14. Titip Arini

1116 Kata

Arini melangkah lebar dan cepat. Bahkan bisa disebut setengah berlari. Pagi-pagi sekali Arma memintanya untuk belanja di warung luar gang guna membeli sayur dan lauk. Warung Wak Dini hanya menyediakan bahan kelontong seadanya, tidak terlalu lengkap. Pun di sana tidak menjual sayuran dan lauk mentah. Baik Arma maupun Hamdi, ingin menjamu Bira--dosen putri mereka--dengan sebaik-baiknya. Meskipun harus mengikis simpanan, mereka ingin menyajikan hidangan yang istimewa dari biasanya. "Rin, tunggu, Rin. Abang mau bicara, please ...." Dani ikut melangkah lebar dan berusaha mensejajari langkah Arini. Dia tidak peduli Arini yang sejak tadi terus menghindarinya. "Kukira tidak ada hal penting yang harus kita bicarakan lagi, Bang. Apalagi kalau itu menyangkut hubungan kita. Di antara kita semua

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN