Setelah makan malam, Alana dan kakaknya duduk di teras depan, sambil menunggu papanya pulang dari bekerja. “Om David akan segera melamar kamu dan menikahimu dalam waktu dekat. Dia sudah bilang sama Akang, mumpung Akang masih di sini.” Alana menghela napas panjang, memikirkan hubungan antara dirinya dan David yang pasti akan menemui tantangan di masa depan, mamanya misalnya. “Kok? Bingung?” “Om David itu dulu tunangan mamaku, Kang,” ujar Alana lirih. Asep memegang tangan Alana dengan erat. “Kamu dikelilingi orang-orang yang sayang sama kamu, Lana. Kamu nggak usah khawatirkan masalah itu.” “Mama nggak akan mengizinkan aku.” “Kamu tetap bisa menikah tanpa izin mama kamu.” Alana berusaha tegar, satu sisi dia sudah jatuh cinta kepada David dan memang ingin bersama pria baik itu selamany

