Bab 14

1014 Kata
Wanita yang mengenakan pakaian syar'i itu menghela nafas berat. Saat melihat makanan yang tersaji di atas meja masih utuh dan tidak tersisa. Sesuai dengan perintah Abah, tidak ada satupun orang yang boleh mengeluarkan Asma dari dalam kamar. Sekalipun itu adalah Umi. Umi menyeret langkah kakinya pelan mendekati ranjang di mana wanita bergamis tosca masih berbaring di atas sana dengan netra terpejam. Tangisan yang cukup lama, membuatnya tanpa sadar telah tertidur. "Asma!" ucap Umi mengusap lembut bahu Asma yang meringkuk menghadap ke arah tembok. Netranya berkaca-kaca menatap penuh kesedihan pada anak bungsunya. Asma mengerang pelan. Tanda jika wanita itu telah tersadar dari rasa kantuknya. Perlahan Asma membuka netranya menatap pada dinding tembok yang berada di samping ranjang. "Asma, kamu belum makan, Nak?" tanya Umi dengan suara bergetar. Sekuat tenaga ia menahan air mata yang menggenang pada pelupuk. Tanpa sepengetahuan Asma, ia segera mengusap sudut matanya yang sedikit basah. Asma merubah posisinya menghadap ke arah Umi, lalu menggelengkan kepalanya lembut. Wajah Asma telah semakin pucat, karena sejak kemarin wanita itu menolak untuk makan. Ia hanya minum dan minum. Lalu meratapi nasibnya yang berada di ujung kehancuran. "Makanlah Nak, Umi tidak mau kalau kamu sakit," tutur Umi membelai lembut ujung kerudung yang Asma kenakan. "Tidak Umi, aku tidak ingin makan. Tapi, aku ingin pulang, aku ingin Akbar dan Bang Wisnu." Netra Asma berkaca-kaca menjatuhkan tatapan penuh harapan kepada Umi, ia berharap jika Umi bisa menolongnya. Namun ia kembali teringat dengan ancaman Abah, lelaki itu mengacam akan menghukum Umi jika saja Asma berani kabur meninggalkan rumah dan tidak menuruti apa kemauannya. Umi terdiam sesaat, menahan sesak yang menjalar di dalam d**a. Wanita berkerudung hitam itu menundukkan wajahnya. Beberapa saat kemudian terdengar isakan yang disertai dengan gerakan bahunya yang naik turun. "Maaf Umi, Asma! Umi sama sekali tidak bisa membantumu," lirih Umi terisak. Ia mengusap air mata yang mengalir dengan ujung-ujung kerudung yang ia kenakan. Asma tersenyum sinis, menertawakan dirinya sendiri. "Apakah Abang Wisnu tidak datang ke sini untuk mencariku, Umi?" lirih Asma. "Suami kamu tidak pernah datang ke sini Asma?" suara menggelegar itu seketika menghentikan tangisan Asma. Umi pun terkejut. "Lelaki miskin itu tidak akan pernah berani menunjukkan batang hidungnya di depan Abah!" suara Abah terdengar penuh penegasan. Asma sama sekali tidak menoleh pada Abah yang berdiri di ambang pintu. "Dan lihatlah apa yang sedang Abah bawa," ucap Abah. Lelaki itu berjalan mendekat. Umi dan Asma menoleh ke arah lelaki bertubuh kurus yang berjalan' ke arah ranjang dengan membawa Akbar dalam gendongannya. "Akbar!" seru Asma terharu. Begitu juga dengan Umi. Asma segera bangkit dari pembaringan dan meraih Akbar dari dalam gendongan Abah. Wanita itu menangis tersedu-sedu penuh haru menciumi putra semata wayangnya. Andaikan saja bayi itu mengerti pasti ia akan sesedih Asma saat ini. "Apa Abah bilang, Wisnu hanyalah seorang pecundang. Bahkan saat Abah mengambil Akbar saja, suami kamu itu tidak berani berkutik apapun," cetus Abah dengan nada sinis. Mendengar hal itu hati Asma semakin nyeri. Dia pikir Wisnu akan datang untuk menjemputnya dan membela pernikahannya. Tetapi semua yang terjadi justru sebaliknya. "Kamu masih mau dengan suami kamu yang tidak memperdulikan kamu itu?" cebik Abah menatap pada Asma yang duduk pada bibir ranjang seraya memeluk Akbar di dalam pelukannya. Ia terdiam dan tidak membalas apapun. "Lusa adalah hari pernikahanmu dengan Juragan Jali." Abah berucap dengan nada mengeja. "Abah harapkan kamu tidak membuat malu keluarga kita," tegas lelaki bertubuh kurus itu. Asma mendongak memberanikan diri untuk menatap lelaki yang berdiri di depannya. "Aku tidak ingin menikah dengan Juragan Jali, Abah!" lirih Asma menatap penuh iba. "Tidak apa-apa jika Abah memintaku dan Abang Wisnu untuk berpisah. Tetapi aku tidak mau jika harus menikah dengan lelaki tukang kawin itu," imbuh Asma. Sorot matanya sayu sama sekali tidak bersemangat. "Lalu kamu mau jadi janda yang akan di fitnah orang ke sana kemari, begitu?" cetus Abah dengan nada menghina. "Daripada aku harus menikah dengan lelaki tua yang sama sekali tidak aku cintai?" balas Asma dengan berani. "Daripada kamu hidup bersama lelaki yang tidak pernah mencintaimu?" sahut Abah penuh penekanan. Rahangnya mengeras menatap tajam kepada Asma. Ia benci jika Asma berani melawannya. "Tapi setidaknya aku bisa hidup bersama orang yang aku cintai." Abah menarik sebelah sudut bibirnya tersenyum sinis. Membuang wajahnya sesaat dari tatapan Asma yang berani. "Tapi sayangnya hidup ini tidak akan bahagia jika hanya makan cinta, Asma," cebik Abah sinis. Matanya membola pada Asma yang seketika itu juga bungkam. Lalu membuang wajahnya ke arah lain dari tatapan Abah. "Sudahlah kamu menurut saja sama orang tua. Abah jamin hidup kamu pasti akan bahagia bersama Juragan Jali. Meskipun kamu menjadi istri ketiga juragan Jali. Tetapi setidaknya kamu tidak akan pernah kekurangan harta, kamu bisa membeli apapun yang kamu minta, kamu bisa mendapatkan apapun yang kamu inginkan pada Juragan Jali," ucap Abah diikuti senyuman kemenangan. _____ Asma telah memutuskan untuk tidak lagi menunggu kedatangan Wisnu ke rumahnya. Cinta yang hanya diperjuangkan sendiri itu lebih menyakitkan daripada cinta yang harus terpisahkan karena sebuah kematian. Ia menerima apapun keputusan Abah atas dirinya. Bukan berarti Asma senang dan mencintai Juragan Jali, hanya saja untuk saat ini ia sama sekali tidak bisa berpikir apapun. Hatinya terlalu terluka oleh sikap Wisnu. "Mbak Asma yakin mau menikah dengan juragan Jali?" celetuk gadis yang berdiri di ambang pintu menyadarkan Asma yang duduk di depan meja rias di kamarnya. Ekor mata Asma menatap pada bayangan Rani dari kaca cermin yang berada di depannya. "Aku dengar juragan Jali itu tukang kawin." Rani mengakhiri kalimatnya dengan nada mengejek. Sementara Asma masih saja terdiam, seraya membenarkan letak kerudung yang baru saja ia kenakan. "Yah, coba saja dulu Mbak Asma mau mendengarkan kata Abah. Mbak Asma bisa menikah sama anaknya juragan Jali yang pasti lebih baik dari bapaknya." Rani menjeda ucapannya, memasang wajah sinis menatap pada Asma. "Mbak Asma sih terlalu percaya sama Abang Wisnu," celetuk Rani lagi, kali ini diikuti dengan senyuman mengejek. "Asma ...!" "Asma ...!" Teriakan Abah membuat Rani bergegas meninggalkan kamar Asma. Ia takut jika lelaki bertubuh kurus itu marah kepadanya karena ketahuan berada di kamar Asma. "Asma, kamu sudah siap?" ucap Abah yang berdiri di ambang pintu kamar terlihat sangat antusias sekali. "Sudah Abah!" lirih Asma dengan nada lesu. ____ Bersambung ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN