Teman Baru di Perpustakaan

2509 Kata
"Ternyata rumah ini tidak senyaman yang kupikirkan," ucap Bestari. Perkataannya di dengarkan oleh Nastiti yang masih mengerjakan tugas kuliahnya. Namun, ia diam saja. Mungkin tak tahu harus menjawab dengan kalimat yang seperti apa. Bestari memeluk Bie yang tengah tertidur pulas. Bibirnya tersenyum. Mungkin sedang bermimpi indah. Diusianya saat ini, cucunya tentulah tidak memiliki salah dan dosa apa-apa. Terkadang kepenatan dan beban hidup yang membuncah membuat Bestari memarahi dan tak segan menghardiknya. Pikiran tidak tenang membuat urat syarafnya tegang. Akhirnya ia tidak bisa tidur bahkan sampai anak gadisnya menyelesaikan tugas kuliahnya. Sepasang mata milik Bestari membuka dan menutup. Terlihat bahwa pemilik badan sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Kembali ia membuka kedua mata dan menatap langit-langit rumah. Di rumah ini ada banyak makhluk. Mungkin saja rumah ini sebelumnya merupakan gudang angker. Ia lalu merunut kejadian tak biasa yang di alami Bie. Gadis yang ditinggal ibunya itu sekarang suka berbicara sendiri. Suka tidur di bawah kolong meja dan ranjang. Bestari teringat juga kejadian di sumur Paimin. Gambar merah saat ia menemani Hayati saat simbahnya meninggal. Dan kejadian saat cucunya masuk ke dalam gudang. Bestari berbaring ke sisi sebelah kanan dan berpikir bahwa dirinya sudah tidak muda lagi. Apa yang harus ditinggalkan untuk Jagad, Nastiti, dan Bie. Tentu saja Jaka dan Nawang masih dalam pikirannya. Hanya saja semua yang sudah menikah sudah tidak dalam jangkauan prioritasnya. Selama ini kehidupan mereka tidak sejahtera. Hanya di sini semua cerita kepahitan itu perlahan sirna. Makhluk? Apakah makhluk-makhluk itu membahayakan cucunya. Ia tidak begitu banyak tahu. Bie tidak pernah menceritakannya. Atau sebenarnya dirinyalah yang sudah tidak memperdulikan cucu yang sudah ia asuh sejak bayi itu. Tanpa ia sadari. Apa yang harus dilakukan? Apakah akan cukup aman untuk Bie kalau kami bertahan di sini sampai ada jalan kehidupan lain untuk kami. Lantas siapa sosok dalam lukisan itu. Apa maksud dan tujuannya? Apa aku harus menemuinya lagi dan bertanya langsung ? Mungkin Bestari hanya tidur satu jam malam itu. Jelang subuh ia bangun dan menuju dapur untuk membuat bekal untuk Nastiti. Ia melewati kamar Jagad yang kosong dan melirik sebentar ke arah pintu yang ada di belakang lemari. Kurasa, untuk saat ini tidak usah terlalu dipikirkan. Sembari mengajak Bie untuk bercerita dan mengajarinya untuk menghafal beberapa doa-doa. Tidak lama setelah Bestari berkutat dengan bekal anak gadisnya, azan Subuh berkumandang. Nastiti bangun dan ikut salat di masjid bersama ibunya. ••••• Jam 06.00 pagi, rumah riuh ramai. Bestari dan Nastiti terbengong-bengong melihat Bie bersemangat sekali untuk sekolah di hari itu. Tidak seperti biasanya, ia akan selalu menolak dan menangis. Sambil menguncir rambut keritingnya, gadis itu sarapan dengan baik, meminum susunya, menyiapkan buku-bukunya sendiri dalam tas punggung monyet. Ia juga sudah bisa mengikat tali sepatunya. Tapi yang paling mengejutkan diantara semuanya Bie ingin pergi sekolah sendiri. "Wah, ini keajaiban." Nastiti berbisik kepada Bestari. "Bener tidak mau diantar, Nyaeh?" tanya perempuan tua itu berulang kali. "Huu-umph. Bie bisa sendiri kok, Nyaeh." "Pulangnya nanti lewat jalan yang biasa, ya. Jangan mampir ke mana-mana! Ingat pesan Nyaeh!" Bie tersenyum dan mengangguk. Ia kemudian mencium punggung tangan Nyaeh dan bibinya. Menyaksikan Bie yang seperti itu membuat mata kedua orang anak-beranak itu basah. "Bie kita sudah besar, Mak," ucap Nastiti sambil memeluk ibunya. ••••• Bie berjalan kaki menuju sekolah. Memang sekolahnya tidak begitu jauh dari rumah. Kalau ditarik garis lurus, rutenya seperti letter L. Teman-teman Bie ada yang lebih jauh rumahnya. Jalan itu akan penuh oleh anak-anak berseragam putih merah karena di kampung mereka sekolah dasar hanya itu satu-satunya. Dijalan ia bertemu Ayu, Rini, Manto, Widi, Akbar, Rama dan beberapa orang teman lainnya. Bie hanya tersenyum ketika berpapasan dengan mereka. Ia tidak akan pernah menyapa mereka karena anak-anak itu tidak pernah membalas sapaan Bie. Bahkan tidak pernah menegur sekalipun. Hari itu, Bie seperti memiliki perasaan yang bahagia dan ringan. Tidak ada ketakutan apapun dalam dirinya. Bahkan ia tidak menangis ketika diperlakukan tidak baik oleh ke enam orang temannya. Sampai disekolah malangnya mereka terlambat. Padahal menurut mereka tidak. Jam disekolah sudah menunjukan jam 07.05 sedangkan di jam mereka masing-masing jam 06.55. Ibu Mahbubah—kepala Sekolah Dasar Negeri 01 menghukum mereka bertujuh termasuk juga Bie di dalamnya. Mereka diminta untuk membersihkan perpustakaan. Wanita berkulit cokelat dengan t**i lalat di dagu itu memberikan beberapa alat kebersihan. "Bersihkan semua buku yang ada di perpustakaan! Jangan ada yang berdebu! Semua harus selesai sebelum jam pulang kalian. Itu artinya itu harus selesai pada jam 09.55," ucapnya dengan suara yang cempreng membuat telinga sakit. Bie tersenyum. Ia berpikir harus meminta nyaehnya untuk memutar jam di kamar mereka 10 atau 15 menit lebih awal. Dan ternyata perpustakaan bukanlah hal yang buruk. Sambil membersihkan buku-buku tentu saja ia bisa sambil melihat-lihat. Bie sangat suka membaca. Apa saja dibacanya. Ia juga suka ketika BibI Nastiti membawakan buku berwarna dari kampus. Di kamarnya buku dengan judul Pengalaman Bertamasya di Negeri Smurf sudah hampir selesai dibaca. "Eh ... kamu yang codetan. Kenapa senyum-senyum sendiri," tanya kepala sekolah kepada Bie. "Maaf Bu," jawabnya sambil menunduk. Padahal Nyaeh sudah membuatkannya emblem nama. Itupun besar kenapa Ibu itu tidak menyebut dengan nama. Kenapa harus codet? Apa ibu kepala sekolah tidak bisa membaca? "Mulai bersihkan sekarang!!!" teriak Ibu kepala sekolah. Anak-anak itu berlarian menuju perpustakaan yang berada di ujung selatan sekolah. Satu-satunya bangunan yang sejak dulu kala tidak berbentuk panggung dan tidak oernah di renovasi juga. Widi meminta kunci kepada penjaga sekolah kemudian membukanya. Pengap dan aroma khas buku-buku tua menguar. Dari ketujuh anak-anak itu tidak banyak dari mereka yang menyukai buku. Mungkin hanya Bie saja dan salah satu dari mereka. Bie memulai pekerjaannya pada rak paling belakang yang berisi buku dongeng anak-anak dunia dan nusantara. Matanya membesar seperti menemukan harta karun. Sambil membersihkan sesekali sambil dibukanya buku-buku itu. Saking asyiknya tidak terdengar lagi suara-suara temannya yang lain. Perpustakaan itu tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil juga. Disekelilingnya banyak kaca-kaca besar yang jarang dibuka. Itulah mungkin yang menyebabkan ruangan ini pengap dan lembab. Apalagi bagian yang paling belakang plafonnya sudah lembab dan berjamur. Banyak meja besar dipasangkan dengan kursi-kursi kayu di bagian tengah jalannya. Mungkin diperuntukkan untuk mereka yang ingin membaca dan mengerjakan tugas. Bie sudah menyelesaikan raknya yang pertama. Mungkin ada beberapa puluh buku di sana. Gadis itu masuk ke dalam rak yang lebih dalam. Suasana lebih dingin di sini. Bie melirik ke arah jendela kaca besar. Langit terlihat berwarna abu-abu. Sepertinya akan turun hujan. Sebuah buku tebal dengan sampul yang keras diambilnya. Buku itu dibungkus bahan beludru sangat indah. Isinya pun penuh dengan ilustrasi berwarna. Sayang bahasanya menggunakan bahasa Inggris. Bie tertarik untuk melihat halaman demi halaman. Ia duduk di kursi kayu agar lebih bisa menikmati ilustrasi indah karya tangan seorang ilustrator luar negeri yang terkenal. Selama ini ia tinggal di rumah saja dan jarang ke mana-mana. Teman mainnya pun bisa di bilang hanya Anto dan Hayati saja. Perpustakaan ini seperti rumah kedua yang amat sangat nyaman baginya. Sedang asyik membolak balik buku, terdengar suara bisik-bisik dari beberapa orang. Bie kemudian memanggil teman-temannya. Tapi tidak ada jawaban. Sepertinya mereka tertidur, pikir gadis itu. Lembar-lembar buku pada rak disampingnya bergerak seperti tertiup angin. Padahal jendela dan pintu di depan tidak dibuka. Kipas angin juga dalam keadaan mati. Bie tidak memperdulikannya. Ia kembali tenggelam dalam buku indah yang dipegangnya. Bukk! Sebuah buku terjatuh dari rak. Buku yang tebal. Setebal kamus-kamus terbitan Oxford. Tidak mungkin jatuh karena tertiup angin. Bie bangun memungutnya dan mengembalikan lagi ke tempatnya. Ia kembali pada bukunya dan melihat pada halaman 136. Di kertas itu ada empat orang peri yang sedang terbang sambil menabur serbuk ajaib mereka. Bie tersenyum melihatnya. Buku yang tadi terjatuh lagi. Bie berlari ke rak sebelahnya. Ia tidak menemukan seorangpun di sana. Ketika kembali ke meja ia melihat empat orang asing yang duduk bersamanya. Mereka berwujud sama seperti dirinya. Yah, sama. Sama-sama memiliki rambut, wajah, mata, hidung bahkan mulut. Bie terkejut. Namun, mencoba untuk bersikap ramah. "Kalian datang dari mana? Apa kalian murid baru? Atau berasal dari sekolah lain?" "Wow, tenang kawan. Pelan-pelan. Kami anak baik-baik," ucap seorang gadis berambut panjang yang diberi bando dari pita merah. "Kami mau jadi temanmu." Anak laki-laki berambut keriting disebelahnya menimpali. "Kau sedang apa di sini?" tanya dua orang berwajah sama. Anak laki-laki dan perempuan. Bie tersenyum dan mengatakan bahwa ia dan teman-temannya di sini sedang dihukum karena terlambat datang ke sekolah. "Teman-teman? Tapi tidak ada seorang pun di sini kecuali kamu, Bie?" sahut gadis cantik berbando merah. "Mungkin mereka sudah pulang atau di kantin sedang sarapan," jawab Bie. "Oh, tunggu. Dari mana kalian tahu namaku. Bukankah ini pertemuan pertama kita?" Bie bertanya penasaran. "Tidak ada yang tidak mengenalmu di sekolah ini. Kamu anak baik dan istimewa, Bie," jawab si kembar. "Benarkah begitu?" tanyanya tersipu. Bie melirik ke arah jam. Sudah jam 10.01. Namun, ia belum menyelesaikan pekerjaannya. Tapi kalau tidak pulang sekarang, Nyaeh pasti akan khawatir. "Ini sudah jam pulang sekolahku. Kalian tidak ingin pulang bersama?" tanyanya kepada teman-teman barunya itu. "Kau bisa duluan, Bie. Kami masih ingin di sini," jawab anak laki-laki keriting tersenyum penuh arti. Bie mungkin tidak mendengar bel pulang sekolah berbunyi saking asyiknya melihat-lihat buku. Ia juga tidak sadar sudah ditinggalkan teman-temannya lima menit sejak masuk ke perpustakaan. Tapi ia senang karena sudah mendapatkan teman baru. Hari ini benar-benar indah. Ia pulang dengan hati yang amat riang. Tentu saja setelah ini ia menjadi semangat bersekolah. Rencananya juga ia akan meminta izin Nyaeh untuk mampir ke perpustakaan setelah jam sekolah selesai untuk membaca buku di sana. Kalau untuk perbuatan yang baik Nyaeh dan Bibi Nastiti pasti akan mengizinkan. ••••• Hari beranjak siang, Bie sendirian di rumah. Bibi Nastiti sudah pasti ada di kampus. Nyaeh tidak ada di rumah. Sudah dua jam lebih Bie pulang sekolah. Namun, Nyaeh belum terlihat juga. Gadis itu terlihat membuka tudung nasi. Kosong. Sepertinya Nyaeh belum memasak. Hanya ada Nasi di kukusan bertutup kaca. Lemari makan lawas dibukanya. Ada stoples bawang goreng dan abon pada toples yang lebih tinggi. Itu lebih dari cukup untuk makan siangnya hari ini. Selepas makan ia membuka jendela yang berada dekat dengan jendela Hayati. Namun, sepertinya Hayati tidak ada di rumah. "Hmm, terus ngapain yah?" gadis kecil itu bertanya kepada dirinya sendiri. Rumah sudah bersih dan rapi. Cucian piring tidak ada. Jemuran belum kering. Tidak ada pekerjaan yang bisa dikerjakan untuk sementara ini. Bie memilih untuk ke kamarnya. Berbaring sambil memeluk bonekanya. Sejujurnya ia suka berbaring di atas sprei Nyaeh. Entah mengapa terasa sangat sejuk dan memberikan rasa nyaman. Padahal di kamar ini tidak dipasang kipas angin. Bie sepertinya mengantuk. Tidur siang sebentar sepertinya terdengar menyenangkan. Tapi rumah yang sepi membuatnya tidak bisa tidur dengan nyaman. Ia merasa ada seseorang yang terus mengawasinya. Ranjang berderit saat ia mencoba turun. Ia kembali melihat jendela Hayati tapi lagi-lagi ia harus kecewa. Sepi. Hal itu yang dirasakannya. Bie menuju ke dapur dan mengintip kamar Paman Jagad. Sejuk. Kamar itu sejuk. Padahal cuaca di luar lumayan terik dengan matahari yang bersinar terang. Di belakang lemari pakaian Paman Jagad ada sebuah pintu menuju gudang penyimpanan barang antik milik Mbah Paimin. Bie tergelitik ingin bermain bersama Ibu yang berada dalam lukisan itu. Langkahnya urung saat lengannya dicekal oleh seseorang. "Mau ke mana, Bie?" tanya sebuah suara yang amat sangat dikenalnya. "Nyaeh. Nyaeh dari mana? Bie tungguin dari tadi. Bie sendirian di rumah. Jadi ga tahu harus ngapain." "Maafin Nyaeh ya Bie. Kebutuhan di dapur habis, jadi Nyaeh ke pasar. Alhamdulillah tadi pagi wesel uang dari pamanmu tiba. Nyaeh langsung ke kantor pos terus ke pasar." "Nyaeh belanja banyak, ya? Beli apa aja?" "Coba kamu lihat sendiri," jawab Nyaeh seperti ingin memberi kejutan. "Wah, ada s**u kotak kesukaan Bie. Abon daging ayam, biskuit, indomie, telur, mentega, keju, s**u kaleng, roti tawar, teh, kopi, gula." Mata gadis itu membesar, senyumnya mengembang sempurna. "Ada yang kurang ga? Dan tadi gimana tadi sekolahnya?" "Kayaknya sudah lengkap, Nyaeh. Tadi sekolahnya, uhmm," ucapnya sambil menghisap nikmat s**u kotaknya. "Tadi terlambat lima menit. Tapi jam tangan Bie masih kurang lima menit kok. Jadi Bie sama teman-teman lain di suruh bersiin perpustakaan," sambungnya lagi. "Oh, yah Nyaeh. Misalnya Bie agak telat pulang sekolah karena setelah kelas bubar, Bie mau mampir ke perpustakaan. Sebentar aja. Boleh ga?" tanyanya dengan tatapan seperti anak kucing yang ingin minta makan. "Bolehlah, masa iya ga boleh. Tapi tadi yakin di sekolah ga ada kejadian apa-apa yang buat Bie nangis?" "Beneran, Nyaeh. Tadi Bie sibuk di perpustakaan." "Ga ada yang panggil-panggil dengan nama yang kamu ga suka, itu?" "Ada sih tadi kepala sekolah. Bie cuek aja. Bie juga ga sakit hatinya," selorohnya sambil mengambil sepotong biskuit kemudian masuk ke dalam kamar. "Bie ke kamar dulu, Nyaeh. Mau siapin buku buat besok." Bestari tertegun di depan meja makan. Sejak demam kemarin Bie benar-benar berubah. Lebih kuat, tangguh, tidak cengeng. Entah ini baik atau tidak. Tapi wanita tua itu merasakan pilu di ulu hatinya. ••••• Hari itu, di kelas semua berjalan dengan aman dan lancar. Bie bisa membaca dengan lancar dan tugas mengarangnya juga mendapat nilai delapan. Hasil yang menurutnya cukup memuaskan. Kelas usai, Bie mengejar Bu Sati yang akan keluar. "Bu, maaf. Bie boleh ke perpustakaan buat pinjam buku?" "Oh, tentu saja boleh, Bie. Tapi Mbak Sri penjaga perpustakaan masih izin. Ibu bisa menggantikannya, kamu harus menunggu sebentar karena Ibu ada urusan sebentar." "Bie tunggu di perpustakaan, boleh Bu? Sambil baca-baca buku." "Iya boleh." Bie membuka pintu perpustakaan yang memang tidak pernah ditutup selama jam sekolah. Ia mengucap salam kemudian melihat-lihat buku dengan lebih khusyu dari pada kemarin. "Sayang Mbak Sri tidak ada, sehingga ia tidak bisa mengambil buku pada rak yang lebih tinggi," rutuknya. Terdengar beberapa orang murid laki-laki dan perempuan sedang mengobrol di bagian belakang perpustakaan. Bie agak merasa asing dengan suara-suara itu. Ia mengambil sebuah buku berwarna biru. Dongeng tentang Si Pahit Lidah dan Si Mata Empat. Judul yang unik, pikir gadis itu. Bie memilih meja di bagian paling depan, jauh dari suara-suara yang terdengar. Di halaman pertama ia masih menikmati bacaannya. Tapi kemudian suara-suara itu menganggunya. Bie bangun dan berjalan mendekati sumber suara. Dilihatnya satu persatu sampai meja yang paling belakang. Ia terbengong-bengong saat melihat buku-buku itu terlempar dengan sendirinya dari satu tempat ke tempat lain. Seolah dilempar oleh sesuatu dengan sengaja. "Hmm, aku tahu ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan bersamaku saat ini," gumamnya. "Sebenarnya aku ingin tahu keinginan kalian itu apa," sambungnya lagi. "Sepertinya perpustakaan sepi, salah satunya karena ulah kalian. Dan sebenarnya aku sudah sering melihat kelakuan jahil saat ada teman-temanku yang ingin datang ke sini." Bie berjalan perlahan mendekati buku-buku yang berjatuhan. Suara tawa itu berhenti ketika Bie berada di dekat mereka. Mau tidak mau mereka menampakkan wujudnya. Bie mengenali sosok-sosok itu. Si kembar, gadis berbando merah dan anak laki-laki pendiam berambut keriting. "Ini rumah kami. Kami menyukai tempat ini," jawab Si Kembar. "Kalianlah yang mengambilnya dari kami," tambah Si bando merah sambil memelototkan matanya. "Bagaimana kalau kita tinggal bersama dengan damai. Tidak saling ganggu." Ucapan itu meluncur saja tiba-tiba dari mulutnya. "Itu bukan ide yang buruk," sahut Si keriting. "Yah, kita bisa berteman. Saling bertemu, bercerita dan tertawa bersama." Bie berkata sambil mengulurkan tangannya. Keempat orang itu, makhluk tepatnya, ikut mengulurkan tangan dinginnya. Kemudian mereka tertawa bersama.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN