"Lo gak seharusnya ikut campur," gerutu Prisil, masih diikuti Albrian sampai masuk ke dalam ruang OSIS.
"Gak seharusnya senior nyindir lo kek gitu, makanya gua gak mau diem! Kenapa gak lu tonjok, sih? Gatel tau tangan gua!"
Prisil berbalik. "Ini, tuh, sekolah! Punya aturan dan gua sebagai KETOS tau yang harus gua lakukan, perbuat dan berpikir ulang sebelum bertindak! Gak kayak lo, jangan sok jadi pembela, deh, gua gak butuh!"
Bantingan pintu ruangan lain yang mengurung Prisil di dalam menyadarkan Albrian. Ia sudah berusaha bersikap baik, pengertian dan mencoba menjadi pembela bagi Prisil. Namun, di mata gadisnya itu semua hal salah. Semua yang dilakukan Albrian takkan mendapat pujian apalagi berterima kasih. Sebelum Albrian pergi, sosok Kevin datang dengan wajah cemas.
"Prisil mana?" tanyanya khawatir.
"Ngurung diri, tuh!" balas Albrian.
"Ohh, ya udah lu bisa keluar. Ini tempat khusus pengurus OSIS," ketusnya mengusir.
Albrian tersenyum kecut. "Ninggalin kalian berdua di sini, gitu?"
"Kenapa? Udah biasa juga," bela Kevin, lalu memberikan jalan bagi Albrian untuk segera cepat pergi. "Gua udah punya cewek, gak usah mikir macem-macem."
Tak kuasa membantah, Albrian pun terpaksa memilih pergi. Melihat Albrian yang sudah hilang dari pandangan, Kevin pun mendekati pintu ruangan rapat kepengurusan OSIS. Tanpa sepengetahuan orang lain, Kevin memiliki kunci ganda ruangan itu yang sengaja Prisil kunci dari dalam untuk menenangkan diri.
Saat suara Kevin bergema di ruangan luar, Prisil semakin menggerutu. Sampai suara pintu yang terbuka perlahan, menyadarkan Prisil dari lamunan. Ia terkejut mendapati Kevin bisa membuka pintu ruangan itu. Kevin yang siap mendengar pertanyaan Prisil, segera memperlihatkan kunci gandanya.
"Gua gak punya urusan sama, lo!" ketus Prisil.
Kevin menyandarkan tubuh tegapnya ke ambang pintu. "Hem, gua cuma mau mastiin lo baik-baik aja."
Prisil bangkit dari kursi. "Kenapa lo bisa punya kunci lain? Bukannya cuma ada satu? Lo tau, kan, gua KETOS di SMK ini dan yang punya kunci ruangan ini cuma gua!" terangnya panjang lebar.
"Gua tau, tap—"
"Gua bisa laporin lo ke pak Wili sekarang juga!"
Ancaman Prisil tak membuat Kevin merasa takut dan bersalah, ia malah tersenyum lebar lalu memainkan kunci ruangan di tangan. "Laporin? Terus fakta masa lalu lo terbongkar, mau?"
Seketika tubuh Prisil kaku. Apa yang akan Kevin lakukan? Menyebarkan fakta di masa lalu, bahwa dirinya adalah manusia paling kejam! Yang pernah Prisil kenal dan sekarang menyesal. Apa yang harus dibanggakan? Jika Kevin menyebarkan keburukan Prisil karena dirinya sendiri, otomatis nama baiknya pula akan tercoreng.
"Dan lo ngebiarin aib sendiri terbongkar juga?"
"Asalkan lo nemenin rasa malu yang gua rasa juga," balas Kevin cepat, tanpa menunggu lama ia menghampiri Prisil lalu duduk di kursi sebrangnya. "Diana juga udah gua dapetin. Jadi, lo mau ngancem apalagi, Prisil?"
Prisil semakin dibuat tertekan, merasa kalah karena Kevin sekarang yang berkuasa. Namun, belum juga ancaman lain keluar dari mulut lelaki di hadapannya Albrian kembali datang dengan dua buah roti dan segelas s**u putih. Suasana di ruangan terasa sunyi seketika, Kevin segera berdiri ia harus menjaga sikap saat semua orang tahu statusnya sebagai pacar Diana.
"Lagi rapat berdua?"
Pertanyaan Albrian dijawab Kevin, "Gak, gua tadi nanya keadaan Prisil doang."
"Oh," balas Albrian. Tatapannya bersirobok dengan bola mata Prisil yang hitam legam. "Lo udah baika—"
"PRIL! PRISIL...!!"
Teriakan cewek cempreng yang dipastikan adalah Diana menenuhi ruangan OSIS itu. Sontak membuat Kevin segera menghambur keluar, mendapati Diana dengan wajah khawatirnya mencari Prisil. Setelah kejadian adu mulut antara senior, Diana jadi takut Prisil akan mendapat ancaman lain. Semuanya karena ulah Albrian yang tak bisa bertanggungjawab!
Dipastikan lelaki itu takkan bisa menjamin keamanan Prisil selama masih sekolah di SMK Hanum Perwita dan tentunya masih bisa bebas berkeliaran! Mengingat dayang Sandra adalah wanita-wanita paling kejam, menyiksa bawahan yang kurang ajar! Apalagi sekarang yang berani melawannya adalah adik kelas, sok berkuasa dan paling benar.
"Loh, kamu di sini juga?" tanya Diana mendapati Kevin.
"Iya, kamu sendiri ke sini?"
Diana mengangguk. "Prisil gak papa, kan, Yang?"
Albrian menelan ludah kasar, ternyata hubungan yang baru dua hari itu sudah nampak sisi keromantisannya! Ia kalah, padahal rasanya Kevin sangat mendadak menjadikan Diana pacarnya. Namun, mengapa mereka berdua sudah seakrab itu? Ah, ya, ternyata hanya Diana saja yang terlalu romantis, lihatlah tatapan Kevin tak bisa bohong hanya untuk Prisil seorang.
Albrian sudah yakin, Diana hanya sebagai jembatan agar Kevin bisa bersama Prisil gadis yang sedang ia perjuangkan! Jangan biarkan Kevin mendapat perhatian Prisil yang sudah menolaknya belasan kali agar tidak mendekati. Sebentar, Albrian menghitung baru belasan kali ditolak, masih ada ribuan kali lagi untuk mencoba mendekati. Sekaranglah, ia harus bersikap manis di hadapan Kevin yang katanya pacar Diana.
"Udah mendingan, ayo masuk dia di ruang rapat," ajak Kevin.
Diana melewati Albrian yang masih diam di ambang pintu, lalu ia pun berhadapan dengan wajah lelah Prisil.
"Pril, gua khawatir banget tau, gak!" rengeknya seraya merangkul tangan Prisil.
Rasa risi harus Prisil tahan, ia pun berkata, "Gua gak papa, kok." Sampai Prisil pun mendapat ide untuk menghindari ketiga manusia yang selalu mengganggunya. "Gua mau bawa ransel dulu ke kelas, bentar."
"GUA AJA!"
Seketika suasana menjadi kaku, saat Albrian dan Kevin menawarkan diri untuk mengambil ransel Prisil bersamaan. Diana menatap tak suka pacar barunya, padahal Kevin kan tahu Albrian ada di sana untuk menjaga Prisil teman sebangkunya. Namun, mengapa pacarnya itu seolah melupakan Albrian dan statusnya? Pikir Diana.
"Gua aja yang bawa," ulang Albrian, tanpa menunggu lama ia segera berlari keluar.
Prisil menggerutu di dalam hati. Gagal sudah keinginannya menghindari manusia yang tak lelah mengganggu hidupnya. Suasana menjadi kaku, Diana enggan berkata-kata banyak. Sekarang ia marah karena Kevin! Lelaki yang terang-terangan menyimpan perhatian kepada Prisil! Tidak bisakah Kevin menghargai Diana?
"Emm, Din, keluar, yuk?"
Diana tidak menjawab, ia mengeluarkan ponselnya. Seolah tidak mendengar apa yang Kevin ucapkan. Prisil yang bingung harus berbuat apa, hanya mampu diam menatap meja bundar yang ada di depannya. Terjebak dalam ruangan, dengan sepasang kekasih dalam keadaan tidak baik-baik saja, membuat Prisil merutuki nasibnya. Ia berharap Albrian segera datang, lalu memecah keheningan.
Namun, sampai sepuluh menit berlalu Albrian belum juga datang. Kevin pun pamit keluar untuk mencari Albrian, Diana yang merasa Kevin sudah hilang langsung mengomel, "Gua gak suka! Dia kayaknya perhatian banget sama lo, Pril! Apa udah biasa?"
