PROLOG

1052 Kata
Berbulir-bulir keringat menetes di kening Nur. Ia tak menyangka hari ini sedang diperjual-belikan. Tepat di hadapannya, dua orang laki-laki tengah bersitegang. Tak ada satu pun di antara mereka yang mau mengalah. Denting jam berdetak. Lenguh punggguk kian nyaring terdengar. Angin malam mendesau. Hawa dingin perlahan merambat masuk melalui celah-celah ventilasi. Nahas, perdebatan dua lelaki itu malah kian memanas. Keduanya tampak bersitegang, tak ada satu pun yang mau mengalah. “Kalau kamu mau meminang putriku, kamu harus punya rumah,” pungkas sang calon mertua. “Siap, Pak. Ini uangnya sudah saya bawa. Kalau Anda mau memilih rumah, saya sudah carikan listnya dan ini listnya,” jawab Aryo enteng sembari mengeluarkan amplop uang lengkap dengan brosur rumah mewah yang tengah dilelang. Nur hanya bisa membelalak. Meski ia tahu bahwa lelaki dambaannya penuh dengan kejutan, tapi lelaki itu tetap membuatnya terpukau. Ia yakin ayahnya pun demikian, tapi beliau sangat lihai menjaga image-nya. Lihat saja! Wajahnya tetap garang dan pandangan intimidasinya sama sekali tak berkurang. “Maaf, Pak ..., kalau boleh usul, saya hendak menawarkan sebuah rumah. Tapi, rumah itu masih dalam proses pembangunan. Nah ... saya ingin sekali membangun rumah itu dengan putri Bapak.” “Hmm ... Lantas, kenapa kamu mengeluarkan uang dan brosur ini? Saya tidak suka ya, dengan pria sombong macam kamu ini!” nada ayah Nur meninggi. “Maafkan saya, Pak. Saya tak bermaksud demikian.” “Lalu?” “Orang bijak berkata, ‘Kalau kau serius lakukanlah dengan sepenuh hati, jangan setengah-setengah’. Dulu Nabi ketika melamar Dewi Khodijah dengan dua puluh ekor unta. Belum lagi uang yang ditambahkan ketika itu. Saya yakin Nabi mempersiapkannya begitu matang sehingga lamaran itu berujung pernikahan yang indah dan abadi, dikenang sepanjang zaman. Saya serius dengan putri Bapak, jadi saya bawa semua perlengkapan yang mungkin akan ditanyakan.” “Beri aku satu alasan, kenapa kamu malah menawarkan rumah belum jadi!” “Rumah tangga itu rumah penuh perjuangan. Suami dan istri berjuang bersama-sama untuk saling membahagiakan. Oleh karenanya, saya ingin mulai berjuang bersama putri Bapak dimulai dari membangun rumah.” Sekali lagi jawaban Aryo membuat Nur terpukau. Mata perempuan itu mendadak berkaca-kaca. Hatinya dipenuhi debar kebahagiaan. Ia pun kian khusuk memanjatkan doa. Perempuan bermata almond itu berharap ayahnya akan luluh dengan pemuda yang melamarnya kali ini. “Ini nih, pemuda yang saya tidak suka,” hardik sang ayah. Seketika, harapan kecil Nur musnah. Pecah. Matanya sekejap melihat Aryo, tampak pemuda itu pun kaget. “Kamu terlalu idealis. Semua orang tua mengharapkan anaknya bahagia. Lah, kamu malah meminang putriku untuk jadi kuli? Yang benar saja.” “Maaf Pak, saya tidak bisa menjanjikan kebahagiaan karena kebahagiaan adalah hak semua manusia. Bahagia itu pun perlu perjuangan, maka dari itu saya tak bisa menjanjikan itu.” “Kalau begitu, selamat malam. Kamu tahu di mana pintu keluarnya.” Hancur sudah. Jawaban sang ayah, memporak-porandakan harapan yang telah Nur bangun. Rinai air matanya seketika tumpah. Ia tak menyangka ayahnya menolak lamaran Aryo begitu saja. “Ayah ... ” Nur memelas. Namun lelaki paruh baya itu tetap dalam pendiriannya. Mukanya begitu bengis, kaku. Keputusannya mutlak, sama sekali tak bisa digoyahkan. “Baik, terima kasih. Saya pamit.” Aryo melangkah lunglai. Meski ia tergolong pemuda yang tegar, penolakan itu tetap membuatnya rapuh. Beribu rencana yang telah ia susun, kini hancur sudah. Bibirnya pun sampai kering hanya sekadar untuk mencari informasi mengenai apa yang tidak disukai ayahnya Nur itu. Telinga Aryo pun sampai hapal bahwa berjuta kali Pak Hasan selalu menolak pemuda yang berjanji akan membahagiakan anaknya. Tapi mengapa dengan jawaban seperti itu, dirinya juga ditolak? “Tunggu!” tiba-tiba Pak Hasan menengahi. Aryo terhenti di ambang pintu. “Kamu lupa dengan bawaanmu.” Pemuda itu berbalik dan memeriksa tempat duduknya, namun ia tak melihat apa pun. Semua bawaannya telah terkemas rapi di dalam tas. Ia pun meraba-raba sakunya, kali aja gawainya tertinggal di meja. Tapi tetap saja semua barang sudah ia bawa. Aryo pun mengernyitkan dahi dan memandang Nur beserta ayahnya. “Kamu lupa dengan cintamu yang ada di putriku. Bawalah ia!” Tas yang dijinjing Aryo tiba-tiba saja terjatuh. Udara mendadak beku. Angin seketika berhenti. Bahkan nyamuk pun jatuh karena lupa mengepakkan sayapnya. Jawaban yang tak disangka-sangka datang begitu saja. Aryo cengo. Ia kaget dan hanya bisa melongo. Sampai suara Nur tiba-tiba menengahi. “Jadi Ayah merestui kami?” tanya Nur, memastikan. Sang ayah tak menjawab. Ia hanya melangkah perlahan mendekati putrinya lantas memeluknya. Walau samar, Nur tahu kalau ayahnya terisak. Lelaki paruh baya itu mengangguk dalam pelukan putrinya. Nur pun sama. Lidahnya kelu. Ia hanya bisa ikut menangis. Tangannya melingkari badan ayahnya itu. Ia pun memeluknya begitu erat. Akhirnya hari ini datang juga, hari di mana ayahnya bisa melihat seorang laki-laki yang bisa menjaganya. “Terima kasih, Yah!” lirih Nur. Ayah Nur mengangguk samar-samar. Ia pun mengecup ubun-ubun putrinya. “Berbahagia lah bersama Aryo, Nak!” tuturnya lembut. Setelah sekian detik, sang ayah melepas pelukannya. Ia membiarkan putrinya untuk bertemu calon suami. Sesaat mereka hanya bertatap muka. Pipi sejoli itu, memerah. Mereka tersipu lalu tersenyum. Keduanya seakan tak percaya dengan semua ini. Nur meraih tangan Aryo lalu mengecupnya. Aryo tersenyum, gigi rapinya terlihat sudah. Setetes air mata menghiasi pelupuk mata Aryo. Hendak air mata itu mengalir, tapi lelaki berwajah teduh itu buru-buru mengusapnya. Ia memandang langit-langit sejenak, memaksa agar air matanya tidak tumpah. Hatinya terasa hangat. Tangannya yang semenjak tadi keringat dingin, terobati sudah oleh kecupan halus bibir Nur. Aryo mengangkat wajah calon istrinya kemudian mengecup dahinya dengan penuh kasih sayang. “Tapi ingat, sekali keluarga kalian ada masalah, saya tak segan membuat kalian pisah!” tegas Pak Hasan. Aryo menelan ludah. Adegan penuh haru biru itu terhenti begitu saja. Lelaki dengan wajah teduh itu sontak teringat akan masalah dirinya dengan orang tuanya. Jika ayah Nur sampai tahu, mungkin pernikahan ini akan dibatalkan. “Ish Ayah. Nggak bisa pa, lihat kondisi?” protes Nur. Ayah Nur menolehkan pandangan. Tangannya bersedekap. “Aku masih Ayahmu yang memastikan suamimu tidak akan macam-macam.” Nur nyengir. Ia pun menarik tangan ayahnya agar mereka berpelukan bersama. Awalnya ayah Nur itu malu-malu, tapi tangannya mendekap Nur dan juga calon suaminya. Tinggal Aryo yang mengembuskan napas berat. Ia mempunyai sedikit rahasia. Hanya sedikit tapi rahasia yang bisa membuat ayah Nur akan memecatnya jadi mantu. Namun ia harap, setelah mereka menikah, ayah Nur itu tak akan menggubris lagi tentang masalah yang Aryo hadapi kini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN