David tidak akan pernah melupakan kata-kata yang menyakitkan tentang istrinya, yang juga menyakitkan perasaannya. Bagaimanapun, Alana adalah perempuan terhormat dan kini menjadi istrinya. Dia yang menjalani pilihannya dan berhak memutuskan. “Oh, begitu? Mungkin saja Alana punya alasan,” gumam David. Lani tersenyum kecil, lalu dia duduk di sebelah suaminya yang sedang menikmati minuman hangat buatannya. Tampaknya Latif tidak begitu peduli dengan apa yang diucapkan istrinya mengenai menantu mereka. Baru saja Lani hendak melanjutkan pembicaraan, Alana muncul dari pintu dapur. David terkejut, tubuh istri cantiknya itu rapi dengan pakaian sopan. Alana lalu mendekati mertuanya dan mencium punggung tangan kanan mereka dengan hikmad. “Lo, katanya kurang enak badan,” ujar Lani. Dia lalu menyuru

