11. Giant

1005 Kata
Tak pernah mereka sangka sebelumnya kalau gerbang keempat akan sulit untuk ditemukan. Jika mengingat gerbang kedua—setelah mereka lolos maka akan langsung menemukan gerbang selanjutnya. Mengapa kali ini berbeda? Apakah sistem kembali mempermainkan mereka? "Any apakah ada cara agar kami menemukan gerbang ke-empat?" Any segera menunjukkan sebuah peta. Peta tersebut memperlihatkan sebuah pintu gerbang emas. Tampaknya pintu gerbang tersebut adalah gerbang keempat. "2 kilometer dari sini. Jika kalian berjalan lurus, maka akan sampai pada gerbang kedua di balik bukit pasir," jelas Any. Setelah mendengar semua itu, mereka langsung bergegas tanpa sepatah kata. Hanya menggunakan isyarat mata mereka sudah mengerti satu sama lain. Sayap Maxime keluar dan ia langsung terbang, disusul oleh yang lainnya. Tidak sampai sepuluh detik mereka sudah sampai di bukit pasir. Satu gerakan tangan Maxime yang berarti maju, membuat semua orang melangkah maju. Namun, sebuah gempa berkekuatan besar membuat langkah mereka terhenti. "Mengapa tiba-tiba ada gempa?!" Allura memekik sambil berpegangan erat pada mobil terbang. Yang lain juga berpegang pada mobil Allura. Tidak ada yang dapat menjawab karena mereka sibuk menutupi mata, akibat pasir beterbangan. Bukit pasir semakin tinggi. Oh, tidak! Tampaknya bukan gempa biasa karena setelah bukit pasir menjelma menjadi monster pasir; gempa berhenti. Perlahan-lahan membuka mata, Maxime terkejut melihat penampakan di depannya. Raksasa pasir menghadang jalan mereka menuju ke gerbang empat. Jangan bilang kalau mereka harus mengalahkan raksasa pasir lebih dulu. "Kupikir sudah selesai sampai sini," kesal Maxime. "Huh, makhluk itu sangat besar. Bisa kalahkan dia dalam satu menit?" Allura bertanya sembari mengawasi raksasa. "30 detik saja," jawab Mahavir dengan percaya diri. Senyum miring tampak menghias wajahnya. "Kau terlalu percaya diri," cibir Nori Merekon. "Baiklah. Tiga puluh detik!" seru Maxime; antusias. Dari tangan Maxime keluar sebuah pedang es. Pria itu terbang lebih tinggi, sampai di atas sang raksasa pasir. Lantas meluncur ke bawah, menerjang dengan pedang yang mengarah pada kepala raksasa. Pasir menyembur ketika pedang tertancap pada kepala raksasa. Akan tetapi, serangan Maxime belum cukup untuk memusnahkan sang raksasa. Mahavir datang dengan sebuah sinar bulat di kedua telapak tangannya. Tampaknya ia menggunakan alat sihir untuk membantu. Segera diluncurkan pada raksasa yang sedari tadi belum melawan. Tangan kiri raksasa hancur dibuat oleh serangan tersebut. Sudah sembilan detik berlalu, dan saatnya tiba bagi sang raksasa untuk melawan. Matanya memancarkan kemarahan. Kaki kanan di angkat lalu dihentakkan membuat tanah berguncang. Allura, Mahavir dan Nori terlempar sejauh seratus meter. Sementara Maxime dapat menghindar dengan terbang lebih tinggi. Kini, raksasa tersebut menjadikan Maxime sebagai sasaran. Dengan tangannya yang masih menyatu dengan badan—mencoba meraih Maxime. Pedang masih di tangannya, Maxime bertaruh dengan dirinya, menerjang tangan sang raksasa bersama pedang es yang mengeluarkan kekuatan dahsyat. Jauh menembus sampai ke perut raksasa. Air begitu dahsyat, hingga menyebabkan badan raksasa mencair. Maxime menyadari kalau raksasa pasir tidak bisa dihancurkan dengan mudah, kecuali menyiram pasir dengan air akan membuat pasir itu menjadi lembab dan sekarang sang raksasa sudah tumbang menjadi genangan lumpur. Ketiga gamer kembali bangkit. Allura dan Mahavir, kagum dengan keberhasilan Maxime. Hanya Nori Merekon yang menanamkan rasa iri dalam sanubari. Dia tidak membuat kontribusi apa pun. Apa haknya untuk marah pada Maxime? "Kalian baik-baik saja?" Maxime menghampiri ketiga orang itu. "Kami baik-baik saja." "Host, kalian mengalahkan raksasa pasir dalam tiga puluh detik," ujar Any. "Sudah kukatakan, hanya tiga puluh detik. Jangan buang-buang waktu lagi. Kita harus bergegas." "Kau benar. Kita dapat mengobrol ketika sistem menghentikan waktu nanti," imbuh Mahavir. "Hm, kita manfaatkan waktu sebaik mungkin," timpal Allura. Bergegas mereka menuju gerbang keempat. Selain, Nori yang melihat ketiga orang itu dengan pandangan iri. Mengapa hanya dirinya yang tak bisa menjadi satu dengan mereka? Ia pun bertanya-tanya akan hal itu. Merasa seperti tak memiliki orang lain di sana. Tentu, ia akan merasakan hal itu karena dia penuh dengan dirinya sendiri. Jadi jangan salahkan orang lain. Manik mata terkesima tak bisa mereka hentikan lantaran ukiran pada gerbang sangat rumit. Warna emas berkilau hampir menyilaukan mata. Bukan hanya itu saja, tetapi batu safir biru mempercantik pintu gerbang. Namun, pintu gerbang itu tidak terbuka meski Mahavir mendorong gerbang tersebut. "Kali ini apa lagi?" Mahavir tak mengerti dengan situasi saat ini. Benar-benar berbeda dengan gerbang kedua, yang hanya didorong saja sudah bisa terbuka. "Any," panggil Maxime. "Biarkan aku menganalisa." Analisa keluar dari layar transparan. Ternyata pintu gerbang memiliki sebuah lubang kunci. Yang artinya mereka hanya dapat membuka gerbang dengan membuka kunci. "Aku mulai tak sabar," geram Nori. "Sistem di mana kami bisa menemukan kuncinya? Kami tidak punya waktu untuk teka-teki ini." "Semua bagian dari sistem. Kami hanya memandu kalian di sini. Dan untuk kuncinya … kalian sangat beruntung karena hostku mengeluarkan pedang es. Jadi itulah kunci dari gerbang ini." Maxime terkejut. Rupanya benda yang mereka cari ada di tangannya sendiri. Menoleh pada pedang di tangannya, lalu membawanya ke depan. Sebuah lubang kunci dimasuki oleh pedang. Perlahan-lahan pintu gerbang terbuka memperlihatkan sinar menyilaukan. "Hoho! Rupanya hanya empat orang yang sampai pada gerbang ini." Suara sistem yang memuakkan kembali terdengar. Hitungan mundur telah berhenti dengan hadirnya sang sistem. Maxime membuka kelopak matanya yang sebenarnya enggan ia buka. Setelah petualangan tadi, membuatnya sedikit lelah. Apa sistem ini tidak akan membiarkan mereka istirahat? Meskipun demikian, mereka tetap mengembuskan napas lega. Satu menit pun istirahat sudah cukup. "Selamat gerbang keempat telah terbuka. Aku tidak menyangka kalian akan sampai ke tahap ini. Aku sudah menyiapkan game yang menarik untuk kalian, dan mungkin sudah sering kalian mainkan sampai muak." Sang sistem kemudian tertawa keras. Layaknya orang gila dalam tahanan Asylum. "Tidak waras. Sistem ini tidak waras." Maxime mengejek tak memedulikan ketawa sistem yang membuatnya muak dan mual sampai ingin muntah. Sang sistem berhenti tertawa. Merasa sedikit jengkel dengan ejekan Maxime. Pria itu memang menjadi lebih berani daripada sebelumnya. Terlihat berbeda di dunia nyata dan dunia game. "Aku akan melupakan penghinaanmu tadi, tapi tidak lain kali. Ucapanmu bisa menjadi bumerang suatu saat nanti. Maka berhati-hatilah ketika melontarkan rangkaian kata itu." Semua orang terdiam. Setiap ucapan memang memiliki akibat yang akan diterima. Selain tindakan, ucapan menyakitkan adalah hal berbahaya yang bahkan bisa membuat orang depresi. Allura menyipitkan mata, menganalisa sang sistem. "Apa dia terbawa perasaan barusan?" Mereka yang mendengar itu seketika membeku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN