anaknya seraya melangkah pelan menuju kamar. Dia dekap Dimas dengan penuh kasih sayang. Perlahan-lahan Aryo melangkah. Ia tidak ingin sama sekali anaknya terusik. Biar saja Dimas merasa terbang dan mendarat di kasurnya lagi nanti. “Ah, Ayah curang,” igau Dimas lalu tersenyum sendiri. Aryo terkekeh mendengarnya. Setelah sampai, ia merebahkan putranya lalu mengecupnya. Mengecupnya dengan penuh kasih sayang. Aryo bersumpah tak akan membiarkan apa pun membuat Dimas sedih. Lelaki itu kini pergi menuju rooftop, di mana istrinya telah menunggu. Mereka akan menghabiskan waktu berduaan. Tak selalu karena seringkali Aryo ketiduran saat menemani Dimas menonton TV dan jika itu terjadi, Nur dengan senang hati tidur juga di pangkuan suaminya. Aryo masih sangat ingat ketika ia mendesain rumahnya sendiri. Pekerjaannya sebagai arsitektur membuat ia bisa mendesian bahkan menentukan bahan paling bagus untuk membangun rumahnya. Semua kayu yang dipesannya adalah kayu jati. Bahkan semen yang ia gunakan, juga semen terbaik. Aryo tak peduli dengan uang, yang ia pikirkan hanyalah keluarganya dilindungi oleh bangunan yang baik. Aryo pun mendesain rumahnya berbeda dengan rumah kebanyakan. Ia tidak ingin desain rumah ini ditiru oleh arsitektur lain. Maka dari itu ia mendesain rumahnya semikian rupa. Bahkan interiornya pun sudah Aryo tentukan. Jadilah kini rumah minimalis tapi multifungsi. Meski hanya satu lantai dan terdiri dari beberapa ruangan, rumah Aryo sangat indah. Terdapat taman bunga di depan, warna-warni yang selalu dirawat. Dan satu lagi, rooftop tempat bermesraan Nur dan dirinya. Bukan tempat menjemur baju, itu ada lagi di belakang. Rumah dengan desain seperti bangunan limas segiempat itu memiliki sebuah rooftop sedikit lebar. Karena rumah itu dibangun di atas bukit, Aryo dan Nur bisa menikmati langit dan indahnya perkotaan. Bahkan Aryo juga bisa melihat matahari terbenam di kaki bukit kala ia libur kerja. Tentu Aryo akan mengajak Nur duduk bersama di atas rooftop. Seringkali juga mereka bermain layang-layang di halaman belakang. Aryo mengajari Dimas sedang Nur memandangi mereka sambil membuatkan BBQ. Namun yang paling sering dilakukan Aryo adalah ini. Satu waktu di antara dua puluh empat jam, mereka berdua merangkai sebuah kenangan. Layaknya sepasang kekasih yang baru saja menikah, mereka berduaan memandang gumpalan cahaya yang terperangkap di tanah. Rumah mereka berada di atas bukit sehingga dengan mudah, mereka memandang nuansa malam perkotaan yang begitu indah. Nur sangat bersyukur suaminya tak hanya mementingkan pekerjaan. Dia selalu saja menempatkan keluarga di atas segalanya. Pernah di saat kantor lagi riweh, Aryo malah pulang dan tak lembur. Dia memilih untuk menemani Nur daripada mengurusi kliennya yang penuh permintaan. Di saat seperti ini, Nur selalu menyendehkan kepalanya di bahu suaminya. Dirasakannya hangat bahu sang suami yang selalu membuat wanita itu lega. Nur meresapi semua hal yang patut ia kenang. Mengumpulkannya lalu menumpahkan semuanya di malam ini. “Kenapa?” tanya Aryo lembut. Lelaki itu menoleh. Ia mengecup kepala istrinya. Dengan segenap hati Aryo menghirup kepala Nur. Dia amat mencintai Nur, tapi rasanya kata-kata saja tidak cukup. Dan inilah cara dia menyampaikannya. Bukan dengan