Prisil bingung. Ia hanya mampu menjawab, "Dia nganggep gua temen, Din."
Diana menatap Prisil tak percaya. "Serius? Jangan sampe, gua ngejalanin hubungan sama Kevin, tapi kalian punya hubungan spesial!"
"Lo ngomong apa, sih! Gua gak pernah ada niatan punya hubungan sama cowok, apalagi sama Kevin, ya!"
Prisil tersadar, ucapannya terlalu kasar dan dengan intonasi penuh emosi. "Sorry, gua emang gak selalu nganggep serius sikap Kevin ataupun cowok lain ke gua."
"Tapi lo pernah suka sama dia, kan?"
Tatapan Diana berharap Prisil menjawab tidak, tetapi hati kecil Prisil menjawab bahwa ia pernah sangat jatuh sampai ke dasar mencintai Kevin, terbang ke langit tertinggi dengan bangga! Lalu dijatuhkan begitu saja tanpa aba-aba.
"Lo ngomong apa, sih? Gua gak suka dan gak pernah suka sama dia, Din," tegas Prisil, menahan rasa sakit di d**a.
Diana tersenyum senang. "Gua percaya, kok." Digenggamnnya jemari Prisil yang terasa dingin. "Makasih, ya, gua do'ain lu jadian ama Albri—"
"ALBRIAN!!"
Prisil dan Diana tersentak kaget, menatap Kevin dengan napas tak beraturan datang.
"Albrian, Albrian! Jatoh dari tangga!" teriaknya.
"Hah? Kok, bisa?" tanya Diana, sedangkan Prisil hanya diam tak mampu berkata-kata.
Seketika semua penghuni SMK Hanum Perwita heboh, setelah mendengar Albrian jatuh dari tangga langsung tidak sadarkan diri. Pihak sekolah dengan cepat menghubungi RS terdekat. Karena terjadi pendarahan dari pelipis kanan Albrian, waktu kejadian adalah tepat istirahat. Tak ada orang yang melihat jelas kejadiannya, tetapi semua akan terbongkar lewat CCTV yang terpasang.
Dugaan terkait disangkut pautkan dengan kejadian tadi pagi. Kemungkinan Sandra dan Dayang-dayangnya yang mendorong Albrian dari lantai dua. Prisil yang melihat jelas ranselnya diamankan oleh guru menjadi bingung, karena ransel miliknyalah yang Albrian bawa sebelum kejadian terjadi.
"Din, anter gua ke RS sekarang!" pinta Prisil.
Diana yang masih shock dengan berita menegangkan, melirik Prisil bingung. "Lo mau nemenin, Albrian?"
Kevin yang mendengar permintaan Prisil segera menyela, "Ngapain, Pril, lo juga masih shock sama kejadian tadi pagi! Udah, deh, ada guru yang ngurusin Albrian."
Prisil tidak peduli, jika Diana enggan mengantarnya baiklah ia akan sendiri datang menemani Albrian. "Ya udah, gua sendiri yang ke sana," putusnya.
"PRIL!" teriak Kevin.
Diana mencekal tangan pacarnya itu yang mencoba mengejar Prisil. "Biarin, dia sekarang udah peduli sama Albrian."
Kevin menggigit bibir bawahnya kesal. "Masalahnya, dia lagi gak baik-baik aja."
"Heii ...." Diana berhadapan langsung dengan Kevin. "Tadi pagi, Prisil cuma kena serangan hujatan dari senior, doang! Bukan pingsan apalagi baru bangun dari koma, kamu kok khawatir banget?"
"Y—ya, gak terlalu khawatir, sih, c*m—"
"Aku gak peduli sama masa lalu kamu kalau pernah bersama Prisil, tapi ... aku mohon, Vin. Bisa gak sekarang, kamu hargain aku. Aku pacar kamu, loh!" rengeknya.
Kevin terpaksa mengangguk, lalu menggenggam jemari Diana lembut. "Maaf, ya, aku orangnya terlalu peduli sama siapa pun. Jadi, kamu salah sangka, ngiranya cuma peduli sama Prisil, doang."
"Siapa pun? Kalo emang bener, dari tadi kamu udah ngikutin Albrian sampe RS, Vin," batin Diana.