9. Lava

1050 Kata
Sebuah tangan yang dengan sengaja mendorong punggung Maxime, hingga hilang keseimbangan. Tak sempat Maxime menyadari keadaan. Ia sudah jatuh ke dalam lubang lava. Astaga! Sudut bibir miring ketika melihat pria di depannya sudah tak menghalangi jalan lagi. Nori Merekon tanpa perasaan meninggalkan Maxime pada lubang ke sepuluh. “Host!” Any berseru memanggil Maxime. Dengan bantuan dari Any, Maxime bisa mengambang. Dilihatnya lava di bawahnya sebentar lagi akan menyembur. Tentu ia sudah tahu akibatnya jika lava tersebut mengenai tubuh. “Any bantu aku keluar dari sini. Kau bisa, kan, Any?” “Host berada di lubang ke sepuluh. Jadi keluarkan produk rahasia. Sementara waktu aku akan mengulur agar lava tidak menyembur.” Dalam keadaan mengambang, Maxime mengikuti anjuran Any. Mencoba menyentuh jam tangan di pergelangan kirinya. Dengan susah payah Maxime berusaha. Namun tangan kanannya tak berhasil juga. “Host cepat! Kita tak punya banyak waktu.” Any—sang sistem berbentuk layar transparan mengeluarkan peringatan warna merah pada layarnya. Menandakan bahaya sudah mendekat. Kemungkinan ia sudah tak bisa lagi menahan sang lava untuk menyembur ke atas. “Tunggu sedikit lagi, Any.” Menambahkan tenaga pada tangan kanannya, sehingga Maxime bisa menyentuh rupa jam tangan. Setelah tombol di tekan, di depannya terlihat sebuah layar transparan; mirip dengan Any. Ada beberapa pilihan produk yang dapat membawanya keluar dari sana. Maxime dengan cepat memilih sebuah sayap berwarna putih. Ia bahkan tak melihat-lihat dulu pilihan lainnya seperti papan selancar, sepatu roda, mobil udara. Mungkin saja sayap adalah benda termudah yang menarik matanya. Kemudian, sebuah sayap putih keluar dari punggung Maxime. “Any, kita bisa keluar sekarang.” Any menutup layarnya karena Maxime sudah menemukan produk yang dapat membantunya keluar. Setelah Any menghilang, lava beranjak naik mengikuti Maxime yang juga terbang dengan sayapnya. Nori Merekon pasti tak dapat menduga hal ini. Meskipun ia sudah memakai sebuah sepatu roda, tetap saja gadis itu tak dapat keluar dari labirin lubang. Ketiga orang lainnya tak mengetahui tragedi barusan. Mereka dengan bantuan sistem juga berusaha untuk keluar dari labirin ini. Lubang labirin benar-benar menguras tenaga. Ketiganya tak seberuntung Maxime yang memilih sayap. Mahavir yang berada di depan memiliki bantuan baju perisai dan juga tameng. Ia tak akan mengapa jika terkena ketiga benda yang menyembur itu. Kakinya sangat gesit ketika berlari, bahkan Allura yang menggunakan mobil terbang belum dapat mengejar Mahavir. Sementara itu, Arzan, melewati setiap lubang di belakang menggunakan tenaga kaki super. Jadi ia dapat berlari dua puluh kali lipat lebih cepat tanpa menguras tenaganya. Nori Merekon berhasil menyusul Arzan dan berada di belakangnya. Arzan yang mengetahui hal itu, melirik pada Nori. “Di mana Maxime?” Nori Merekon tak dapat menjawab pertanyaan rekannya. Menutup mulutnya rapat-rapat, dan membuat Arzan geleng kepala. Apa dia bisu? “Aku tanya padamu di mana Maxime? Bukannya kau yang terakhir berangkat?” sekali lagi Arzan bertanya sambil melambatkan kekuatannya. “Aku tidak tahu. Mungkin dia sudah gugur,” jawab Nori. Nadanya terdengar ketus. “Tidak mungkin. Jika ada yang gugur, sistem pasti sudah memberitahu. Jadi Maxime masih ada di belakang. Dia masih selamat.” “Kau benar,” gumam Nori. Menyadari hal itu, wajah Nori berubah masam dan ada ketakutan juga. Kalau Maxime berhasil selamat. Ia pasti akan tamat. Maxime akan balas dendam padanya. Sementara itu, Maxime menembus udara diikuti oleh semburan lava di bawahnya. Sama sekali tak dapat menjangkau Maxime. Dapat bernapas dengan lega setelah berhasil keluar. Any pun menampakkan diri dengan memberi selamat pada Maxime. “Host, lihat teman-temanmu ada di bawah. Mereka belum bisa keluar rupanya setelah begitu lama berada dalam labirin.” “Kau benar Any. Aku tidak mau buang waktu. Aku ingin keluar dari sini.” Dengan begitu Maxime terbang menggunakan sayap tersebut. Beberapa lubang yang menyemburkan lava telah ia lewati dengan keberhasilan. Di depannya ia dicegat oleh luapan lumpur. Maxime terpaksa berhenti. Namun, di samping dan belakangnya juga menyemburkan lumpur dan lava. Maxime terjebak di tengah-tengah tiga lubang yang membentuk segitiga sama kaki. Perpaduan antara lumpur dan lava akan sangat berbahaya jika benda itu mengenai sayap Maxime. Mata Maxime menyala seperti kobaran api yang melalap hangus sebuah hutan. Ketiga benda itu sudah berada pada puncaknya DNA sebentar lagi akan bergabung. “Host bagaimana sekarang?” Any terdengar khawatir. “Berikan aku celah.” “Kau hanya memiliki celah 60 cm antara lubang lava dan lubang lumpur. Sementara sayapmu hampir 2 meter lebarnya.” “60 cm, ya?” Maxime tersenyum. “Itu sudah lebih dari cukup.” Di atasnya ketiga benda itu menyatu. Maxime masih berada di udara lalu menerjang ke depan dengan memiringkan dirinya, melewati dua lubang yang tengah mengeluarkan isi perut mereka. Gerakannya sangat cepat, sehingga celah 60 cm dapat ia lewati. Maxime terbang dengan bebas di udara. Ruang sekecil apa pun dapat ia lewati dengan memiringkan badan. Sayap pun baik-baik saja, bahkan tak terkena cipratan air seperti di awal. Nori Merekon membelalakkan mata ketika melihat Maxime melintasi si atasnya. Tak percaya kalau Maxime dapat mengeluarkan diri semudah itu. Arzan melambaikan tangan pada Maxime yang berhasil menyusul mereka. Kini, Maxime dan Allura berada pada ketinggian yang sama. Maxime mendekati Allura, sekilas ia melirik pada Nori di bawah. “Allura, berhati-hatilah pada Nori. Katakan juga hal ini pada Arzan.” “Apa maksudmu?” tanya Allura tak mengerti. “Dia sangat berbahaya. Kau ingat saja pesanku. Aku akan menuntun jalan untuk kalian.” Setelah itu tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut, Maxime terbang lebih tinggi. Menembus udara dan dengan gerakan lincah berhasil melewati beberapa lubang lagi, hingga ia bertemu dengan Mahavir. Namun, Maxime mencoba terbang lebih tinggi lagi. Bahkan sampai melewati tingginya semburan lava. Meskipun dapat terbang lebih tinggi, sayapnya tak kuat melawan arus udara yang sedikit lebih kencang. “Bertahanlah! Aku ingin keluar dari sini.” Maxime melihat ke bawah yang mana keempat orang lainnya juga melihat dirinya. “Ikuti aku!” perintahnya. Keempat orang gamer mengikuti arah Maxime terbang. Akan tetapi, mereka tak tahu perjuangan Maxime melawan arus angin yang semakin kencang. Sayapnya sudah kelelahan. Sedikit lagi, ia menemukan tanah tanpa lubang, meski tak terlihat adanya penampakan sebuah gerbang di sana. Maxime terus terbang ke arah depan memandu teman-teman yang lain. Berhasil menahan arus dan mendaratkan dirinya pada pasir gersang seperti berada di Padang pasir. Maxime tampak kelelahan dan seketika itu sayapnya menghilang. Mungkin lelah karena Maxime memaksa benda itu. Mahavir adalah orang kedua yang berhasil melewati labirin lubang. Menghampiri Maxime dengan wajah penuh syukur.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN