"Garka s****n!" Angel menutup pintu Mansion utama, ia bersender disana sambil kembali mengatur nafasnya lalu tak lama setetes bening mengalir begitu saja di pipinya. Entah kenapa dia tiba-tiba merasa sedih dan ingin menangis. Bukan, ia menangis bukan karena candaan Garka yang kotor, namun ia tiba-tiba teringat akan perasaan dulu yang seakan ia rasakan kembali di masa ini. Perasaan tak asing yang merebak secara tak sadar, membuat kehangatan yang sama seperti dulu ia pernah rasakan bersama orang yang berbeda. "Kenapa semua candaan dan sarkasme mu mirip sekali dengan Gevan?" gumam Angel. Gadis itu memejamkan matanya. Membiarkan wajahnya basah oleh air mata. "Kau semakin membuatku menganggapmu sebagai Gevan. Aku tidak mau mencintai mu, Garka. Kau sudah ku anggap sebagai adikku," ucap Angel

