Bagas sendiri tinggal di sebuah apartemen kecil, tepat di tengah kota, dan jika Nevan sedang bosan di rumah pamannya, dia sering menginap di apartemen Bagas. Pun Bagas, yang kerap menginap di rumah Om Dave. Seperti malam Minggu ini, Bagas menginap di rumah Nevan, seperti biasa dia menghubungi seorang perempuan yang dia sebut pacar. “Jakarta bagian Selatan, Jiao. Kalo yang kamu sebut itu di Jakarta Barat. Rawa Buaya di Jakarta Barat, bukan Jaksel, Sayang. Iya, nanti, ‘kan kita ketemu juga di sana. Aku pulang kok semester ini. Aku lagi di….” Bagas menoleh sebentar ke Nevan yang tengah memperhatikannya dengan wajah sebal, karena Nevan yakin Bagas pasti akan memulai aksi rayuan mautnya. “Aku lagi di café. Club? Nggaklah, Sayang, nggak ada musik keras begini kok dibilang di club.” Nevan meng