kata, tapi dengan dekapan manis setiap hari, sehabis kerja, dan setelah Dimas tidur. Mereka akan berbicara bersama dari hati ke hati, sampai salah satu di antara mereka menguap dan akhirnya tidur. Mendengar suara suaminya, Nur terpikir akan mertuanya. Nur menghirup udara dalam-dalam. Ia berusaha mencari intonasi yang tepat untuk mengutarakannya. Sudah lama sekali ia ingin menanyakannya. Terakhir kali Nur menanyakannya pas Dimas lahir dan Aryo waktu itu langsung pergi. Tapi kini Nur rasa suasananya sudah pas. Mereka tidak ada masalah apa pun. Kerjaan Aryo lancar, Dimas juga tidak bandel. Mungkin … mungkin sekarang waktunya tepat untuk menanyakannya kembali. “Kebahagiaan kita akan lebih sempurna jika kamu tak menyimpan masalahmu sendiri, Mas ....” lirih Nur. Akhirnya kata yang selama ini terpendam, ke luar juga. Mata almond perempuan itu beralih menatap suaminya yang termangu. Agaknya dia pun memikirkan hal yang sama. Sudah enam tahun mereka menikah, tapi mertua Nur sama sekali tak pernah menjenguk. Sempat dulu ketika Aryo perlu dirawat di rumah sakit dan Nur datang meminta mereka berkunjung, mereka malah dengan tegas mengatakan bahwa Aryo bukanlah darah daging mereka. “Sebenarnya apa yang kamu sembunyikan, Mas?” lanjutnya. Aryo yang tadi menyendehkan kepalanya ke kepala Nur, langsung mengangkatnya. Dia menekuk kakinya lalu memeluknya. Dipandangnya hamparan langit di depannya. Aryo mendadak kaku. Bahkan napasnya tak setenang yang tadi. Meanggapi aura suaminya yang berubah, suara perempuan bermata almond itu sedikit bergetar. Ia takut suaminya kembali murung seperti dulu. “Kelak kamu juga akan tahu,” kata Aryo dingin. Nur menunduk. Ia menghela napas panjang. Selalu saja seperti ini. “Kata orang pernikahan adalah bersatunya dua keluarga,” desis Nur. “Dan mereka bukan keluargaku lagi. Hanya kamu, Dimas, Pak Hasan, dan aku. Cukup itu,” balas Aryo cepat. “Mas tahu kan kalau aku tidak punya Ibu sejak kecil. Apakah pernah Mas berfikir bahwa Dimas juga butuh sesosok nenek,” lirih Nur. Begitu lirih. Kalau andai saja tadi ada suara deru mobil yang lewat, pastilah Aryo tak akan bisa mendengarnya. Aryo menelan ludah. Ia masih tak mau menatap Nur. Dia mengawang, persis seperti orang yang mau menghadang air matanya agar tidak jatuh. “Percayalah Nur, kau pasti lebih memilih tidak memiliki orang tua daripada memiliki orang tua seperti mereka,” pungkas Aryo. Nur terkesiap. Aryo berdiri begitu saja lalu pergi. Nur pun menatap kepergian suaminya. Meski remang, Nur dapat melihat Aryo yang menyeka air matanya sebelum menuruni tangga. Nur pun kian bertanya-tanya. Entah mengapa setiap kali membahas tentang orang tuanya, lelaki itu selalu menghindar. Perempuan bermata almond itu ingin sekali membantu menyelesaikan masalah suami dengan orang tuanya. Namun wanita itu sadar, jika ia tak tahu tentang duduk perkaranya dulu, kedatangannya hanya akan menambah masalah. Maka seharunya Aryo membeberkan apa yang sebenarnya terjadi. Dengan demikian Nur pasti bisa menyatukan mereka kembali. Pasti dan Nur yakin akan itu. Dia punya jurus ampuh yaitu wajah anaknya yang begitu menggemaskan. Sekeras apa pun orang tua, mereka tak akan tahan dengan kelucuan yang dibuat oleh cucunya sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN